Menelusuri Riwayat Syekh Syihabuddin Al Banjari Bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

  • Bagikan
Makam Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. (foto: tangkapan layar dari video You Tube akun my ziarah my adventure)
Makam Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. (foto: tangkapan layar dari video You Tube akun my ziarah my adventure)

Ulama besar asal Kota Martapura, Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kelampayan memiliki salah seorang anak dari istrinya yang bernama Baiduri yakni, Syekh Syihabuddin Al Banjari. Syekh Syihabuddin Al Banjari telah berdakwah dan menetap di Riau hingga bermakam di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. Tidak sedikit keturunan Syekh Syihabuddin hingga tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Berikut ulasannya.

RIAU, koranbanjar.net – Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mempunyai 30 saudara satu ayah dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datuk Kelampayan, karena Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari telah mempunyai 11 istri.

Dikutip dari laman Fb Kumpulan Cerita Rakyat Banjarmasin, di antara saudara Syekh Syihabuddin Al-Banjari dari satu keturunan ibunya yang bernama Baiduri adalah Mufti Jamaluddin Al Banjari.

Syekh Syihabuddin mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan melanjutkan pendidikan di Makkah. Di antara gurunya di Makkah, antara lain, Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani, Sayid Ahmad al-Marzuqi dan lain-lain.

Syekh Syihabuddin menerima beberapa amalan dari ayahnya, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Adapun keturunan Syekh Syihabuddin Al Banjari, antara lain, Syekh Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari bin Syekh Muhammad Afif al-Banjari.

Syekh Syihabuddin adalah putera Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dari isterinya bernama Baiduri (Bidur). Adik beradik satu ayah dan satu ibu (saudara kandung) dengan Syekh Syihabuddin ada tiga orang dengan urutan:

Al-Alim al-Allamah Kadi Haji Abu Su’ud, Al-‘Alim al-Allamah Kadi Haji Abu Na’im, Sa’idah dan Al-Alim al-Allamah Khalifah Syekh Syihabuddin Al Banjari.

Kadi Haji Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (anak pertama) mewarisi ilmu secara langsung dari ayahnya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, selanjutnya menjadi Kadi yang pertama di Banjar dan juga seorang pahlawan.

Perkawinan pertama Kadi Haji Abu Su’ud dengan Aminah memperoleh anak seorang ulama, Alimul Allamah Haji Muhammad Sa’id Jazuli. Sewaktu kembali menunaikan haji kawin lagi di Kedah memperoleh seorang putera, bernama Syekh Muhammad Mas’ud

Alimul Allamah Kadi Haji Abu Na’im (anak kedua), juga memperoleh ilmu langsung dari ayahnya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Dia menjadi Kadi yang kedua di Banjar. Anak Kadi Haji Abu Na’im adalah Haji Muhammad Afif. Anak Haji Muhammad Afif adalah Syekh Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari, Mufti Kerajaan Indragiri. Beliau inilah ulama yang pertama menyusun sejarah mereka yang diberi judul Syajarah al-Arsyadiyah.

Alimul Allamah Syekh Syihabuddin (anak keempat) juga mewarisi ilmu dari ayahnya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Syekh Syihabuddin adalah seorang Khalifah Mufti dan Kadi. Beliau menurunkan beberapa orang ulama di antaranya Alimul Allamah Mufti Haji Abdul Jalil dan Alimul Allamah Haji As’ad Fakhruddin.

Tahun 1258 H/1842, Raja-raja Riau di Pulau Penyengat Indera Sakti minta kesediaannya menjadi guru di Kerajaan Riau-Lingga.

Makam Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. (foto: tangkapan layar dari video You Tube akun my ziarah my adventure)
Makam Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. (foto: tangkapan layar dari video You Tube akun my ziarah my adventure)

Literasi Tentang Syekh Syihabuddin Al Banjari

Raja Ali Haji dalam bukunya yang terkenal berjudul Tuhfatun Nafis telah menyebut peranan ulama Banjar di kerajaan Riau. Di antaranya Haji Hamim yang diangkat Engku Haji Abdullah sebagai wakilnya di negeri Lingga.

