Syekh Kasyful Anwar, Ulama Banjar yang Mencetak Ulama Besar

  • Bagikan

Syekh Kasyful Anwar merupakan salah seorang ulama Banjar yang mencetak ulama-ulama besar lainnya di Kalimantan Selatan. Dialah peletak pondasi pendidikan formal pada Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Kalimantan Selatan. Setelahnya muncul ulama seperti KH. Sya’rani Arif, KH Syarwani Abdan Bangil, KH Seman Mulia hingga Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul.

MARTAPURA, koranbanjar.net – Syekh Kasyful Anwar lahir di Martapura, 28 Maret 1887 dan meninggal di Martapura, 17 November 1940 di usia 53 tahun. Syekh Kasyful Anwat adalah ulama asal Martapura yang dilahirkan pada permulaan abad ke-20.

Ia dikenal sebagai peletak dasar dibentuknya sistem pendidikan formal Pondok Pesantren Darussalam Martapura yang semula berbentuk majelis taklim.

Baca Juga

Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari; Memadamkan Kebakaran Dengan Menyiram Jalan

Syekh Kasyful Anwar dilahirkan pada malam Selasa, 4 Rajab 1304 H atau bertepatan 28 Maret 1887 di Kampung Melayu Martapura.

Adapun pendidikannya, antara lain, mengaji dengan para alim ulama, seperti H. Ismail (ayahnya) dan Syekh Abdullah Khotib (buyut dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari). Pada tahun 1313 H ia berangkat ke kota Makkah Al Mukarramah untuk mengaji ilmu agama hingga tahun 1330 H. Karena kepandaiannya ia sempat dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram selama 3 tahun.

Beberapa guru-gurunya di Makkah adalah Habib Ahmad bin Hasan, Syech Umar Hamdan, Syech Muhammad Yahya bin Muhammad Abu Liman, Syech Muhammad Ali bin Husin bin Ibrohim Al-Maliki, Syech Muhammad bin Abu Bakar Ba Junaid, Syech Sayyid Ahmad bin Abu Bakar bin Muhammad Syattho, Syech Muhammad bin Muhammad Ba Fadhol, Syech Muhammad Ahyad bin Idris Al-Bogori, Syech Muhammad Said Yamani, KH. Muhammad Falaq dan lain-lain.

Syekh Kasyful Anwar dikenal sebagai peletak dasar sistem pendidikan formal Pondok Pesantren Darussalam dari semula berbentuk halaqah (Madrasah Darussalam) yang diprakarsai KH. Jamaluddin dan KH. Hasan Ahmad (tahun 1914).

Ia memperkenalkan penjenjangan mulai dari Tahdiriyah selama 3 tahun, Ibtidaiyah 3 tahun, dan Tsanawiyah 3 tahun. Ia juga melakukan pembaharuan dari aspek kurikulum dengan memasukkan aspek pelajaran umum dalam kurikulum pesantren. Syekh Kaysful Anwar mejadi pimpinan pesantren sejak tahun 1922 hingga 1940.

Dia merupakan ulama besar Martapura dan darinya muncul para ulama besar seperti KH.Anang Sya’rani Arif, KH. Husin Qadri, KH. Syarwani Abdan, KH. Seman Mulia, KH.Salim Ma’ruf, KH. Abdul Qadir Hasan, Syekh M. Zaini bin Abdul Ghani, dan lain-lain.

Baca Juga

Guru Bangil Terkenal di Makkah “Mutiara Dari Tanah Banjar”

Ia dapat dikatakan hadlratus syaikh ulama Martapura pada masa itu. Ia wafat pada malam Senin tanggal 18 Syawal 1359 H atau 17 November 1940 dan dimakamkan di kubah Kampung Melayu Martapura.

Syekh Kasyful Anwar juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Kitab karangannya ada yang telah dicetak dan disebarluaskan kepada khalayak umum dan adapula yang masih berupa manuskrip. Kitab-kitab ini umumnya dibuat untuk kepentingan pengajaran di Pondok Pesantren Darussalam dan hingga saat ini masih digunakan sebagai kitab wajib yang menjadi pegangan santri tingkat awaliyah di Pondok Pesantren Darussalam dan pondok-pondok pesantren lain yang berafiliasi dengan Darussalam. Kitab susunannya tersebut di antaranya adalah:

Makam Syekh Kasyful Anwar di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalsel.
Makam Syekh Kasyful Anwar di Desa Kampung Melayu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalsel.

Durusutthasrif 4 juz. Kitab tentang ilmu shorof, menguraikan perubahan bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab. Menjadi kitab standar yang digunakan di hampir seluruh pesantren salafiyah di Kalsel

Risalah Fittauhid, jitab berbahasa Arab yang menguraikan tentang dasar-dasar ilmu Tauhid.

Risalah Fiqhiah, kitab berbahasa Arab yang menguraikan tentang dasar-dasar ilmu Fiqih.

Risalah Tajwidil Qur’an, kitab berbahasa melayu yang menguraikan tentang dasar-dasar ilmu Tajwid.(sumber: wikipedia.org/sir)

NEWS STORY
  • Bagikan