Kisah Hikmah (15); Ketika Guru Sekumpul Sekolah di Darussalam, Hanya Punya Satu Sarung yang Dipakai

  • Bagikan
Guru Sekumpul masih kecil, remaja dan menjadi tokoh ulama kharismatik di Kalimantan Selatan. (foto: dok)
Guru Sekumpul masih kecil, remaja dan menjadi tokoh ulama kharismatik di Kalimantan Selatan. (foto: dok)

Perjalanan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul, selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, Kalimantan Selatan, sungguh sangat mengharukan. Guru Sekumpul dulu hanya berasal dari keluarga yang miskin, bahkan saat masih kecil, dia hanya memiliki satu sarung yang dapat dipakai untuk sekolah.

MARTAPURA, koranbanjar.net – Kisah perjalanan semasa kecil sekolah di Ponpes Darussalam ini pernah diceritakan langsung oleh Guru Sekumpul dalam pengajian rutin di Komplek Ar Raudhah Sekumpul. Kemudian kisah tersebut beredar di kalangan masyarakat Kota Martapura khususnya hingga sekarang.

Guru Sekumpul dalam pengajian rutin mengisahkan, semasa kecil, sebelum memutuskan masuk sekolah ke Ponpes Darussalam, dia juga sempat diajari oleh ayah kandungnya, Syekh Abdul Ghani untuk bekerja.

Syekh Muhammad Zaini Ingin Sekolah

Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (sewaktu muda) dan Tuan Guru Semman Mulia. (foto: dok)
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (sewaktu muda) dan Tuan Guru Semman Mulia. (foto: dok)

Namun tidak berlangsung lama, Tuan Guru Semman Mulia yang tidak lain pamannya sendiri, datang dari Makkah, kemudian menemui ibu kandung Syekh Muhammad Zaini yang bernama Hj Masliah. Lalu menanyakan pekerjaan yang dilakukan Syekh Abdul Ghani kecil. Kemudian Hj Masliah menjawab, “separuh waktu belajar bekerja, dan separuh waktu lagi sekolah.”

BACA JUGA ; 3 Amalan Ramadhan Guru Sekumpul (VIDEO)

Kemudian Tuan Guru Semman Mulia memberikan perumpamaan, bahwa botol yang berisi garam itu pada bagian atas kecil, kemudian bagian tengah dan bawah besar. Jadi, garam tidak bisa dimasukkan ke dalam botol dengan jumlah yang banyak, melainkan sedikit demi sedikit.

“Kananak ini (Syekh Muhammad Zaini kecil), kada sanggup dunia dan akherat dikumpulkan seharian semalaman, lucung…bahasa wayahini lucung,” ungkap Guru Sekumpul menirukan ucapan Tuan Guru Semman Mulia kala itu.

Tuan Guru Semman Mulia memberikan pertimbangan agar menanyakan keinginan Syekh Muhammad Zaini kecil, agar memilih salah satu keinginan, apakah berdagang atau hanya sekolah.

Kala itu, Tuan Guru Semman Mulia menyarankan Syekh Abdul Ghani atau istrinya langsung menanyakan kepada Syekh Muhammad Zaini kecil. Namun, baik Syekh Abdul Ghani maupun istrinya tidak ingin menanyakan secara langsung, karena khawatir Syekh Muhammad Zaini tidak dapat memenuhi keinginan kedua orang tuanya, sehingga durhaka.

BACA JUGA ; Guru Sekumpul dan Guru Zuhdi; di Antara Kemuliaan Shalawat Atas Rasulullah

Namun akhirnya, pertanyaan itu disampaikan nenek dari Syekh Muhammad Zaini kecil yang bernama Salbiah. “Arwah nini (nenek) betakun, ikam cu…handak sekolah kah atau begawi?” kenang Guru Sekumpul.

Lalu Syekh Muhammad Zaini menjawab, hanya ingin sekolah. Kemudian Syekh Abdul Ghani menyampaikan, kalau memang ingin sekolah, keadaan kita seperti ini adanya, sarung untuk sekolah yang dimiliki hanya satu lembar.

“Duduk di depan pintu, kalau sarung ditiup angin, tersibak sarung, karena tidak memakai celana. Sampai kawan bersuara yang di samping, siapa yang kawin dengan Ijai (Guru Sekumpul) sangat beruntung. Aku malu aja, cuman memang kada punya, orang lain memakai celana, aku kada kawa (tidak bisa),” ungkapnya dengan nada guyon.

Apabila masuk ke dalam kelas, kenang Guru Sekumpul, teman-temannya sering menutup hidung, karena pakaiannya bau. Tetapi karena memang bau, dirinya tidak marah. Baju yang dimiliki cuma satu lembar di badan, tidak disertai baju kaos di bagian dalam sebagai pelapis. Sehingga tatkala ketiak berkeringat, menebarkan aroma yang tidak sedap.

Sekolah Hanya Minum Air Putih

Bukan cuma itu, kisahnya, Syekh Muhammad Zaini kecil semasa sekolah tidak pernah duduk di warung, karena tidak mempunyai uang. “Jadi di rumah minum air putih hangat lalu berangkat ke sekolah, kemudian jam 10.00 WITA saat istirahat pulang lagi ke rumah minum air putih, setelah itu pukul 12 siang singgah ke masjid. Pulang ke rumah, lanjut dia, ayahnya Syekh Abdul Ghani datang ke rumah membawa satu bungkus nasi kuning. “Seperempat nasi untuk ayah, seperempat untuk uma (ibu), seperempat untuk aku, seperempat untuk umanya Haji Ahmad (saudara Syekh Muhammad Zaini), itu aja siang. Sisanya minum aja, puluhan tahun seperti itu,” katanya.

Sengaja Tidak Dinaikkan Kelas

Guru Sekumpul bersama Tuan Guru Salman Jalil. (foto: dok)
Guru Sekumpul bersama Tuan Guru Salman Jalil. (foto: dok)

Cerita lain juga disampaikan Syekh Muhammad Zaini, dia mengetahui perbincangan gurunya Tuan Guru Salman Jalil dan Tuan Guru Semman Mulia, yang menyatakan, “tidak ada riwayat orang kaya itu alim, yang biasa itu orang alim itu susah,” katanya.

Dikatakan, usia 7 tahun dia sekolah agama di kampung selama 2 tahun, kemudian masuk sekolah di Ponpes Darussalam pada tingkatan Ibtidaiyah selama 6 tahun. Berikutnya naik ke Tsnawaiyah kelas 1, begitu mau naik ke kelas 2, ujar Tuan Guru Semman Mulia kepada Tuan Guru Salman Jalil, “jangan dinaikkan ke kelas dua, alasannya belum hapal alfiah.”

BACA JUGA; Daftar Ulama Tanah Banjar, Guru Sekumpul adalah Wali Kutub

Rupanya Tuan Guru Semman Mulia kasihan dengan Syekh Muhammad Zaini, sehingga mendoakan setiap malam saat Sholat Tahajjud. “Nah sejak itulah, Allah Taala membukakan aku, Allah Taala Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak ada lagi terlindung di langit maupun di bumi dan isi keduanya, seakan-akan aku melihat dan mengetahui, seakan-akan, berkat Guru Semman,” pungkas Guru Sekumpul.(sir)

 

NEWS STORY
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *