Kisah 3 Remaja Korban Jumat Kelabu 23 Mei Hingga Sekarang Tak Kunjung Pulang

  • Bagikan
Ayah salah satu korban, Fitri yakni, Islandi.
Ayah salah satu korban, Fitri yakni, Islandi.

Kisah tentang 3 remaja bernama Fitri, Firman dan Ramin, korban kerusuhan 23 Mei 1997. Hingga saat ini nasibnya tidak diketahui sejak menghilang di malam mencekam tragedi berdarah Jumat Kelabu 23 Mei 1997.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Cerita ini dituturkan ayah Fitri, satu di antara 2 orang korban bernama Islandi lewat wawancara kepada jurnalis media ini, Senin (24/5/2021) di rumahnya Jalan 9 Oktober Gang Sidodadi Kelurahan Pekauman, Kecamatan Banjarmasin Selatan.

“Sebelum kerusuhan itu terjadi, anak saya (Fitri) sudah saya bilangin, jangan keluyuran ini minggu tenang, tetapi tanpa sepengetahuan saya, malam sesudah waktu Isya ia pergi bersama 2 kawannya bernama Firman dan Ramin menuju Mitra Plaza, katanya mau ikut menjarah, ya mungkin ada yang mengajak dan mempengaruhi, maklum masih usia remaja saat itu,” tutur Islandi.

Setelah ditunggu – tunggu sampai jam 12 malam ketiga anak ini tidak pulang – pulang, akhirnya Islandi memutuskan nekat mencari anaknya menuju Mitra Plaza, padahal malam itu suasana sangat mencekam, kobaran api di mana mana dan warga dilarang ke luar rumah.

Sesampai di Mitra Plaza, Islandi langsung masuk menerobos pintu gerbang, setelah sampai di lantai dasar Mitra Plaza, kata Islandi malam itu tidak ada lampu atau penerangan, semua ruangan gelap gulita.

Dirinya yang saat itu menggunakan helm di kepala mengaku tiba – tiba tubuhnya digebuki polisi, sebab menurutnya di dalam gedung Mitra Plaza saat itu banyak aparat kepolisian.

“Kalau tidak salah sebanyak 7 kali belakang saya digebuki pakai senjata, namun saya tidak perduli, saya tidak menjarah, saya hanya ingin mencari anak saya dan membawanya pulang,” ceritanya.

Di saat mencari anak sulungnya, Islandi mengungkapkan bunyi letusan seperti suara tembakan sangat jelas terdengar di dalam gedung  Mitra Plaza waktu itu.

“Ini bukan isu dari siapa – siapa, ini saya langsung sebagai saksi hidup dalam peristiwa ini, dan sayalah korban pemukulan aparat, sayangnya tidak ada saksi waktu itu,”  kenangnya.

Tidak berhenti sampai disitu, pasca tragedi Jumat Kelabu dan situasi mulai longgar, semenjak itu dirinya terus mencari informasi keberadaan Fitri dan 2 orang temannya.

“Saya sudah cek kuburan massal di pal 23 Landasan Ulin juga tidak ada, dari situlah  saya merasa yakin, kalau Fitri masih hidup,” katanya.

Akhirnya Islandi nekat mencari informasi keberadaan anaknya di luar Kota Banjarmasin. Ia pernah menyusuri wilayah Tanjung, Tabalong, bahkan sampai Kota  Palangkaraya, namun usahanya hanyalah sia – sia , anak sulungnya juga tetap tidak ditemukan.

Istrinya, Sri Lestari sejak kehilangan anaknya, kurang lebih 15 hari tidak makan, shock, dan hampir setiap hari melamun.

Setelah seiring berjalannya waktu, pada bulan Juni 1997, tepatnya hari Jumat, Islandi tertidur dan bermimpi bertemu anaknya kemudian mengatakan, Fitri bersama 2 temannya sedang berada d Anjir Kabupaten Batola bersama orang tua.

“Sejak saat itu saya berkeyakinan kalau Fitri dan 2 teman akrabnya telah dijemput yang Maha Kuasa,” tuturnya lagi saraya matanya memerah dan berkaca kaca.

Lalu setelah berunding semua keluarga maka diputuskanlah, setiap. tanggal 23  Mei diadakan haul almarhum Fitri begitu pula dengan 2 almarhum kedua temannya.(yon/sir)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *