oleh

Pengamat : “Pemenang Pemilu Di Kalsel Diraih Pemodal Besar”

BANJARMASIN,KORANBANJAR.NET – Salah satu Pengamat Politik Banjarmasin,Dr Muhammad Uhaib As’ad mengatakan pertarungan politik di Kalimantan Selatan banyak dimenangkan oleh pemilik Finansial Kapitalisme(Pemodal besar).

“Kita lihat di Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin, pemenang pemilu 2019 banyak dimenangkan oleh kontestan politik yang memiliki modal besar” ujarnya.

Pernyataan ini Ia kemukakan dalam wawancaranya kepada koranbanjar.net,bertempat di rumahnya, Jalan Sultan Adam Komp Mandiri Leatari IV Blok B 5 No.44, Banjarmasin, Senin(13/05) pukul 10.00 wita.

Lebih lanjut Pengamat Politik dan Kebijakan Publik dari Uniska Banjarmasin ini memaparkan yang menjadi perhitungan bagi orang-orang yang memiliki modal besar tidak lagi melihat integtritas,kapasitas dan loyalitas terhadap partai.

Tetapi menurut pengamat yang terkenal independen ini mengungkapkan partai lebih memilih pemain politik yang memiliki “kantong besar”.

“Pada masa sekarang partai lebih memilih pemain politik yang memiliki modal besar sehingga dia punya posisi bergaining menempati urutan-urutan yang strategis,bisa satu atau dua dalam penyusunan rengking caleg tersebut” terangnya.

Dikatakan oleh Uhaib,di Banjarmasin sendiri para calon legislatif baik pusat maupun provinsi,kemenangan didominasi oleh kontestan berduit.

“Katakanlah di DPR RI,Saya melihat orang-orang yang yang berhasil duduk disana adalah para pemain lama orangnya cuman itu-itu saja meskipun ada pemain baru tetapi tokoh yang udah dikenal lama oleh masyarakat” tambahnya.

Mereka yang lolos ke pusat itu ujarnya adalah mantan bupati,pejabat daerah,pengusaha tambang atau orang-orang yang memiliki relasi dengan pengusaha besar.

“Orang-orang inilah yang memenangkan kontestasi di DPR RI pusat,dan itu jelas sekali baik di dapil 1 maupun dapil 2” ucapnya.

Bagaimana dengan mereka yang hanya memiliki integritas, moralitas,kepintaran serta doa dan keinginan yang besar.Di dalam alam demokrasi industrial di Indonesia ini,Ia melihat semua itu tidak menjadi kalkulasi dominan untuk memenangkan kontestasi.

“Saya tetap melihat dengan dengan modal uang,finansial kapital lebih dominan ketimbang modal politik dan sosial”cetusnya.

Inilah problem demokrasi saat ini di Indonesia yang menjadi demokrasi pasar gelap,yaitu orang yang selalu memainkan uang menjadi instrumen untuk alat memenangkan pertarungan politik.(al)

Komentar

Berita Terkini