BNN

Sejarah Sumur Gali Sukaramai Martapura, Ternyata Peninggalan Tuan Guru Zainal Ilmi

  • Bagikan
Sumur Gali Sentral di kawasan Jl Sukaramai Martapura, Kalsel. Foto insert, Tuan Guru Zainal Ilmi Dalam Pagar Martapura. (foto: dok)
Sumur Gali Sentral di kawasan Jl Sukaramai Martapura, Kalsel. Foto insert, Tuan Guru Zainal Ilmi Dalam Pagar Martapura. (foto: dok)

Sejarah sumur gali yang terletak Jl Sukaramai, Kota Martapura, tepatnya di samping kantor Telkom Martapura yang tidak pernah kering telah menjadi teka-teki masyarakat Kota Martapura hingga puluhan tahun. Bahkan saat kemarau sekalipun, sumur gali ini tetap penuh dengan air yang bersih. Teka-teki itu pun terjawab. Ternyata sejarah sumur tersebut peninggalan Ulama Besar asal Kota Martapura, Tuan Guru Zainal Ilmi, sejak sebelum dia wafat atau sebelum tahun 1932. Seperti apa kisahnya, simak tulisan ini.

Hampir seluruh masyarakat Kota Martapura khususnya, mungkin belum mengetahui asal-usul adanya sumur gali di sekitar pertigaan antara Jl Sukaramai Martapura dan Jl Melati, samping Kantor Telkom Martapura tersebut.

Sejarah adanya sumur gali itu telah diungkap seorang anak dari murid Tuan Guru Zainal Ilmi asal Desa Lihung, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, yang bernama Guru Mahmud Zuhdi bin Tuan Guru Abdul Wahab.

Guru Mahmud Zuhdi adalah seorang Kepala Sekolah Madrasah Al Falah di Desa Lihung. Dia merupakan zuriat Sultan Adam Al Watsiqbillah. Tadinya dia enggan menyebutkan silsilah tentang nenek moyangnya, namun setelah terus ditanya, akhirnya dia bersedia menyebutkan.

Guru Mahmud Zuhdi bin Tuan Guru Abdul Wahab bin Abdussamad bin Anang Subuh bin Pengaran Hidayat (Pangeran Andarun) bin Pangeran Abdurrahman bin Sultan Adam Al Watsiqbillah.

Ayah Guru Mahmud Zuhdi bernama Tuan Guru Abdul Wahab asal Desa Pasayangan Martapura merupakan salah satu murid Tuan Guru Zainal Ilmi dan Tuan Guru Kasyful Anwar. Tuan Guru Abdul Wahab teman satu angkatan Tuan Guru Semman Mulia ketika sama-sama mondok di Ponpes Darussalam Martapura.

Semasa hidup, Tuan Guru Abdul Wahab pernah menceritakan kepada Guru Mahmud Zuhdi tentang asal-usul sumur gali yang sekarang menjadi sumber penghidupan bagi hampir seluruh pedagang di Pasar Martapura maupun bagi pedagang air bersih.

“Menurut cerita ayah (Tuan Guru Abdul Wahab), sumur gali sentral yang terdapat di Jalan Sukamarai itu dibuat oleh Tuan Guru Zainal Ilmi. Masa itu, terjadi kemarau yang cukup panjang, kemudian Tuan Guru Zainal Ilmi berinisiatif menggali sumur. Sumur yang digali itu adalah sumur yang sekarang disebut sumur sentral di Jalan Sukaramai dekat Pasar Martapura itu,” kata Guru Zuhdi kepada koranbanjar.net, Minggu (16/5/2021).

Makanya, lanjut dia, sumur gali sentral itu tidak pernah kering, walaupun di musim kemarau panjang. “Bagaimana mau kering, yang membuat sumur gali itu Wali Allah, ulama besar, Tuan Guru Zainal Ilmi. Namun, apakah saat penggalian beliau terlibat langsung atau tidak, saya kurang tahu. Akan tetapi yang berinisiatif membuat sumur, menentukan lokasi di situ adalah beliau (Tuan Guru Zainal Ilmi). Begitu cerita almarhum ayah (Tuan Guru Abdul Wahab),” kenangnya.

Dijelaskan pula, sumur gali itu mempunyai sumber mata air yang sangat besar dan deras, sehingga airnya tidak pernah habis, walaupun diambil oleh banyak orang setiap hari.

Dulu kawasan itu tidak seramai sekarang, jalan pun masih berupa tanah biasa. Tidaklah mengherankan, kini sumur gali di kawasan Jalan Sukaramai menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat banyak, terutama para pedagang di Pasar Martapura.

Kini, air dari sumur ini menjadi sumber pencaharian pedagang air yang melayani ribuan pedagang di kawasan Pasar Martapura. Sumur gali ini memiliki sumber mata air yang sangat deras, dan tak pernah kering hingga puluhan tahun. Air dari sumur gali ini diambil setiap hari dengan jumlah kubikasi yang tidak sedikit.

Berapa pun jumlah air yang diambil tidak pernah habis hingga sekarang. Selain tak pernah kering, air sumur gali ini terbilang sangat jernih.

Pedagang Air, Bushiri kepada koranbanjar.net beberapa waktu lalu juga membenarkan air dari sumur gali itu tidak pernah habis. “Inggih dasar bujur banyu di dalam sumur nih kada mau habis, ulun begawi kayak ini lebih dari 10 tahun, biar musim kemarau banyunya kada habis-habis, tapi ulun kata tahu kenapa jua bisa kada habis (Iya, memang benar air di dalam sumur ini tidak pernah habis. Saya bekerja lebih 10 tahun sudah, walaupun musim kemarau, airnya tidak habis-habis. Saya juga tidak tahu kenapa tidak bisa habis, Red),” ujarnya.

Sumur itu menjadi pusat kebutuhan dari seluruh pedagang di Pasar Martapura yang berjualan makanan, minuman atau berjualan lain. Hampir tiap hari pengambilan terbilang 3 x 1 sehari untuk para pengambilan pengantar air yang berada di sekitar sumur.

Hal senada juga dikemukakan Ahmad Rizky, warga asli Martapura. “Sebelum saya lahir sumur itu sudah ada dan menjadi bahan pokok pengambilan para penjual air di pasar sampai saat ini,”ujarnya.(sir)

 

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − eleven =