Kisah Korban Perampokan, Salbiah di Liang Anggang, Awalnya Diculik, Kemudian Diploroti

  • Bagikan
KORBAN – Nenek Salbiah menceritakan peristiwa yang dialaminya.(foto: leon)
KORBAN – Nenek Salbiah menceritakan peristiwa yang dialaminya.(foto: leon)

Tindak perampokan dialami seorang nenek, Salbiah (65), warga Jalan Kelayan B Gang Kurnia Banjarmasin belum lama tadi. Kejadian itu sempat membuat nenek ini syok, bahkan trauma. Seperti apa kronologis lengkap kejadian itu, berikut petikan wawancara dengan korban, Salbiah.

BANJARMASIN, Leonsyah – Salbiah menceritakan semua kejadian perampokan yang dialaminya dari awal hingga akhir tanpa dengan lancar.

“Sekitar jam 11 aku pulang dari pasar, tiba-tiba di tengah jalan ada orang dalam mobil memanggil aku, yah…., yah… jar,” kata Nenek yang sudah janda ini.

Diceritakan, mendengar panggilan dua laki-laki di dalam mobil itu, dia menghampiri mobil. Satu dari dua orang yang duduk di bangku depan mengaku keluarga dengan dirinya.

“Ujar orang itu mengaku keluarga, ujarnya hari minggu ini mamanya mau mengadakan acara kawinan, jadi aku disuruh masuk dalam mobil, alasannya mamanya mau memberi baju,” kisahnya.

Setelah masuk ke dalam mobil, Salbiah kemudian dibawa ke luar Kelayan B Banjarmasin. Sesampai tiba di depan Masjid Muhammadiyah, mobil tiba-tiba berhenti.

Salah satu pelaku mengatakan mobil mogok lantaran alarm mobil konslet.

“Ujar orang itu, lepas kuningan (cincin) pian dulu, karena bisa konslet, mobil tidak mau jalan,” tutur Salbiah menirukan ucapan sopir.

Setelah Salbiah melepas satu cincin emas di jarinya, pelaku mengambil tisu dan menyuruh Salbiah membungkus cincin dan memasukan ke dompet.

Kedua pelaku melanjutkan perjalanan, namun bukannya singgah atau kembali ke rumah Nenek Salbiah, melainkan menuju arah luar kota.

“Eh mau dibawa kemana aku nih?” tanya Salbiah mulai curiga.

“Kesitu, kesana, ujarnya, terus ujar aku kemana jauhnya membawa aku nih kemana?” sambungnya.

Mobil terus melaju, memasuki kawasan Jalan Ahmad Yani KM 6, mobil sengaja tidak ingin berhenti di lampu merah untuk menghindari perhatian pengendara dan Pos Satlantas.

“Sengaja mobil memutar agar tidak berhenti di lampu merah, karena khawatir teriakan nenek terdengar keluar,” sahut seorang perempuan yang mengaku menantu Salbiah, bernama Emelda.

Keluar dari kawasan Km 6 menuju luar kota, dari situlah kedua pelaku mulai kasar dan membentak Salbiah. Dia pun kaget ketika dibentak, dia mengucapkan zikir sepanjang jalan.

” “Diam!” ujar si Sopir membentak aku, astagfirullah ucapku sepanjang jalan berzikir aja, ya Allah selamatkan aku,” tuturnya.

Salbiah sudah menyadari dirinya diculik dan mengetahui bahwa kedua pelaku bukanlah keluarganya, melainkan perampok. Salbiah berontak, melawan sembari berteriak meminta tolong.

“Aku mencoba melawan, sambil bereriak tolong…tolong…, tapi sia- sia orang tidak yang mendengar,” ucapnya.

“Aku tendang- tendang sampai aku tidak terpikir lagi daster ku tasingkai (pakaian terbuka) tak tahu lagi aurat ku terbuka, ” imbuhnya.

Perlawanan Salbiah melepaskan diri dari sekapan kawanan perampok sia-sia, akhirnya Salbiah pasrah setelah kehabisan tenaga.

Sesampai di sebuah jalan sepi di kawasan Jalan Liang Anggang Banjarbaru, mobil berhenti di sebuah jalan sepi. Di sana terdapat sebuah bangunan berbentuk gudang yang terlihat kosong, tuturnya.

“Di dalam gudang itu badanku didorong hingga gugur teesandar di dinding. Semua perhiasan, kalung, gelang semua dirampas pas di mobil, tinggal dua cincin yang masih melekat di jari,” kenangnya.

Melihat Salbiah lunglai tak berdaya, dua cincin yang masih tersisa di jari tangan yang sudah nampak keriput itu pun turut dirampas.

“Akhirnya cincinku yang masih di jari pun dirampasnya, habis pang dah beratataan,” katanya sembari mata berkaca-kaca.

Usai menyekap dan memploroti perhiasan Salbiah, kedua pelaku melarikan diri dengan meninggalkan nenek dalam keadaan lemah dan hampir tak mampu berjalan.

Dengan perlahan Salbiah mencoba berjalan keluar dari gudang, hingga sampailah dia ke jalan namun masih terlihat sepi.

Lalu Salbiah berteriak minta tolong, selang beberapa menit tiba-tiba lewat seorang pengendara motor dengan membawa muatan berupa kayu ulin.

“Orang ini lewat aja pas aku minta tolong, tolong, tolong aku dirampok ujar ku, tapi tiba – tiba orang itu stop dan kembali,” tuturnya.

Setelah pengendara itu bertanya perihal yang terjadi, akhirnya pengendara itu merasa kasihan dan langsung membawa dirinya.

“Hingga mau orang itu mengantarkan aku ke rumah, padahal dia membawa ulin, tetapi diturunkan ulin, mau mengantarkan aku ke rumah,” ungkapnya.

Setelah sampai di depan rumah, seisi rumah, anak, cucu saudara Salbiah juga sedang mengkhawatirkan dan sibuk mencarinya kemana-mana, seketika menyambut penuh bahagia bercampur tangis dan sedih.

“Kenapa pian nek, kemana aja pian, kami abut mencari pian, ujar anak cucu ku di rumah nih, aku kisahkan ai kalau aku habis dirampok,” tuturnya lagi.

KOBAN – Nenek Salbiah menceritakan kronologis kejadian. (foto: leon)
KOBAN – Nenek Salbiah menceritakan kronologis kejadian. (foto: leon)

Pihak keluarga tidak terima dan sakit hati mendengar orang tua satu-satunya yang masih hidup diculik dan dirampok, akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Banjarmasin Selatan.

Kurang dari 24 jam, polisi menangkap pelaku berinisial RN (41) warga Duren Sawit, Jakarta Timur. Dia ditangkap saat mau kabur menggunakan Kapal Mila Utama pada Selasa (5/10/2021) malam.

Penangkapan melibatkan tim gabungan dari Unit Reskrim Polsek Banjarmasin Selatan, Jatanras Polresta Banjarmasin, Timsus Polresta Banjarmasin dan Resmob Polda Kalsel. Sementara satu pelaku lainnya saat ini masih dalam pengejaran.

Menurut keterangan pelaku diduga sindikat perampokan lintas provinsi.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *