Pertanian di lahan rawa lebak, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara memiliki karakter yang berbeda dengan daerah lain di Kalimantan Selatan. Lahan rawa lebak yaitu suatu wilayah yang terdepresi menjadi cekung dan memungkinkan terjadinya genangan air pada waktu yang cukup lama, sehingga menimbulkan penumpukan gulma.
AMUNTAI, koranbanjar.net – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Hulu Sungai Utara, Gusti Muhammad Noor menilai, lahan rawa lebak yang tergenang membutuhkan teknologi untuk dapat memantau kondisi lahan. Tujuannya, agar petani dapat mengatasi lahan rawa lebak yang tidak berfungsi maksimal.
“Air yang menggenang itu berasal dari limpasan air permukaan di wilayah setempat maupun dari wilayah sekitarnya, karena topografinya lebih rendah. Air dapat menggenang lebih dari 6 bulan akibat adanya cekungan dalam. Sehingga mengakibatkan penumpukan gulma,” ungkap Gusti Muhammad Noor.
Sedangkan komoditas padi dapat ditanam di lahan rawa lebak pada musim kemarau maupun musim hujan. Pemanfaatan rawa lebak ini masih relatif rendah, pada umumnya hanya ditanami padi sekali dalam setahun.
Di samping itu, produktivitas tanaman padi pada lahan ini juga rendah karena penerapan teknologi yang masih rendah.
Sistem penanaman padi di lahan rawa lebak dibagi menjadi dua, yaitu pertanaman padi musim hujan dan musim kemarau.
Pada proses penyiapan lahannya pun berbeda yaitu dilakukan dengan tanpa olah tanah (TOT), karena tanah rawa lebak umumnya mempunyai kepadatan tanah yang rendah.
Rumput yang telah ditebas, dikait dan dibawa ke tepi sawah dan penyiapan lahan juga dapat menggunakan herbisida, namun harus dilakukan lebih awal agar pembusukan biomas gulma tidak bersamaan dengan pertumbuhan bibit yang baru ditanam.
“Ke depan saya akan memikirkan permasalahan gulma di lahan rawa lebak agar dapat dikendalikan. Namun tentunya dengan menggunakan teknologi yang dapat dioperasikan para petani. Sehingga hasil pertanian dapat dimaksimalkan,” ucapnya. (sir)