Baznas

Histori Tower PDAM: Ratusan Mayat Dipindah untuk Bangun Tower

  • Bagikan

BANJARMASIN – Jika Anda melintas di Jl Sutoyo S, Teluk Dalam Banjarmasin, tepat di pertigaan yang mempertemukan antara jalan itu dengan Jl Jafri Zam-zam, Anda akan menemukan sebuah bangunan seperti kaleng susu raksasa. Tapi bukan berisi susu, melainkan sebuah penampungan air yang digunakan layaknya tandon di rumah warga.

Bangun berbentuk tabung dengan ketinggian mencapai 40 meter itu dibangun tahun 1962 oleh PDAM Bandarmasih yang dulu bernama Dinas Proyek Air Minum (PAM).

Namun, ada pula yang mengatakan bangunan berdiameter 12 meter itu baru dibangun tahun 1976. Rancangan dan pengawasan dilakukan tim ahli dari Prancis dan Belanda.

Tandon raksasa yang mampu menampung air sebanyak 1.000 kubik itu menurut Pengawas Lapangan, Rahmadi, pernah digunakan sebagai booster (penampungan) dari air yang dikirimkan dari kantor induk (PDAM) di Jl A Yani Km 2.

Di bawah tanah itu ada bak berukuran raksasa, sekitar 7 meter untuk menampung air kiriman dari induk. Dari bak itu, air disedot naik ke bak setinggi 8 meter yang ada di dalam tower. Dari situ, air akan dibagi ke seluruh pelanggan di Banjarmasin Barat dan Tengah.

“Air yang masuk dari induk, tidak lagi diolah. Karena sudah diolah di induk,” ujar Rahmadi.

Sebelumnya, masih menurut Idil –akrab Rahmadi disapa- pihak PDAM pernah mengambil sendiri air baku (mentah) dari dalam tanah di depan Rumah Sakit Suaka Insan Jl Jafri Zam-Zam tak jauh dari Tower. Air tersebut diolah di Tower PDAM, dan setelah bersih baru dialirkan ke rumah-rumah pelanggan. Namun, praktik itu tak berlangsung lama karena kualitas air yang diambil tidak memenuhi standar.

“Air yang didapat di sana tidak lagi dapat diolah, sehingga dihentikan,” jelas lelaki yang sudah bekerja mengurus pipa selama 31 tahun ini.

Sementara itu, wilayah yang kini terbangun Tower PDAM di Jl Jafri zam-zam Teluk Dalam Banjarmasin, dulunya adalah sebuah alkah pekuburan keluarga.

Diungkapkan karyawan PDAM Rahmadi, tanah yang kini dimiliki oleh PDAM Bandarmasih itu semula sebuah alkah pekuburan milik warga. Tanah itu dijual oleh pemilik pada PDAM Bandarmasih, dan kemudian dimanfaatkan sebagai penampungan air.

“Sekitar ratusan jenazah (mayat) yang ada di pekuburan itu pun dipindahkan ke Kuburan Muslimin di Jl A Yani Km 23,” jelas lelaki yang beralamat di Jl Saka Permai ini.

Karenanya, lanjut Rahmadi, tower yang tak lagi difungsikan itu dinilai angker bagi karyawan di sana. Beberapa kejadian, ada saja yang pernah melihat sosok gaib yang seolah menghuni di sana…..baca selengkapnya Koran Banjar Edisi mendatang. (abn)

  • Bagikan