Menelusuri Sejarah Kebakaran Terbesar di Pekauman 1973, Api Sejauh 3 Km Hanguskan 3.000 Bangunan

  • Bagikan
Kelurahan Pekauman Kota Banjarmasin saat ini yang pernah dilanda kebakaran terbesar.Saksi hidup Suryani Ahmad. (foto: leon)
Kelurahan Pekauman Kota Banjarmasin saat ini yang pernah dilanda kebakaran terbesar.Saksi hidup Suryani Ahmad. (foto: leon)

Mengupas sejarah musibah kebakaran terbesar sepanjang zaman yang terjadi pada tahun 1973 di Kelurahan Pekauman, Kota Banjarmasin.

BANJARMASIN, koranbanjar.net– Suryani Ahmad adalah salah satu penduduk asli kampung tersebut yang masih hidup hingga sekarang, diperkirakan usianya berusia 59 tahun mengaku sebagai saksi pertama kali menyaksikan kejadian itu.

Saat ditemui jurnalis koranbanjar.net, Rabu (26/5/2021) di rumah salah satu warga di Jalan RK Ilir Kelurahan Pekauman yang sekarang menjadi Kelurahan Kelayan Selatan menuturkan, pada waktu itu dia baru berusia 9 tahun, kelas 3 SD.

“Kebakaran terjadi awalnya di sebuah gudang karet Gudang Saman, kebetulan waktu itu aku disuruh ibu beli kecap dan es untuk persiapan berbuka puasa,” ujarnya.

Peristiwa itu terjadi di pertengahan bulan Ramadan yakni, tepatnya tanggal 9 Oktober 1973 sekarang menjadi nama jalan di Kelurahan Pekauman Kecamatan Banjarmasin Selatan, yakni Jalan 9 Oktober.

Ketika Suryani masih berada di sebuah warung milik warga bernama Utuh, posisinya tepat berada di depan Gudang Saman yang terbakar.

“Ketika itu aku mau pulang tercium bau getah (karet) terbakar, dan aku lihat dari atap gudang keluar asap, lalu aku bertanya kepada Paman Murhan, salah satu warga yang rumahnya tidak jauh dari gudang, aku bilang paman kenapa itu ada asap di atap.gudang?” tuturnya.

Petugas BPK Hippindo, Nanang Hasan. (foto: leon)
Petugas BPK Hippindo, Nanang Hasan. (foto: leon)

Paman Murhan langsung terkejut sambungnya, lalu dari asap itu tiba – tiba keluarlah api dan seperti akan membesar, maka dirinya pun langsung memukul tiang listrik, sambil berteriak, “kebakaran…kebakaran.”

Setelah warga berdatangan, kemudian Suryani pulang ke rumahnya mengabarkan kepada ibu dan neneknya, dan seketika pula neneknya kaget hingga pingsan.

“Nenek aku langsung pingsan setelah aku beritahu Gudang Saman terbakar,” kenangnya.

Lanjut dikisahkan, saat itu petugas sekuriti yang bertugas menjaga gudang ada 2 orang bernama Janjan dan Kasran. Mereka jaga bergantian atau sistem shif.

“Kebetulan paman aku juga sekuriti juga jaga gudang itu namun kena bagian malam, ” katanya.

Dari situlah awal lautan api terjadi di sepanjang sejarah Kota Seribu Sungai. Api terus berkobar melumat rumah – rumah warga, pergudangan hingga kapal – kapal Bugis.

“Di saat itu pula, angin sangat kencang makin menambah amukan api membesar dan bergulung – gulung melumat apa saja yang ada di depannya, termasuk bangunan yang berada di sisi kanan dan kiri jalan semua habis,” kenangnya lagi.

Ironisnya, waktu itu hanya ada dua mobil BPK yakni, dari Hippindo dan milik Kotamadya. Sehingga tidak mampu memadamkan kobaran api yang terus membesar kala itu.

Ajaibnya, di Masjid Al Mutaqqin warga masih bisa tenang melaksanakan Salat Magrib dan berlanjut ke Salat Tarawih.

“Usai Salat Tarawih, api langsung menyambar, dan alhamdulillah jamaah sempat keluar semua,” tuturnya.

Api terus menggulung hingga panjangnya mencapai kurang lebih 3 kilometer. Hampir 3 ribu bangunan yang terbakar, dan luluh lantak rata dengan tanah.

“Kalau dilihat dari jauh seperti lapangan pesawat terbang mas, rata tidak ada bangunan yang tersisa,” tuturnya lagi.

“Namun ada dua rumah yang lolos, rumah milik orang Cina dan satu rumah milik H.Riduan, sebabnya rumahnya terlindung pohon – pohon,” imbuhnya.

Sementara menurut petugas BPK Hippindo bernama Nanah Hasan yang sekarang menjadi pembina BPK Hippindo, membenarkan kalau hanya ada dua BPK waktu itu, yakni Hippindo yang diresmikan  tahun 1958 dan BPK milik Kotamadya Banjarmasin.

“Kami berupaya apa yang bisa kami selamatkan, walau akhirnya kami tidak mampu menghalau amukan api yang sangat besar waktu itu,”  akunya.

Dikatakannya BPK Hippindo hanya memiliki 2 mesin, dan menurut pengakuannya hingga sekarang masih tersebut masih ada.

“Ini mesinnya yang bukti sejarah berjibaku berupaya memadamkan lautan api itu,” demikian tuturnya.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *