BNN

Catatan 27 Agustus 2021; Pertemuan Itu Akan Semakin Dekat

  • Bagikan
Denny Setiawan
Denny Setiawan

Oleh; Denny Setiawan

Pimpinan Redaksi koranbanjar.net

(27 Agustus 1972 – 27 Agustus 2021)

“Kutinggalkan dua penasihat kepada umatku, pertama Alquran dan Hadits, kedua mengingat kematian.” (Hadits Baginda Rasulullah Saw)

Jika mereka terlalu banyak berfoya-foya melewati hidup ini, berarti mereka sedang tertidur nyenyak dengan mimpi-mimpi yang indah hingga tak ingin terjaga. Sementara bagi seseorang yang suka termenung, sering menangis melewati waktu demi waktu, tak ubahnya seperti orang yang ingin bergegas bangkit dari tidur, rindu akan kehidupan yang sesungguhnya.

Hidup itu sementara menjadi sebuah isyarat yang nyata, bahwa hidup sesungguhnya adalah tidur. Sementara kematian yang sebenarnya adalah terjaga dari tidur yang singkat. Selama-lamanya hidup tidak ada yang abadi, sebaliknya kematian itu pintu menuju hidup yang abadi.

Manusia dilahirkan untuk menuju kematian, seperti berjalan menuju tembok yang kokoh. Kaki terus melangkah, tapak demi tapak, sementara tembok itu tidak akan pernah mundur meski sejengkal. Saatnya tiba, langkah kaki akan terhenti, manakala tembok sudah berada di depan mata.

Tak seorang pun makhluk yang terlahir tiba-tiba menjadi anak dan dewasa. Dia harus meniti waktu dimulai dari seorang bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga tua. Sungguh Tuhan telah memberitahu melalui fase demi fase agar ciptaan-Nya ingat, bahwa suatu saat satu persatu dari kalian akan menghadapKU.

Lantas, untuk apa bergembira merayakan masa hidup di dunia yang terus bertambah? Bukankah setiap langkah usia sebagai penanda, pengingat, bahwa kita semakin dekat meninggalkan kehidupan ini.   

Justru masa lalu menjadi sebuah perbandingan untuk melewati masa akan datang. Sangat banyak kelupaan yang sudah kita lakukan, sangat banyak kelalaian yang kita perbuat. Kado terindah itu hanya pusara orang-orang yang telah pergi lebih dahulu. Karena setiap tahun, mereka selalu dipertemukan, diingatkan tentang hari kelahiran hingga akhirnya ditutup oleh waktu yang sudah ditetapkan Tuhan.

Tidak ada perayaan yang berkesan, melainkan merenungi bahwa “Pertemuan Itu Sudah Semakin Dekat”, pertemuan dengan Sang Khalik, karena, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah seperti bayangan awan, mimpinya seorang yang tertidur.” (Ali bin Abi Thalib Ra).(*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 + 1 =