Cerita Pasar Pagi dan Perseteruan Antar Preman Banjarmasin

  • Bagikan
Pasar Pagi Banjarmasin dan foto insert warga keturunan. (foto:ist)
Pasar Pagi Banjarmasin dan foto insert warga keturunan. (foto:ist)

Dalam tulisan sebelumnya telah diungkap secara singkat tentang Pasar Pagi yang dulu terkenal menjadi “sarang” preman di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ada yang bilang, keangkeran Pasar Pagi tidak seseram yang diceritakan, namun adapula yang mengisahkan Pasar Pagi memang menjadi tempat terkumpulnya para preman Banjarmasin yang terus menjadi cerita turun temurun. Seperti apa sesunggunya, simak tulisan ini.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Bagi masyarakat Kota Banjarmasin khususnya, nama Pasar Pagi mengingatkan sejumlah nama tokoh preman berpengaruh di tahun 90-an. Keributan, tindak kriminal di Kota Banjarmasin kerap dikaitkan dengan kawasan Pasar Pagi.

Salah satu penduduk asli yang pernah tinggal di sana selama kurang lebih 35 tahun, Okksan kepada koranbanjar.net, Minggu sore (16/5/2021) menyatakan, kehidupan hitam di Pasar Pagi memang benar adanya.

Meski demikian, penduduk asli setempat tidak pernah mendapatkan gangguan para preman yang selama ini dikenal menakutkan. Akan tetapi tak bisa dipungkiri, masa itu, hampir setiap hari selalu terjadi perkelahian, mabuk-mabukan minuman keras hingga perjudian dan tindak kriminal lainnya.

“Selama kami tinggal di sana sampai keluar dari pasar tersebut, tidak ada satupun dari mereka yang menggangu kami, bukannya mereka tak berani, mereka senang berkelahi, bisa dikatakan jagoan dan dikenal masyarakat Kalsel, tetapi karena mereka tidak ingin menyakiti kami sebagai warga biasa,” tutur warga keturunan ini saat ditemui di tempat kerjanya di Mantuil Banjarmasin.

Barangkali sambung Okksan, mereka lebih dikenal di luar Pasar Pagi atas perilaku dan karakter yang mereka miliki masing-masing.

Menurutnya, para preman di zaman itu kerap membuat keributan di luar Pasar Pagi, namun tak pernah membuat onar di wilayah mereka sendiri yang notabene dihuni mayoritas orang-orang keturunan Cina yang turun temurun menetap di sana.

Kisah Perkelahian Antar Preman

Kepada koranbanjar.net, Okksan mengaku sangat mengenal para preman Pasar Pagi, di antara, 3 bersaudara, Nata, Gasah dan Yanoor. Lainnya, Suri Kingkong dan Yadi Dayak.

Pernah suatu ketika terjadi perkelahian antara Gasah dengan Yadi Dayak hanya karena masalah sepele, Yadi Dayak ditegur Gasah dibarengi tamparan yang akhirnya membuat Yadi tidak terima lalu mengambil sebilah golok berniat membalas perlakuan Gasah terhadap dirinya.

Peristiwa yang dikisahkan Okksan ini terjadi sekitar 25 tahun silam. Di masa itu, Gasah diberikan kepercayaan menjaga keamanan di kawasan Mitra Plaza dan Gren Diskotik.

Akibatnya, bagi yang ingin masuk ke diskotik untuk mencari hiburan asalkan penduduk atau berempat tinggal di Pasar Pagi tidak dipungut biaya masuk alias gratis.

Hal itu dimanfaatkan Yadi Dayak untuk memperoleh keuntungan. Yadi menurut cerita, adalah teman akrab sekaligus masuk dalam komplotan Gasah. Bahkan Yadi Dayak yang berasal dari Kapuas Kalimantan Tengah bersama saudaranya Iis Dayak pernah ditampung, dan ikut makan, minum di rumah Gasah.

Lanjut Okksan, usai mengambil sebilah parang, Yadi mencari Gasah berniat melakukan perhitungan, alhasil beberapa kali dicari namun tidak ketemu.

“Tiba – tiba pada waktu itu, Gasah pulang ke rumah entah darimana diantar ojek, saat itu pula Yadi Dayak melihat Gasah seketika mengayunkan goloknya, kontan saja Gasah kaget langsung menangkis sabetan golok Yadi dengan tangan kosong, akhirnya kalau tidak salah 3 atau 4 jari tangan Gasah putus,” ceritanya.

Usai berhasil melukai lawannya, Yadi melarikan diri, tetapi berhasil ditangkap polisi kemudian mendekam di penjara Lapas Teluk Dalam.

Tak disangka, Gasah pun terjerat kasus Narkoba berakhir di jeruji besi di Lapas yang sama dan bertemu Yadi Dayak.

“Di sanalah mereka bertemu dan dendam lama terwujud, duel lah mereka bedua, akhirnya Yadi dipindah ke Lapas Amuntai,” tutur Okksan lagi.

Tidak puas rupanya, ketika sama – sama bebas dari penjara, Gasah kembali membuat perhitungan dengan Yadi. Gasah mencari Yadi Dayak sampai ketemu. Namun keduanya tak kunjung bertemu.

“Sebagai pelampiasan, kaka Yadi Dayak, bernama Iis Dayak akhirnya yang menjadi sasaran, namun lagi-lagi Tuhan juga tidak mempertemukan Gasah dengan Iis,” ucapnya.

Malah, nasib apes bagi Gasah, kedapatan polisi saat itu sedang patroli melihat Gasah membawa sebilah parang di waktu ia memburu Iis. Tetapi Gasah bergegas membuang senjata tajam yang ada di tangannya ke sungai.

Okksan yang mengaku rumahnya kala itu tempat berkumpul para preman tersebut, sebab di dalam rumahnya ada permainan karambol. “Makanya saya tahu betul kisah kehidupan mereka,” akunya.

Lain lagi dengan Suri Kingkong, di antara Gasah dengan dirinya kerap saling menonjolkan kejagoan masing-masing. Suri menguasai kawasan Pasar Hanyar atau kawasan Pasar Antasari. Sedangkan Gasah menguasai kawasan Pasar Pagi, Mitra Plaza.

“Keduanya pernah saling singgung, namun tidak sampai terjadi perkelahian, sebab rumah keduanya berdekatan,” katanya.

“Saya pun tidak enak, kalau Gasah, Nata berada lebih dulu di rumah saya, Suri tidak datang, begitu pula sebaliknya, sebab dikira saya mendukung salah satu padahal tidak, mereka semua baik dengan saya,” kenangnya.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *