Kesedihan Keluarga Korban Tragedi Alfamart di Malam Takbiran Idul Fitri  

Ayah Almarhum Ahmad Nayada, Sukran
Ayah Almarhum Ahmad Nayada, Sukran

Ungkapan kesedihan keluarga salah satu korban tragedi robohnya bangunan Alfamart Gambut kala merayakan malam lebaran Idul Fitri membuat hati terenyuh bagi yang mendengar.

GAMBUT, Abdurahman Leonsyah

Minggu sore tadi, 8 Mei 2022, jurnalis koranbanjar.net mendatangi rumah almarhum Ahmad Nayada, salah satu korban tragedi robohnya bangunan Alfamart 3 minggu lalu.

Rumah kayu yang berada di Desa Handil Jambu nomor 25, Kelurahan Manarap Baru Kabupaten Banjar itu hanya dihuni dua pasangan suami istri yang sudah tua, yang laki – laki bernama Sukran (60) dan istrinya Rusmila (50 ). Keduanya tidak lain adalah ayah dan ibu almarhum Ahmad Nayada.

Kepada jurnalis media ini, Sukran mengungkapkan kesedihan mendalam saat ketidakhadiran anak laki-laki satu-satunya dari dua saudaranya yang perempuan karena pergi menghadap ilahi untuk  selamanya ketika mendengar takbir malam lebaran Idul Fitri.

“Mamanya (ibu) sampai saat ini masih terbayang almarhum, selalu menangis ketika ingat almarhum, pada waktu malam lebaran sampai dua hari lebaran, mamanya selalu menangis, habis tamu-tamu pulang menangis lagi hingga bengkak mata istri saya keseringan menagis,”  ungkap Sukran dengan mata terlihat memerah.

Diceritakan, Ahmad Nayada (alm) yang masih berusia 25 tahun biasa setiap tahun malam lebaran bersama dua saudara perempuannya selalu berkumpul di rumahnya.

“Namun tahun ini, malam lebaran terasa hampa tanpa kehadiran almarhum, kami semua bersedih, mamanya dan saudara – saudaranya menangis mengenang ia,” kata Sukran yang hanya seorang petani ini dengan lirih.

Bahkan sang ibu yang bekerja sebagai tukang pijit ini berjanji tidak akan melayani pelanggan atau orang yang ingin pijit sampai 25 hari almarhum.

“Banyak yang telepon ingin pijit dan ada yang datang ke rumah di tolak sama istri saya, katanya nanti dulu sampai 25 hari almarhun, soalnya kalau – kalau pelanggan tanya – tanya tentang almarhum, pasti istri saya nangis lagi menceritakan,”  tuturnya.

Dikatakan Sukran, almarhum sebenarnya adalah anak tirinya, ayah kandungnya ada di Banyiur Banjarmasin. Namun Sukran mengaku sangat menyayanginya karena semenjak kecil dipelihara sampai  disekolahkan hingga sempat kuliah di Uniska, namun terminal karena tak cukup biaya untuk meneruskan pendidikan kuliah almarhum.

“Selain mamanya yang sangat menyayangi almarhum, saya juga begitu sama menyayangi anak sendiri sebab sejak kecil ikut mamanya dengan saya,”  katanya.

Almarhum dalam kesehariannya type orang pendiam dan tidak suka bergaul, sehabis pulang kerja kata Sukran, banyak di rumah kecuali ada panggilan dari bos perusahaan almarhum bekerja.

“Ia type orang pendiam, dan hemat,” ucapnya.

Ada kebiasaan almarhum yang membuat Sukran dan istrinya kagum dan tidak bisa melupakan hingga akhir usia.

“Setiap ingin berangkat kerja selalu sujud kepada kedua orang tuanya, walau gimanapun sibuknya atau mendesaknya mau berangkat kerja, sujud kepada ayah dan ibunya tidak pernah lupa, pernah saya lagi salat dhuha, ditunggui sampai selesai salat, hanya untuk sujud,”  kenangnya.

Almarhum Ahmad Nayada foto sebelum meninggal.(medsos)
Almarhum Ahmad Nayada foto sebelum meninggal.(medsos)

Dirinya menceritakan ketika mengantar jasad anaknya menuju pembaringan terakhir di alkah keluarga di Kelayan B Banjarmasin, kerabat, sahabat dan temannya serta orang – orang yang kenal dengan almarhum ikut memakamkan, padahal kala itu kata Sukran cuaca hujan.

Lebih mengharukan, seorang perempuan datang melihat almarhum terbaring di rumah dan hendak dikuburkan tiba – tiba menangis terisak – isak tiada henti sambil memanggil nama almarhum.

“Ternyata perempuan itu adalah calon istri alamarhum anak saya, soalnya almarhum tidak pernah cerita tentang calon teman hidupnya, perempuan itu datang bersama ibunya dan juga ikut menangis, sampai ikut mengantarkan jasad almarhum terus terusan menangis,”  ungkapnya.

Padahal lebih lanjut dikatakan, istrinya berencana ingin menikahkan almarhum namun belum ditentukan waktunya, akan tetapi Allah berkehandak lain, malaikat maut telah lebih dulu menjemputnya.

“Kita sayang, penciptanya mungkin lebih sayang,”  ucapnya.

Sebelum kejadian maut itu merenggut nyawanya, diceritakan Sukran, almarhum bilang kepada kedua orang tuanya, kalau ingin berbuka puasa di Liang Anggang dan ingin mengajak calon istrinya itu.

Namun, setelah ditunggu – tunggu olah sang calon istri sampai jam 5 sore tak kunjung ada kabar.

“Tiba – tiba terdengar kabar duka, kalau anak saya tertimpa reruntuhan bangunan Alfamart, dan meninggal dunia,” kenangnya.

“Mudah-mudahan almarhum tenang di sana dan mendapatkan tempat yang layak,  aamiin mohon doanya,” sambungnya seraya menutup wawancara dengan doanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.