oleh

Mengungkap Pertemuan Sultan Banjar dengan Tokoh Dayak Loksado, Inilah yang Dibicarakan

Perjalanan yang cukup jauh tak membuat Sultan Banjar, H Khairul Saleh tampak lelah. Meski sedari pagi hingga menjelang sore, dia bersama rombongan telah menyinggahi beberapa pertemuan dengan masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), beberapa pekan lalu. Di penghujung agenda pertemuan hari ituPangeran Khairul Saleh tak membuang kesempatan untuk menjumpai masyarakat dayak Loksado di kaki gunung Meratus. Beginilah kisahnya.

SALAH SATU Balai Adat di Kecamatan Loksado yang berdiri di ujung kampung Loksado itu terbilang “megah”. Walaupun hanya berstruktur bangunan dari kayu dan rotan, namun tidak mengurangi kemegahan balai adat tersebut. Puluhan masyarakat adat sudah berkumpul di ruang utama balai adat, baik itu kaum laki-laki, perempuan sampai dengan anak-anak.

BERFOTO - Sultan Banjar berfoto di depan Balai Adat
BERFOTO – Sultan Banjar berfoto di depan Balai Adat

Wibawa Sultan Banjar, H Khairul Saleh saat memasuki ruang utama balai adat Loksado membuat masyarakat adat setempat cukup terkesima. Walaupun tidak disertai berbagai embel Kesultanan Banjar, melainkan hanya mengenakan kemeja putih polos serta peci hitam yang menancap di kepala, kehadiran Sultan Banjar seolah memberikan harapan baru bagi masyarakat adat setempat untuk mengajukan berbagai keinginan ke depan untuk memajukan desa mereka.

Usai Sultan Banjar, mengambil posisi duduk di tengah ruang utama, masyarakat adat duduk melingkar menghadapi. Sementara para wanita, berderet duduk di bagian belakang. Perbincangan antara Sultan Banjar dan masyarakat adat pun mengalir penuh dengan kekeluargaan. Satu demi satu, masyarakat adat menyampaikan harapannya, antara lain, mereka mengharapkan pemerintah bisa mengakui keberadaan mereka sebagai bagian dari golongan suku yang dikukuhkan dalam Undang-Undang.

Lalu apa tanggapan Sultan Banjar, Khairul Saleh? “Negara kita ini dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan atau kesultanan-kesultanan. Jadi, keinginan masyarakat adat dayak untuk mendapatkan pengakuan secara legetimasi, bukan hanya kepentingan masyarakat adat dayak, tetapi juga menjadi kepentingan kami dari Kesultanan Banjar. Insya Allah kita akan bersama-sama memperjuangkan hal itu,” ungkapnya.

Tokoh adat dayak setempat pun juga menceritakan sejarah panjang tentang kehadiran mereka ada di tanah Banjar. Tidak terkecuali tentang adat istiadat yang masih lestari di desa mereka. Bukan hanya itu, tokoh adat setempat juga mengungkap silsilah nenek moyang mereka, hingga sampai pada turunan yang sekarang. Menariknya, tatkala tokoh adat setempat menyampaikan silsilah sebagai keturunan ke 16 dari nenek moyang mereka, Sultan Banjar, Khairul Saleh dengan santai menyebut, bahwa dirinya juga merupakan turunan yang lebih dekat dari Kesultanan Banjar.  “Kalau Damang turunan ke 16, ulun turunan ke 15, jadi Damang nyebut ulun paman,” ungkap Khairul Saleh , sambil tersenyum.(sir)

   

Komentar

Berita Terkini