Raja Ali Haji menulis, “Al-Kisah maka tersebutlah perkataan saudara Yang Dipertuan Muda Raja Abdur Rahman itu, yaitu Raja Haji Abdullah yang dalam negeri Makkatul Musyarrafah itu.

Maka apabila sampai ia setahun di dalam negeri Makkatul Musyarrafah itu, maka ia pun turunlah dari Makkah itu ke Jeddah. “Dari Jeddah selalu balik ke bawah angin serta ada membawa satu orang alim namanya Syekh Ahmad Jabarti dan seorang lagi, orang Banjar anak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang masyhur dengan alim besar di bawah angin yang mengarang beberapa kitab fikah dan lainnya yakni, Syekh Syihabuddin.

Karya Tuhfah an-Nafis karya Raja Ali Haji yang asli dalam bentuk manuskrip dan cetakan adalah tulisan Melayu/Jawi, maka transliterasi saya kepada Rumi ialah ‘alim besar’. Ini adalah bertentangan dengan transliterasi Viginia Matheson Hooker, ditulisnya ‘ilmu besar’ pada tempat ‘alim besar’ (Lihat Tuhfat Al-Nafis, terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991, hlm. 600).

Ahmad Basuni menulis dalam bukunya Djiwa Yang Besar, “H. Abul Muhd. Arsyad (bin Abdullah al-Banjari), seorang yang dalam ilmunya pernah menjadi Mufti, terkenal pula sebagai seorang pahlawan yang sukar dicari tandingannya.” (Djiwa Yang Besar, hlm. 59).

Yusuf Khalidi dalam bukunya Ulama Besar Kalimantan, menyebut bahwa Syekh Syihabuddin diangkat sebagai Khalifah, yaitu menjabat jawatan Mufti dan Kadi. Bahwa beliau memperoleh 11 anak, namun yang dicantumkan Yusuf Khalidi dalam bukunya yang tersebut hanya tiga orang saja yaitu Al-Alim al-Allamah Mufti Abdul Jalil, Al-Alim al-Allamah Haji As’ad Fakhruddin dan Aminah.

Anak Syekh Syihabuddin yang pertama Al-Alim al-Allamah Mufti Abdul Jalil (No. 1) memperoleh anak bernama Zakaria pernah tinggal di Johor karena menyebarkan agama Islam.

Makam Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. (foto: tangkapan layar dari video You Tube akun my ziarah my adventure)
Makam Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di lingkungan Masjid Raya Sultan Riau-Pulau Penyengat Tanjung Pinang. (foto: tangkapan layar dari video You Tube akun my ziarah my adventure)

Zakaria bin Mufti Abdul Jalil bin Syekh Syihabuddin al-Banjari menikah di Mersing, memperoleh 13 anak. Syekh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani/al-Banjari yang menulis beberapa kitab mungkin adalah putra Syekh Syihabuddin yang diriwayatkan ini.

Tak data jelas mengenai masalah tersebut, tetapi beberapa orang tua-tua di Pontianak, Kalimantan Barat menceritakan bahwa Syekh Utsman adalah anak Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dengan isterinya yang berasal dari Karangan, Mempawah Hulu, Kalimantan Barat.

Hanya sebuah karya Syekh Syihabuddin yang diketahui, itu pun adalah merupakan imlak gurunya bernama Allamah as-Saiyid asy-Syarif Ahmad al-Marzuqi (1205 H/1790 M-1262 H/1845).

Mengenai ini dapat diketahui kenyataan dari gurunya Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani, katanya, “Dan (bahwasa) nya telah selesailah daripada menjamakkan (mengumpulkan) dia dan kitabahnya (menulisnya) dengan imlak muallifnya di Makkah atas tangan yang menyurat imlaknya itu, (iaitu) Syekh Muhammad Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad pada waktu zuhur, Selasa bulan Zulhijjah, tahun 1158 (hijrah).”

Setelah Syekh Syihabuddin menulis imlak dari Saiyid Ahmad al-Marzuqi itu, lalu diserahkannya kepada Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani untuk penelitian dan diperbaiki jika terdapat kesalahan. Setelah diperiksa Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani lalu diserahkan kembali kepada Saiyid Ahmad al-Marzuqi.

Saiyid Ahmad al-Marzuqi memerintahkan Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani, supaya memberi judul kitab itu sekaligus supaya diterjemahkan ke bahasa Melayu. Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani menamakan kitab itu Tahshilu Nailil Maram Syarhu ‘Aqidatil Awam dan judul yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Bahjatus Saniyah fi ‘Aqaidis Saniyah.

Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani mengakhiri terjemahannya, katanya, “Dan telah selesai fakir mentaswid (menulis) akan manzhum (yang dinazamkan) matannya dan syarahnya dengan bahasa Jawi, (oleh) Daud bin Abdullah Fathani, pada hari …nama hari tidak tertulis dalam semua cetakan), bulan Safar, waktu asar di Mekah al-Mukarramah.” Syekh Abdur Rahman Shiddiq menyebut bahwa zuriat Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari yang berpangkat Mufti ada 10 orang dan yang berpangkat Kadi juga 10 orang. Antara yang menjadi Mufti termasuk Syekh Syihabuddin al-Banjari. Lebih lengkap adalah sebagai berikut ;

  1. Haji Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  2. Haji Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  3. Haji Muhammad As’ad bin Utsman. Beliau adalah Mufti yang mula-mula di Kerajaan Banjar.
  4. Haji Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As’ad.
  5. Haji Syihabuddin.
  6. Haji Muhammad Khalid bin Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  7. Haji Muhammad Nur bin Kadi Haji Mahmud.
  8. Haji Muhammad Husein bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  9. Haji Jamaluddin bin Haji Abdul Hamid.
  10. Syekh Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad Afif bin Kadi
  11. Abu Naim bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Dari no. 1 sampai no. 5 pada zaman pemerintahan Sultan Banjar. Sedang yang no. 6 sampai no. 10 pada zaman penjajah Belanda. Dari maklumat yang lain ulama-ulama keluarga tersebut yang menjadi Mufti ialah:

  1. Haji Muhammad Husein bin Mufti Haji Jamaluddin.
  2. Haji Abdul Jalil bin Mufti Haji Syihabuddin.
  3. Haji Muhammad Yunan bin Mufti Haji Muhammad Amin.
  4. Haji Sa’id bin Haji Abdur Rahman.
  5. Haji Mukhtar bin Kadi Haji Hasan.

Keluarga yang tersebut yang pernah menyandang pangkat Kadi pula ialah:

  1. Kadi Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad al Banjari.
  2. Kadi Abu Naim bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  3. Haji Mahmud bin Haji Muhammad Yasin.
  4. Haji Muhammad Amin bin Mufti Haji Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  5. Haji Muhammad Ali al-Junaidi bin Kadi Haji Muhd. Amin.
  6. Haji Muhammad Sa’id al-Jazuli bin Kadi Haji Su’ud.
  7. Haji Muhammad Amin bin Kadhi Haji Mahmud.
  8. Haji Abdus Shamad bin Mufti Haji Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
  9. Haji Muhammad Jafri bin Kadi Haji Abdus Shamad.
  10. Kadi Haji Bajuri.
  11. Haji Muhammad As’ad bin Mufti Haji Muhammad Nur bin Kadi Haji Mahmud.
  12. Haji Ibrahim bin Mufti Haji Jamaluddin.
  13. Haji Abu Talhah bin Kadi Abdus Shamad.
  14. Haji Muhammad Thaiyib bin Haji Muhammad Qasim.
  15. Haji Muhammad bin Haji Muhammad Qasim.
  16. Haji Zainal bin Lebai Darun.
  17. Haji Abdur Rahman bin Kadi Haji Muhammad Sa’id.
  18. Haji Qasim bin Mu’min.
  19. Haji Muhammad Sa’id bin Mu’min.
  20. Haji Muhammad Arsyad bin Kadi Haji Abdur Rahman.
  21. Haji Hasan bin Mufti Haji Muhammad Sa’id.
  22. Haji Abdur Rauf.
  23. Haji Abdul Jalil bin Kadi Haji Muhammad Arsyad.
  24. Haji Ahmad bin Abu Naim.
  25. Haji Muhammad Arsyad bin Kadi Haji Abdur Rauf.

Dari no. 1 sampai no. 3 menjadi Kadi pada zaman pemerintahan Sultan Banjar.(koranbanjar.net)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *