Rumah Nenek Masrumi Akan Dibedah, Pesannya Bikin Air Mata Menetes

Nenek Masruni bersama Ketua Tim APS. Hulu Sungai Utara (HSU), Rabu (27/3/2024) (Foto: APS/koranbanjar.net)

Rumah seorang nenek yang tinggal di gubuk tua, reot dan tak layak huni, di di Desa Pulau Damar bernama Masruni rencana akan dibedah pada hari ini, Kamis (28/3/2024).

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Rencana ini telah disampaikan Ketua Komunitas Amuntai Peduli Sesama (APS) Buya Yusuf lewat rilisnya yang dikirim ke media ini di waktu dan hari yang sama.

Setelah dirinya bersama Tim APS, melihat keadaan rumah Nenek Masrumi dan diketahui sangat tidak layak huni.

“Maka Tim APS bersama para donatur memutuskan akan membedah rumah Nenek Masrumi, insya allah hari ini supaya menjadi layak huni,” tutur Buya Yusuf.

Sebelumnya, Tim APS mendapat laporan dari masyarakat setempat, mengenai adanya rumah warga di Desa Pulau Damar RT 4 Kecamatan Banjang Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Rumah dengan atapnya sudah banyak hancur dan berlubang serta sebagian tak berdinding itu, dihuni oleh seorang nenek bernama Masruni.

Akses jalan menuju rumah Nenek Masruni cukup jauh, kurang, lebih 1 kilometer dan jalannya sempit serta bergelombang, hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

“Jalannya hanya tanah, dan becek. Pakai mobil tidak bisa, harus pakai motor biar lebih cepat,” ujarnya.

Lanjutnya, kalau warga sekitar ingin menggunakan mobil biasanya memutar jalan lewat Batu Mandi Kabupaten Balangan.

Nenek Masruni saat ini sudah berusia kurang lebih 80 tahun, namun kalau diajak bicara masih merespon dengan baik.

“Walau pendengaran beliau sudah berkurang, namun kalau diajak bicara nyambung aja dan beliau sangat senang kita bersilaturahmi ke tempat beliau,” ucapnya.

Lebih dalam diceritakan Buya Yusuf, Nenek Masruni hanya memiliki 2 orang anak, namun kehidupan keduanya jauh di bawah sejahtera dan memadai.

“Untuk memikirkan biaya hidup mereka saja sulit, apalagi membantu ibunya,” kata Buya Yusuf.

Akan tetapi ada yang membuat hati benar-benar terenyuh dan bikin haru hingga meneteskan air mata.

Dalam keadaan lantai, dinding dan atap yang sudah rapuh dan lapuk, kain bekas menjadi penutup pintu, kelambu tidak layak pakai dan kasur serta bantal sudah kumal dan berbau, Nenek Masruni hanya memikirkan minta belikan mukena untuk salat dan alquran.

“Kata Nenek Masruni kalau nanti kami ke rumah beliau lagi minta dibelikan mukena buat salat dan satu biji alquran. Seketika tanpa sadar air mata kami menetes haru,” ucapnya.

Anehnya, ketika hujan mengguyur, Nenek Masruni tidak pernah merasa kehujanan padahal atapnya berlubang.

“Lebih membuat haru lagi, siapa saja yang berkunjung ke rumah beliau disuruh baca syahadat dan didoakan oleh beliau kebaikan,” tutupnya.

(yon/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *