Berita UtamaFeatures

Kisah Puluhan Siswa Loksado Berjuang Menumpang UNBK

LOKSADO, KORANBANJAR.NET – Sudah tiga tahun berturut-turut siswa SMKN 1 Loksado melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di sekolah lain.

Laporan Junalis KoranBanjar.Net, Muhammad Hidayat, Loksado – HSS

Bukan karena tak punya komputer dan server, tetapi ketiadan jaringan internet yang menjadi kendala utama UNBK di sekolah yang berada di antara perbatasan Desa Panggungan dengan Desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan (HSS) itu hingga kini.

Hal itu membuat puluhan siswanya yang menjadi peserta UNBK tahun ini harus bersusah payah berangkat dari rumahnya dengan menelusuri jalan pengunungan menuju SMAN 2 Kandangan di Kota Kandangan, sekolah yang menjadi tumpangan UNBK mereka, yang berjarak 15 kilometer lebih.

Bahkan, agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan, menurut Kepala SMKN 1 Loksado, Arin Ika Puspita Ningsih, pihaknya harus mengimbau kepada para siswanya yang melaksanakan UNBK di SMAN 2 Kandangan pada 25 sampai 28 lalu, agar menginap sehari sebelum ujian dimulai di tempat siswa kelas 11 SMKN 1 Loksado yang sedang magang di Kota Kandangan.

“Itupun ada saja satu siswa yang nekat tidak mau menginap dengan alasan yang tidak diketahui. Rumahnya di Tanuhi, Desa Hulu Banyu. Saya tidak tahu apakah dia memang tidak ada tempat menginap atau tidak diizinkan orang tuanya menginap. Jadi dia berangkat dari rumah pukul setengah enam pagi karena sesi pertama ujian dimulai pukul setengah delapan,” cerita Arin saat ditemui koranbanjar.net di sekolahnya, Kamis (4/4/2019).

Kepala SMKN 1 Loksado, Arin Ika Puspita Ningsih. (foto: yat/koranbanjar.net)

Diakui Arin, untuk kendala tidak tersedianya jaringan internet di sekolahnya, sejak tahun 2016 pihaknya telah menyampaikannya ke beberapa pihak terkait.

“Namun katanya sudah dicek lewat satelit tapi biar ditembak dari manapun tetap tidak bisa,” ujarnya.

Hal itu, kata Arin, karena lokasi SMKN 1 Loksado memang berada di lembah yang ditutupi pegunungan setinggi 200 hingga 400an meter. “Jadinya lokasi kita berada pada blindspot meskipun memakai BTS terdekat apapun tetap tidak bisa tembus,” tuturnya.

Mungkin saja kendala tersebut bisa diatasi dengan menggunakan jaringan internet melalui satelit, namun dengan biaya ratusan juta rupiah ditambah biaya sewa alat Rp 8 juta per bulan, ditambah lagi biaya kuota, SMKN 1 Loksado tentu tak sanggup membayarnya.

Arin mengungkapkan, hinggaa saat ini SMKN 1 Loksado masih menunggu peluncuran  program satelit Indonesia dari pemerintah pusat. Sebab, menurutnya, hanya itu satu-satunya cara agar SMKN 1 Loksado bisa mandiri UNBK.

“Jadi sementara menunggu program itu biarlah kita sementara menumpang UNBK dulu di sekolah lain,” pungkasnya.

Cerita perjuangan puluhan siswa SMKN 1 Loksado yang menumpang UNBK ke sekolah lain ini hanyalah salah satu potret dari beberapa sekolah di Kalsel yang belum mampu melaksanakan UNBK secara mandiri di tengah rencana pemerintah yang menghendaki Kalsel mandiri UNBK 2020 mendatang. (yat/dny)

Tags

Tinggalkan Balasan

Close