WALHI: Aksi Akbar #SaveMeratus Tidak Ditunggangi Politik

oleh -68 views
WALHI: Aksi Akbar #SaveMeratus Tidak Ditunggangi Politik
Penampilan tari Babangsai dari warga adat Hulu Sungai Tengah, saat Aksi Akbar #SaveMeratus di Lapangan Dwi Warna Barabai, HST, Senin (23/9/2019) (foto:hidayat/koranbanjar.net)

BARABAI, koranbanjar.net – Momentum KTT PBB climate strike atau perubahan iklim serta hari tani nasional, merupakan faktor penentuan waktu terselenggaranya aksi akbar #SaveMeratus di Barabai, Senin (23/9/2019) pagi. Sehingga bukan maksud dalam menjelang Pilkada.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif WALHI Kalsel Kisworo Dwi Cahyono selaku penanggung jawab acara, usai aksi yang berakhir tengah hari tersebut.

“Jadi para presiden lagi ngumpul di Amerika sana, dan besok (Selasa) hari tani nasional, maka kita ambil tengah-tengah supaya aksi yang dilakukan di sini bisa sampai ke para pemimpin negara yang sedang berkumpul itu,” ungkapnya kepada wartawan.

Baca juga: Soal Save Meratus, Yazid Fahmi Suruh Massa Demo Bersama Paman Birin

 

Hari tani dikatakannya penting, sebab selama ini dari data Walhi Kalsel 50 persen dibebani tambang dan sawit.

“Yang tersisa hanya di Meratus yang ada izin tambangnya, makanya kita gugat, kita masih kalah, sedang kasasi dan proses masih panjang. Untuk itu momentum ini kita mengingatkan kembali agar tidak kendor perjuangan kita,” paparnya.

Dalam aksi, ujarnya disampaikan langkah nyata untuk penanggulangan bencana, penyelamatan rakyat, meminimalisir bahkan menanggulangi perubahan iklim.

Bentuk aksi berupa orasi, teatrikal, seni, puisi, deklarasi dan pernyataan sikap. Izin keamanan pun diungkapkannya sampai sore, tetapi karena panas serta masyarakat adat memilih pulang lebih awal karena persiapkan acara adat di kampungnya, sehingga ada yang tidak sempat menampilkan pertunjukannya.

Dalam aksi tadi, semua orang diundang. Anggota DPRD HST juga hadir karena menurutnya itu undangan umum.

“Karena kecerdasan mereka kalau hadir. ASN juga akhirnya didesak hadir, yang tidak pun tidak masalah, siapa yang mau tetap bertahan di sini, tidak ada paksaan,” terangnya.

 

Baca juga: Merasa Ditunggangi Politik, Massa Mahasiswa Walkout Dari Aksi Akbar #SaveMeratus

 

Saat itu mahasiswa memilih walkout dari aksi, karena merasa tidak senang dengan orasi Anggota DPRD HST. Kisworo menerangkan, mempersilakan siapapun mau melakukan deklarasi.

“Lagi pula sudah ditegaskan kan dia datang bukan sebagai anggota dewan, dan hak beliau sebagai orang Barabai yang kebetulan jadi anggota DPRD, jadi jangan terjebak dengan itu,” tuturnya.

Anggota DPRD HST Yazid Fahmi menekankan hadir di acara tersebut atas inisiatif pribadi masing-masing, sedangkan anggota lain berhalangan, karena sedang melakukan konsultasi dengan kementerian mengenai proses APBD.

“Perlu dicamkan, yang pastinya 3 orang (anggota dewan) di sini tidak akan mencalonkan diri jadi Bupati, karena saya orang HST tidak ingin sebuah komitmen bersama menjadi alat politik,” tegasnya disambut teriak massa, mengingat tahun depan ada kegiatan besar Pilkada.

Ia juga mempertanyakan komitmen masyarakat secara umum. Sebab di medsos luar biasa dukungan #savemeratus, tapi hanya segelintir orang yang berani hadir di acara tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Muhammad Yani mengatakan, kebetulan jajaran pemerintah daerah saat itu semuanya sedang ada acara penting yang tidak bisa ditinggalkan.

“Saya sendiri sebenarnya juga ada kesibukan, tetapi memilih hadir di sini. Karena pak Sekda paham saja kalau mengenai ini,” ujar Yani, ia merupakan satu-satunya Kepala Dinas yang hadir dalam aksi hingga selesai.

Massa mahasiswa yang membubarkan diri, salah satunya menginginkan langkah nyata pimpinan daerah setempat dengan menghadiri aksi secara langsung. Yani menegaskan sejak dahulu Pemkab HST selalu komitmen dan langkah nyatanya produk hukum melalui RPJP melindungi Meratus dari pertambangan.

“Kalau tidak mendukung, ngapain kita dari dulu selalu melakukan upaya,” tutupnya. (yat/dra)

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan