Sekilas Riwayat Kyai Gede, Penyebar Islam di Kotawaringin Hulu, Memindah Masjid Sendirian

  • Bagikan
Makam Kyai Gede atau Habib Abdul Qadir Assegaf di Kotawaringin Hulu, Kalimantan Tengah. (foto: yanda)
Makam Kyai Gede atau Habib Abdul Qadir Assegaf di Kotawaringin Hulu, Kalimantan Tengah. (foto: yanda)

Kyai Gede memiliki nama asli Habib Abdul Qodir Asseggaf. Dia merupakan penyebar agama Islam di Kotawaringin Hulu, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Tokoh ulama yang satu ini berasal dari Demak, kemudian hijrah ke Gresik, Jawa Timur, berikutnya ke Banjarmasin hingga ke Kotawaringin Hulu.

KALTENG, koranbanjar.net – Di masa Kerajaan Banjar, pemerintahan Pangeran Suriansyah, Kyai Gede sempat bermukim di Kota Banjarmasin. Oleh Pangeran Suriansyah, Kyai Gede diminta untuk hijrah ke Kotawaringin Hulu untuk menyebarkan Islam, hingga bermukim dan Bermakam di Kutaringin.

Menapaki tempat wisata religi di Pulau Borneo, salah satunya adalah makam Kyai Gede yang terletak di Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

Kyai Gede berasal dari Demak, hijrah sampai ke Kotawaringin Hulu tanpa membawa serta istri. Istrinya bermakam di Gresik, Jawa Timur.

Warga Kota Pangkanlan Bun, Fahrian menceritakan sekilas sejarah Kyai Gede. Menurutnya, Habib Abdul Qadir Assegaf diberi gelar Kyai Gede, karena memiliki tubuh yang sangat besar. “Masjid Jami yang ada di area perkampungan ini didirikam Kyai Gede,” ucapnya.

Konon, lanjut dia, letak Masjid Jami pertama kali dibangun berada di Pedalaman Kalimantan, kemudian dipindah ke Kotawaringin Hulu sendirian,” imbuhnya.

Masjid Jami yang dibangun Kyai Gede di Kotawaringin Hulu, Kalimantan Tengah. (foto: yanda)
Masjid Jami yang dibangun Kyai Gede di Kotawaringin Hulu, Kalimantan Tengah. (foto: yanda)

Di area pemakaman juga berdiri sebuah Astana Al Noorsari, gedung berisi situs bersejarah peninggalan kerajaan zaman dahulu. Beberapa makam yang terlihat di sana semua beurukaran normal, hanya makam Kyai Gede yang berukuran sangat besar.

Saat pemakaman, sebelum dimasukkan ke dalam kubur, tubuh Kyai Gede dilipat menjadi 3 agar cukup untuk dimasukkan. “Menurut cerita, ukuran tubuh Kyai Gede dada sebesar 7 depa,” tuturnya.

Sepeninggal Kyai Gede, masyarakat di Kotawaringin Hulu banyak yang beragama Islam, konstruksi masjid pun masih asli dengan kayu ulin yang terlihat masih kokoh dengan ukiran zaman dahulu.(myr/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *