Baznas

Riwayat Syekh Jamaluddin Al Banjari Diangkat Mufti Hingga Kisah Mengarungi Sungai Dengan Perahu Bocor

  • Bagikan
Makam Surgi Mufti, Syekh Jamaluddin Al Banjari di Kelurahan Surgi Mufti, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: ist)
Makam Surgi Mufti, Syekh Jamaluddin Al Banjari di Kelurahan Surgi Mufti, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: ist)

Perjalanan hidup atau riwayat para kekasih Allah memang selalu menarik untuk disimak. Termasuk zuriat keempat atau cicit dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datuk Kelampayan) yakni, Mufti Syekh Jamaluddin Al Banjari yang kini bermakam di Kelurahan Surgi Mufti, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Syekh Jamaluddin Al Banjari merupakan salah satu ulama besar Kalimantan Selatan yang hidup di masa penjajahan Belanda. Syekh Jamaluddin Al Banjari juga lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Surgi Mufti.

Dikutip dari laman facebook Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan, Mufti Syekh Jamaluddin Al Banjari adalah cicit Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kelampayan dari garis istri keenam, bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha (seorang bangsawan Kerajaan Banjar).

Adapun silsilahnya, Mufti Jamaluddin bin Zalekha binti Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Syekh Jamaluddin diangkat menjadi mufti oleh pemerintah Belanda, yang berkedudukan di Banjarmasin tahun 1896.

Syekh Jamaluddin Al Banjari wafat pada 8 Muharram 1348 H (1902) dan dimakamkan di depan rumahnya di Jl Surgi Mufti, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara.

Tepatnya di seberang langgar, yang sering disebut warga sebagai langgar Bani Arsyadi. Kalau masuk dari jalan S Parman, terus ke arah Pasar Lama, lalu masuk ke jalan Sulawesi, maka satu kilometer lagi akan bisa kita temukan makam Syekh Jamaluddin Al Banjari.

Makam Surgi Mufti, Syekh Jamaluddin Al Banjari di Kelurahan Surgi Mufti, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: ist)
Makam Surgi Mufti, Syekh Jamaluddin Al Banjari di Kelurahan Surgi Mufti, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: ist)

Biografi Syekh Jamaluddin Al-Banjari

Syekh Jamaluddin Al Banjari berperang tanpa konfrontasi, berjuang tanpa senjata, dan dihormati petinggi Belanda, tetapi tidak pernah mengkhianati bangsa. Begitulah sosok Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau Tuan Guru Surgi Mufti.

Syekh Jamaluddin Al Banjari dilahirkan di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, tahun 1817. Dia putra pasangan Haji Abdul Hamid Kosasih dan Hj. Zaleha yang tumbuh di lingkungan agama yang kuat.

Sejak remaja, Syekh Jamaluddin Al Banjari sudah menimba ilmu di tanah suci Makkah Al-Mukarromah. Syekh Jamaluddin Al Banjari juga salah seorang jaringan ulama Haramain (Dua Tanah Haram, Makkah dan Madinah).

Sekitar tahun 1894, Syekh Jamaluddin Al Banjari kembali ke Banjarmasin, di masa-masa terjadinya konfrontasi Pemerintah Indonesia dengan Belanda.

Sekembalinya ke tanah Banjar, Syekh Jamaluddin Al Banjari dihadapkan dengan dua pilihan. Apakah ikut konfrontasi menghadap penjajah dan bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari, atau memilih berdakwah meski harus ‘berkawan’ dengan Belanda. Tahun 1899, Syekh Jamaluddin akhirnya memutuskan menjalankan dakwahnya setelah Belanda mengangkatnya sebagai mufti.

Jabatan mufti adalah jabatan penting pada masa itu, setarap dengan menteri atau hakim. Putusannya adalah menjalankan syariah hukum Islam bagi warga Banjar,” jelas Yusliani Noor, Dosen Unlam Banjarmasin.

Mufti Jamaluddin juga terkenal sebagai ahli falaqiyah (astronomi). Syekh Jamaluddin sering dimintai pendapat memutuskan awal dan akhir Ramadan, berdasarkan perhitungan hilal yang dia kuasai. Bahkan urusan bertani di masa itu, kapan waktunya bercocok tanam yang baik, juga menjadi bidang yang dikuasainya.

Sebagai ulama dan pendakwah, kekuatan ilmunya sudah mencapai titik tertinggi dengan berbagai karomah yang dimiliki. Dalam sebuah ceramah di hadapan murid-muridnya, Surgi Mufti mengatakan bahwa di setiap ada air pasti ada ikannya.

Pernyataan ini terdengar petinggi Belanda dan memanggilnya untuk melakukan tes kebenaran ucapan itu, “Jika ada air ada ikan, maka apakah mungkin di dalam air kelapa juga ada ikannya?”

Sebiji kelapa muda dibawa ke hadapan Mufti Jamaluddin. Kelapa muda ini pun di belah, seketika airnya muncrat dan saat bersamaan seekor ikan sepat menggelepar keluar dari buah kelapa tadi.

Sejak kejadian itu, petinggi Belanda semakin menaruh hormat kepada Syekh Jamaluddin. Sebab tidak hanya ahli ibadah dan kuat dalam agama, tetapi juga piawai dalam perkara dunia. Sebagai bentuk penghargaannya, pihak Belanda saat itu menjuluki H. Jamaluddin Al-Banjari sebagai Surgi Mufti.

Istilah surgi itu berarti suci, mufti artinya pemimpin. Julukan ini diberikan Belanda karena sikap istiqomahnya yang memiliki kesucian hati dan tekun dalam beribadah.

Meski hidup dan tumbuh di lingkungan Pemerintah Belanda, namun kelebihan Mufti Jamaluddin tetap bergaya ulama. Keteguhannya beribadah menjadi bukti, betapa kekuatan ilmu agama lebih mulia daripada urusan dunia.

Tak salah pula jika kepemimpinannya disukai Belanda, tetapi dakwahnya dinantikan murid-muridnya. Syekh Jamaluddin Al Banjari terkenal mengadakan pengajian duduk. Dia tidak berdakwah dari rumah ke rumah, tetapi justru warga yang berdatangan ke rumahnya. Tidak hanya jamaah dari Kalsel, tapi juga dari Kalteng, Kaltim dan Kalbar.

Karomah Mufti Syekh Jamaluddin Al Banjari

Konon dalam kisah yang beredar di tengah masyarakat Banjar, Mufti Syekh Jamaluudin Al Banjari memiliki banyak karomah, antara lain, satu ketika Syekh Jamaluddin Al Banjari melakukan perjalanan dari Sungai Jingah menuju Desa Dalam Pagar, Martapura.

Di perjalanan itu salah satu warga melapor perhiasan emas mereka terjatuh dan hilang di sungai. Dengan merentangkan salah satu tangannya ke sungai, perhiasan yang tenggelam itu tiba-tiba ada di tangannya.

Lebih mengherankan, dalam perjalanan dari Sungai Jingah ke Desa Dalam Pagar, Syekh Jamaluddin Al Banjari menyusuri Sungai Martapura dengan menggunakan jukung (perahu/sampan) yang dalam keadaan bocor.

Berhari-hari Syekh Jamaluddin Al Banjari mengarungi Sungai Martapura dengan perahu bocor, namun perahu tidak tenggelam. Setelah tiba di tujuan Desa Dalam Pagar, Martapura, barulah perahu tersebut tenggelam.

Mufti Syekh Jamaluddin Al Banjari juga punya andil dalam membuka jalur jalan dari Desa Dalam Pagar menuju Desa Kelampayan. Bahkan dialah yang membuat atang (cungkup) makam datuknya, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Mufti Syekh Jamaluddin Al Banjari Wafat

Tepat tanggal 8 Muharram 1348 Hijriyah, Mufti Syekh Jamaluddin Al Banjari wafat, tepatnya hari Sabtu, pukul 15.00 WITA menjelang Sholat Ashar di Sungai Jingah. Syekh Jamaluddin dimakamkan di kubah yang dibangunnya, jauh sebelum wafat. Kubah ini dulunya dijadikannya sebagai tempat menerima murid-muridnya.(koranbanjar.net)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *