Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Kisah Malaikat Izrail saat Mencabut Nyawa, Pernah Sambil Menangis, Tertawa, Bahkan Terkejut

  • Bagikan
ILUSTRASI - Orang yang meninggal dunia. (Islampos)
ILUSTRASI - Orang yang meninggal dunia. (Islampos)

Kisah ini diambil dari Kitab Tadzkirah oleh Imam Qurthubi, yang menceritakan dialog Allah SWT dengan Malaikat Pencabut Nyawa, Izrail. Kisah ini mengadung makna dan hikmah luar biasa yang patut disimak umat manusia.

Dalam Kitab Tadzkirah, Allah SWT sedang bertanya kepada malaikat maut, “apakah kamu pernah menangis ketika mencabut nyawa anak cucu Adam?,”

Malaikat Izrail menjawab, “Aku pernah tertawa, pernah juga menangis, dan pernah juga terkejut dan kaget.”

Lalu Allah bertanya lagi, ” Apa yang membuatmu tertawa?,”

Malaikat menjawab, “Ketika aku bersiap-siap mencabut nyawa seseorang, aku melihatnya berkata kepada pembuat sepatu agar dibuatkan sepatu sebaik mungkin supaya bisa dipakai selama setahun. Aku tertawa, karena belum sempat orang tersebut memakai sepatu pesanannya, sudah kucabut nyawanya.”

Allah melanjutkan pertanyaan,”Apa yang membuatmu menangis?,”

Maka malaikat menjawab, “Aku menangis ketika hendak mencabut nyawa seorang wanita hamil di tengah gurun padang pasir dan hendak melahirkan. Aku menunggu sampai banyinya dilahirkan. Lantas kucabut nyawa wanita itu sambil menangis karena mendengar tangisan banyinya, tidak ada satupun orang yang mengetahui kelahiran bayi tersebut.”

“Lalu apa yang membuatmu kaget dan terkejut?,” lanjut Allah.

“Aku terkejut dan kaget ketika hendak mencabut nyawa salah seorang ulama. Aku melihat cahaya terang benderang keluar dari kamarnya, setiap kali aku mendekatinya cahaya itu semakin menyilaukanku seolah ingin mengusirku, lalu kucabut nyawanya disertai cahaya tersebut,” jawab malaikat.

Allah bertanya lagi, “Apakah kamu tahu siapa lelaki itu (sang ulama)?,”

“Tidak tahu ya Allah,” jawab malaikat.

“Sesungguhnya lelaki itu adalah bayi dari ibu yang kau cabut nyawanya di gurun pasir  gersang. Akulah yang menjaganya.”

Dari kisah ini kita dapat memetik pesan, bahwa nyawa kita bisa diambil kapan saja. Maka itu sebaiknya kita senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadap kepada-Nya, kapanpun dan dimanapun.(koranbanjar.net)

Sumber; SindoNEWS

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *