Tradisi Baayun Maulid Bagian 2: Tradisi Lokal yang Terakulturasi

oleh -492 views
BAAYUN MAULID – Dua orang tua mengayun anak mereka pada acara baayun maulid di halaman Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kamis (29/11/2018) lalu. (Foto: dny/koranbanjar.net)

FEATURE, KORANBANJAR.NET – Pada prinsipnya, baayun maulid tidak lepas dari prosesi maayun anak dalam acara aruh ganal yang biasa dilaksanakan oleh orang-orang Dayak di Desa Banua Halat, sebelum mereka memeluk agama Islam.

Setelah mereka memeluk agama Islam (baca asal-usul baayun maulid: Tradisi Baayun Maulid Bagian 1: Asal-usul Baayun Maulid), maka acara ini kemudian mengalami proses akulturasi dan islamisasi oleh para juru dakwah yang menyampaikan Islam di daerah Desa Banua Halat.

Menurut Zulfa Jamalie, nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara baayun maulid dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulid di Desa Banua Halat, tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural, yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan.

Baayun sambil minum. (Foto: dny/koranbanjar.net)

Baayun maulid dapat dimaknai sebagai suatu upaya untuk menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat setempat.

Sebab, dengan model dakwah, masyarakat tetap menjaga dan melestarikan sebuah tradisi sekaligus mewariskan dan menjaganya.

Berdasarkan kenyataan ini, baayun maulid adalah salah satu simbol pertemuan antara tradisi dan ajaran agama. Mengayun anak jelas sebuah tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat Banjar dan Dayak secara turun temurun dari dulu hingga sekarang untuk menidurkan anak-anak. Sedangkan memberi nama anak, berdoa, membaca shalawat, ataupun membaca al Quran, dan silaturrahmi, merupakan anjuran dan perintah agama.

Prosesi batampung tawar merupakan rangkaian acara dalam baayun maulid. (Foto: dny/koranbanjar.net)

Kedua kebiasaan ini secara harmonis bersatu dalam kegiatan baayun maulid, yang bahkan secara khusus dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal sebagai peringatan sekaligus penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini merpupakan dialetika agama dan budaya yang berjalan beriringan.

Dengan kata lain, tradisi baayun maulid tidak hanya mengandung nilai-nilai religius semata, tetapi seiring dengan perkembangan nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya, baayun maulid telah bertransformasi dan berpadu dengan nilai-nilai yang lainnya.

Baayun maulid sangat sarat dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang berharga untuk dikaji secara komprehensif, sehingga nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya penting untuk disosialisasi dan terinternalisasi dengan baik dalam kehidupan masyarakat. (*)

Oleh Redaktur Pelaksana Koran Banjar, Donny Irwan

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Penelitian Zulfa Jamalie (Akulturasi dan Kearifan Lokal Dalam Tradisi Baayun Maulid Pada Masyarakat Banjar)

Jasa Karangan Bunga di Kalimantan Selatan