BNN

Tuan Guru Zainal Ilmi Turut Dirikan Madrasah Al Falah di Karang Intan, Kini Jadi Madrasah Tertua

  • Bagikan
Madrasah Al Falah Karang Intan dan foto insert Tuan Guru Zainal Ilmi Dalam Pagar Martapura. (foto: dok)
Madrasah Al Falah Karang Intan dan foto insert Tuan Guru Zainal Ilmi Dalam Pagar Martapura. (foto: dok)

Ulama besar asal Kampung Dalam Pagar, Tuan Guru Zainal Ilmi ternyata telah memiliki peninggalan bersejarah yang masih dinikmati masyarakat Desa Lihung, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar sampai sekarang. Apa itu? Sebuah Madrasah Ibdtidaiyah Al Falah di Desa Lihung RT 2 yang kini menjadi madrasah tertua se Kecamatan Karang Intan.

KARANG INTAN, koranbanjar – Mungkin tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa, ulama besar Tuan Guru Zainal Ilmi ternyata turut andil mendirikan Madarasah Al Falah pada 17 Agustus 1932.

Sejarah pendirian Madrasah Al Falah telah diuraikan Kepala Sekolah-nya, Guru Mahmud Zuhdi kepada koranbanjar.net, pada Minggu, (16/5/2021).

Guru Mahmud Zuhdi mengklaim Madrasah Al Falah menjadi madrasah yang tertua di Kecamatan Karang Intan. Karena saat dibangun pada tahun 1932 madrasah satu-satunya di Kecamatan Karang Intan cuma Madrasah Al Falah.

“Madrasah Al Falah itu dibangun oleh Tuan Guru Zainal Ilmi diikuti orang tua saya (murid Tuan Guru Zainal Ilmi yakni, Tuan Guru Abdul Wahab), pada tahun 1932. Tetapi beliau (Tuan Guru Zainal Ilmi) tidak ikut mengajar, hanya ikut mendirikan,” kata Guru Mahmud Zuhdi.

Makanya, ujar Guru Zuhdi, kurikulum pelajaran di Madrasah Al Falah 100 persen mengikuti kurikulum seperti di Ponpes Darussalam. Hanya saja, Madrasah Al Falah hanya memiliki tingkatan ibtidaiyah dari kelas I sampai kelas VI.

BACA:  Maraknya Pelansir, Langkanya Premium, PIK Desak Dewan Panggil Pertamina

“Santri yang lulus dari Madrasah Al Falah, kalau masuk Darussalam langsung duduk di Kelas 1 Tsanawiyah. Karena pendidikan di Madrasah Al Falah sama dengan pendidikan Ibtidaiyah di Ponpes Darussalam,” ujarnya.

Lebih detil diceritakan, pembangunan Madrasah Al Falah berlangsung di zaman penjajahan Belanda, sehingga waktu itu bangunan sekolah sempat digunakan untuk gudang ikan, untuk menghindari pengawasan Belanda. Sementara jadi gudang ikan, para santri belajar mengungsi ke dalam hutan. Santri yang belajar di madrasah masa itu pun terbilang banyak, bahkan mencapai 200 santri.

“Dahulu itu, semua anak-anak se Kecamatan Karang Intan sekolahnya ke Madrasah Al Falah. Ada yang dari Riam (Aranio), Pandak Daun, Karang Intan, Sungai Arfat, Lok Tangga, pokoknya se Kecamatan Karang Intan sekolah di sana. Makanya, Madrasah Al Falah adalah madrasah yang tertua di Karang Intan,” ujarnya.

Meski dibangun sudah cukup lama, sambungnya, bahan bangunan Madrasah Al Falah terdiri dari beton dan batu, hanya lantainya yang berbahankan kayu. Bahkan sejak dahulu sudah dibangun dua lantai.

Awalnya, jelas Guru Zuhdi, Madrasah Al Falah dipimpin oleh ayahnya sendiri yakni, Tuan Guru Abdul Wahab seusai lulus dari Ponpes Darussalam. Setelah wafat, Kepala Madrasah Al Falah mengalami pergantian kepala beberapa kali, sampai kepada dirinya menjabat sebagai Kepala Madrasah Al Falah sejak tahun 1975 hingga sekarang.

BACA:  Kabupaten HSU akan Miliki Showroom Kerajinan

Kini, imbuhnya, Madrasah Al Falah hanya memiliki santri sekitar 100 orang, dan 8 pengajar termasuk dirinya, karena sudah banyak madrasah yang berdiri di wilayah Kecamatan Karang Intan. Sedangkan jam sekolah dimulai pukul 14.00 WITA sampai 17.00 WITA. “Kalau pagi kan anak-anak masuk SD, siang menjelang sore barulah sekolah madrasah,” katanya.

Madrasah Al Falah beroperasi hanya mengandalkan iuran SPP anak-anak santri sebesar Rp25.000 per bulan/ per orang, tanpa bantuan pemerintah. Tidaklah mengherankan, honor para pengajar terbilang sangat kecil mulai dari Rp250.000 hingga Rp400.000 / per bulan.

“Tahun 1978 honor saya hanya Rp25.000 per bulan, tahun 1995 naik menjadi Rp50.000 per bulan, kemudian tahun 2000 sebesar Rp100.000 per bulan dan sekarang Rp400.000 per bulan. Sedangkan honor tenaga pengajar sekarang cuma Rp250.000 per bulan. Ya harus bagaimana, sukarela aja. Selain mengajar, kami juga sambil bahuma (bertani), ada pula sebagian kerja yang lain,” terangnya.(sir)

 

 

(Visited 9 times, 1 visits today)
  • Bagikan

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *