Selain Sering Dibully, Ini yang Membuat Amat Semakin Sakit Hati

BANJARMASIN, KORANBANJAR.NET – Modus pembunuhan mutilasi terhadap M Rahmadi (19 tahun) akhirnya terkuak. Seperti diketahui, almarhum Rahmadi ditemukan oleh saksi mata pada hari Selasa (20/11/2018) siang lalu, sudah meninggal dunia tanpa kepala di tepi Jalan Gubenur Syarkawi, Desa Lok Baintan Dalam, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Kapolda Kalsel Irjen Pol Drs Yazid Fanani, melalui Direktur Reserse Kriminal Umum (Dikrimum) Polda Kalsel, Kombes Pol Sofyan Hidayat, mengatakan pelaku yang diketahui bernama M Safruddin (19 tahun) alias Amat, warga Desa Sari Berangas, Kapuas, nekat memutilasi korban karena dendam akibat sering dibully oleh korban.

“Pelaku selama ini sakit hati karena sering dibully. Kita lihat, memang poster tubuh korban lebih besar dari poster tubuh pelaku, jadi selama dibully dia (selalu) pendam,” jelas Sofyan saat konferensi pers di Mapolda Kalsel, Kamis (22/11/2018) tadi siang.

Selain itu, lanjut Sofyan, keduanya merupakan rekan satu kerja di salah satu gudang di Banjarmasin, yang kemudian keduanya sama-sama dipecat.

“Ia (korban) dipecat dari pekerjaannya. Karena sudah dipecat, kemudian (korban) mengadu bahwa dia (pelaku) telah melakukan pencurian di pekerjaannya, akhirnya keduanya dipecat. Dari situ rasa dendamnya bertambah besar,” ungkap Sofyan.

Modusnya, kata Sofyan, pelaku berjanji akan membawa korban ke Palangkaraya untuk bekerja dengan gaji 7 juta perbulan.

“Kan keduanya sama-sama pengangguran. Si pelaku me-SMS kepada korban, ayo kita ke Palangkaraya dengan gaji 7 juta perbulan. Akhirnya si korban tertarik dan bertemu di suatu tempat.”

Setelah berjanji akan bertemu di suatu tempat, tersangka berangkat dengan motornya bersama saksi untuk menjemput korban.

“Setelah bertemu di suatu lokasi, tersangka berpindah ke motor korban. Mereka menuju Palangkaraya di situasi malam gelap, kemudian dengan modus pura-pura kencing dan takut dalam kegelapan lalu minta antarkan korban kencing di tempat yang gelap. Di saat pura-pura kencing, si korban pun akhirnya ikut kencing, saat itu hanphone korban jatuh, di situlah tersangka melakukan aksinya,” papar Sofyan.

Kejadian tersebut dikatakan Sofyan pada Senin (19/11) malam. Usai lakukan pembunuhan, pelaku menghilangkan jejak dengan membawa identitas korban. “Makanya saat didapat tidak ada identitas korban, dan sidik jarinya pun susah diketahui karena (korban) sempat melakukan perlawanan,” ucap Sofyan.

Setelah dibunuh, tambahnya lagi, kepala korban dibungkus plastik dan dibuat ke dalam tas milik korban lalu dibawa mengunakan motor korban.

“Tak sempat 2 kali 24 jam pelaku sudah dapat kita amankan di kawasan Bati-bati di tempat kos-kosan, berbekal barang bukti dan kecanggihan tegnologi yang kita punya,” pungkas Sofyan. (al/dra)