oleh

Strategi Wong Cilik Yang Ingin Jadi Wali Kota, Edy: Saya Akan Jadi Ahoknya Banjarbaru

Penuh optimis tetapi tidak terlalu berambisi jadi orang nomor satu di Banjarbaru. Edy Saifuddin, pria berusia 48 tahun ini bakal panaskan dunia perpolitikan Banjarbaru.

YULIANDRI KUSUMA WARDANI, Banjarbaru

SEBAGAI  salah satu penantang petahana serta beberapa kandidat lainnya yang akan berlaga di Pilwali Kota Banjarbaru 2020, Edy Saifuddin menyadari dalam merebut kemenangan bukan hal mudah, tetapi ia mengakui punya cara meraihnya.

Pria kelahiran Martapura ini tetap yakin atas dukungan serta perwakilan masyarakat.

“Persiapan kita sementara ini masih dalam tahap pengumpulan dan verifikasi Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk persyaratan jika ada kemungkinan maju secara independen,” sebutnya.

Apabila lolos dan bisa didukung partai, akan maju lewat partai. Tetapi, apabila dari partai tidak lolos, ia sudah siap akan lewat independen. “Kita lihat saja nanti,” ujar pria yang lahir tanggal 23 april 1971 tersebut.

Sebagai seorang aktivis lingkungan, dan Sekjen Parlemen Jalanan, ia mengungkapkan telah menyiapkan berbagai strategi, salah satunya membuat gerakan Tim Anti Politik Uang (TAPU) sebanyak 500 relawan yang tergabung dalam komunitas binaannya.

Tidak main-main, gerakan tersebut akan berkoordinasi dengan Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan serta Ketua Pengadilan.

Gerakan terkoordinir itu akan dijalankan selama 2 bulan.

Tugasnya bukan digunakan sebagai pencitraan bakal calon kepala daerah Kota Banjarbaru, tetapi mensosialisasikan sistem politik uang yang sangat buruk, serta mengawasi apabila ada tim lain melakukan politik uang, jika terbukti akan ditindaklanjuti.

Walaupun jika nanti dirinya tidak terpilih, ia akan tetap menggerakkan 500 relawan tadi. Saat ini, tercatat sudah ada sebanyak 317 relawan.

Edy, sapaan akrabnya, memiliki satu anak bernama Azqa Asfar Ramadhan dan istrinya bernama Crisyawati.

Kini terungkap, motivasinya ingin maju sebagai Wali Kota Banjarbaru yaitu bukan mencari kemenangan. Kepada penulis, ia mengaku prihatin, sebab sudah sering melihat proses demokrasi yang sangat buruk dengan dihiasi sistem politik uang praktis.

Oleh sebab itu, ia ikut mengikuti proses Pilwali Kota Banjarbaru yang akan datang demi memperjuangkan menolak politik uang dalam pesta demokrasi yang bersih agar dapat mengurangi bahkan memberantas sistem kotor itu.

“Saya hanya percaya pada dua partai, PDIP dan Nasdem. Sebab, mereka masih mau melihat orang kecil seperti saya,” katanya.

Pastinya, di sana tidak ada mahar yang harus diberikan kepada partai. Tetapi, semua partai tetap akan saya coba daftar kecuali Golkar dan PPP. Saya kurang minat di sana,” ungkapnya.

Pria yang memiliki alamat di Komplek Permata Hijau Sei Ulin Blok E Nomor 1 Kelurahan Sei Ulin Kecamatan Banjarbaru Utara itu, memiliki keinginan sederhana. Dirinya menginginkan Banjarbaru bersih, ia sudah bisa memastikan jika memimpin Banjarbaru pasti akan banyak memiliki musuh terutama DPRD dan SKPD nakal.

“Saya tidak akan segan, siapapun itu, jika ada yang tidak beres atau korupsi dipekerjaannya. Saya akan jadi Ahok-nya Banjarbaru,” tandasnya.

Komentar

Berita Terkini