oleh

Haul ke 10 Wali Allah, Kai Jabuk (3-Habis); Inilah Karomah Yang Semula Disembunyikan

SEORANG ulama, terlebih Wali Allah merupakan pewaris nabi. Tidak heran, para kekasih Allah, mulai para rasul, nabi, sahabat hingga wali Allah mendapat keistimewaan dari Allah subhanahuwataa’ala. Tidak terkecuali bagi Tuan Guru Utuh Jamhuri yang bergerar Kai Jabuk atau Kai Nagara, yang wafat di usia ke 125 tahun. Banyak karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepadanya, namun selama ini telah disembunyikan.

DENNY SETIAWAN, Anjir Serapat

“Suatu ketika ada seseorang yang sedang mengemudikan kapal di Sungai Kapuas dengan sejumlah penumpang. Di tengah sungai tiba-tiba kapal itu terhenti, kemudian seolah “bahantak” (mau tenggelam). Kemudian pengemudi kapal itu kebetulan teringat dengan sosok abah (Kai Jabuk), lalu bertawassul (membacakan surah Al Fatihah yang dihadiahkan) kepada Nabi dan beliau,” kisah Tuan Guru H Jamali saat membacakan manaqib Kai Jabuk.

Setelah itu, lanjutnya, entah dari mana munculnya, tiba-tiba datang Kai Jabuk di tengah sungai dengan menggunakan perahu kecil. Kemudian mendorong kapal itu ke tepi sungai, hingga kapal beserta penumpangnya terselamatkan.

Di kesempatan lain, pengemudi kapal tadi berkunjung ke rumah Kai Jabuk di Anjir Serapat Batola Km16, kemudian mengucapkan terima kasih dan menceritakan kejadian tersebut. “Waktu itu, abah (Kai Jabuk) hanya diam seolah mengingat-ingat kejadian. Menurut pengakuan beliau, tidak pernah menyelamatkan kapal yang mau tenggelam,” ucap dia.

Kisah lain dari keturunan Kai Jabuk juga menyebutkan, suatu ketika Kai Jabuk bermaksud ingin menumpang sebuah klotok (perahu mesin). Kebetulan rumahnya berada di tepi sungai. Berulangkali dia memanggil pengemudi klotok tersebut, namun tidak diindahkan, bahkan berlalu begitu saja di hadapannya. Kemudian Kai Jabuk menepukkan tangannya, seketika klotok tadi terhenti, pengemudinya pun agak kebingungan. Setelah menoleh posisi Kai Jabuk, baru dia menyadari ada sesuatu yang keliru sehingga klotoknya terhenti.

Kemudian Kai Jabuk kembali menepukkan tangan, sambil melambaikan tangan. Barulah pengemudi klotok tadi bisa kembali melaju dan memutarbalikkan klotok untuk menjemput Kai Jabuk.

Kelebihan lainnya yang dimiliki Kai Jabuk, beliau buta hurup dan selalu mengaku bukan tuan guru, melainkan petani biasa. Karena tidak bisa menulis dan membaca, sehingga dia hanya mengandalkan ingatan untuk merekam ilmu yang disampaikan guru-gurunya.

“Ingatan abah sangat tajam. Cukup guru beliau membacakan doa sebanyak dua hingga tiga kali, maka doa tersebut langsung hapal. Karena beliau tidak bisa membaca dan menulis,” kenangnya.

Adapun akhlak yang biasa dilakukan Kai Jabuk semasa hidup, menurut Tuan Guru Jamali, dia sering memerintahkan ketaatan kepada orangtua, kemudian kasih sayang kepada anak-anak.

Baca Juga: Kisah Tiga Sekawan Spesialis Pembaca Alquran di Kuburan

“Apabila mau bepergian jauh, abah mencium tangan dan minta doakan serta meminta maaf kepada mama. Beliau juga sering mengingatkan agar jangan takut ketiadaan rezeki dari Allah dan jangan takut menghadapi hidup. Karena ujar beliau ulat dalam batu aja memiliki rezeki dari Allah,” ujarnya.

Selain itu, Kai Jabuk terkenal sangat rendah hati dan tawadhu. “Beliau tidak pernah mengaku alim, kata beliau ada orang yang alim karena ilmu kitab, tapi adapula yang alim karena ilmu kicap,” katanya. (*)

Baca Sebelumnya:

Komentar

Berita Terkini