Baznas

Kisah Wali Allah Bergelar Kai Jabuk, Hentikan Kelotok dengan Satu Tepukan Tangan (Bagian 1)

  • Bagikan

ANJIR – Setiap kekasih Allah mendapat anugerah keistimewaan yang kadang tidak lazim. Kalau untuk para Nabi keistimewaan itu disebut mukijizat, sedangkan para Wali Allah biasa disebut karomah.

Sosok Wali Allah yang satu ini mungkin tidak banyak dikenal orang, bahkan oleh warga banua Kalimantan Selatan sekalipun. Dia bergelar Kai Jabuk, dengan nama asli KH Jamhuri (Utuh Jamhuri). Ulama satu ini diyakini masyarakat Anjir Serapat, Kabupaten Batola atau sekitarnya, memiliki makom (kedudukan) sebagai Wali Mastur (Wali Allah yang tersembunyi).

Salah seorang anak angkat kesayangan sekaligus pewaris utama ilmu tasawuf Tuan Guru Zainal Ilmi Dalam Pagar, Martapura ini memiliki kehidupan yang sangat sederhana. Kesehariannya hanyalah seorang petani, tatkala fajar menyingsing dia turun ke sawah, kemudian menjelang senja pulang ke rumah.

Adapun gelar yang diperolehnya dengan sebutan Kai Jabuk bukanlah tanpa sebab. Dalam sebuah perbincangan sederhana dengan muridnya, dia selalu mengatakan dirinya sangat hina. Itu membuktikan ketawadhuan dirinya kepada siapapun, bahkan kepada muridnya sekalipun.

“Dulu ada yang pernah memuji dan menghormati beliau (Kai Jabuk). Lalu beliau menjawab, saya ini bukan siapa-siapa, ibarat kayu hanyalah kayu jabuk (kayu yang sudah lapuk, red). Sejak itulah, beliau disebut Kai Jabuk,” demikian ungkap seorang putra Kai Jabuk, Amang Udin kepada koranbanjar.net, beberapa waktu lalu.

Kebiasaan lain yang dimiliki Kai Jabuk dan patut ditiru adalah kehati-hatiannya dalam menerapkan Sunnah Rasulullah Saw. Sikap yang sangat lembut, menghormati semua orang dan senantiasa bersholawat kepada Rasulullah Saw. Tiap turun dari rumah, bertemu orang lain, bahkan mengerjakan apapun, lidahnya tak pernah lepas mengucap sholawat.

Salah satu pesan yang selalu disampaikannya kepada siapapun, mengingatkan agar senantiasa bersholawat kepada Baginda Rasulullah Saw. “Kalau turun dari rumah, jangan lupa membaca sholawat. Seandainya kita turun dari rumah, kemudian di perjalanan mendapat musibah hingga meninggal dunia, keluarga, harta dan apapun yang didunia pasti ditinggal. Yang pasti dibawa adalah amal ibadah mengucap sholawat saat turun dari rumah tadi,” ungkap Amang Udin menirukan pesan Kai Jabuk.

Keistimewaan lain yang dimiliki Kai Jabuk selama hidup, tidak pernah menunjukkan jati dirinya sebagai seorang ulama atau seorang yang berilmu. Kesehariannya selalu ditutup dengan pakaian yang apa adanya. Terkadang hanya mengenakan celana berkain bekas karung tepung dan kaos oblong berwarna putih. Tak heran, banyak orang yang menduga, dia hanya seorang kakek biasa yang sudah tua dan renta.

Satu hari, Kai Jabuk bermaksud ingin berpergian ke acara hajatan yang tidak jauh dari rumahnya. Kala itu, transportasi yang bisa digunakan hanya transportasi air, seperti kelotok atau jukung. Kebetulan rumahnya berada di tepi Sungai Kapuas, Anjir Serapat.

Pakaiannya yang sangat biasa, sempat mengecoh pandangan pengemudi kelotok. Waktu itu, Kai Jabuk mencoba melambaikan tangan, memanggil kelotok dengan maksud ingin menumpang. Akan tetapi, pengemudi kelotok menengok ke samping, namun seolah tidak mendengar, hingga tetap melaju mengemudikan kelotoknya.

Nah, sewaktu kelotok melaju, Kai Jabuk yang tadinya hanya melambaikan tangan, kemudian menepuk tangan satu kali. Seketika itu, kelotok tadi terhenti di tengah sungai dengan suara mesin yang juga terhenti. Setelah Kai Jabuk menepukkan tangannya sekali lagi, barulah mesin kelotok hidup kembali dan berbalik arah menjemput dirinya.(sir/bersambung)

Baca Selengkapnya:

  • Bagikan