Kebakaran Rumdin Guru di Gambut Kalsel Sisakan Cerita Pilu, Sedih Karena Cincin Kawin Ikut Terbakar

  • Bagikan
Tri dan Heri hanya memandang puing - puing banguan rumah mereka yang terbakar dengan raut wajah sedih.(foto: leon)
Tri dan Heri hanya memandang puing - puing banguan rumah mereka yang terbakar dengan raut wajah sedih.(foto: leon)

Kebakaran yang terjadi di Komplek Perumahan atau Rumah Dinas para guru di Jalan Ahmad Yani Km 15 Gambut, Kalimantan Selatan telah menyisakan cerita pilu. Antara lain, salah satu korban mengaku sangat sedih, karena cincin kawin yang menjadi kenang-kenangan turut terbakar.

BANJAR, koranbanjar.net – Musibah kebakaran yang menghanguskan 10 rumah dinas guru serta membuat 39 jiwa kehilangan tempat tinggal masih menyisakan cerita pilut.

Sejumlah korban kebakaran yang sempat ditemui jurnalis media ini di RT 22 Kelurahan Gambut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Rabu (29/9/2021), telah menumpahkan kesedihannya.

“Kebakaran ini menghabiskan harta seisi rumah saya mas, tidak sempat menyelamatkan harta semua habis dimakan api,” ujar Tri atau biasa dipanggil Pak Tri yang mengaku sudah 20 tahun tinggal di rumah dinas Kabupaten Banjar tersebut.

Tri juga menceritakan, saat api mulai membesar dia lebih fokus menyelamatkan ketiga anaknya. Bahkan sampai sekarang ketiga anaknya kadang menangis, karena masih trauma.

“Hanya sebuah sepeda motor harta satu-satunya yang dapat diselamatkan, karena kebetulan berada di luar rumah,” tuturnya.

Cukup mengharukan lagi, ujarnya, cincin kenangan milik istrinya juga ikut hilang terbakar.

“Cincin itu cincin kenangan milik istri saya, dia begitu menyayangi cincin itu, namun saya bilang sudahlah, semua harta dunia hanya titipan dari Allah dan kita kenbalikan semuanya kepada Allah, kita harus bersabar,”  ucapnya.

Lalu, lanjut Tri, dia bilang kepada istrinya kalau ingin menangisi dunia tangisilah, tapi kalau kita kembalikan semua adalah takdir, ini ketentuan Allah.

“Mudah – mudahan dibalik semua ini ada hikmahnya,” katanya lirih.

Tidak berbeda dengan Heri, meskipun rumah yang ia tempati itu adalah milik almarhumah ibunya yang baru saja wafat sekitar 10 hari lalu, namun Heri mengaku cukup syok.

“Semua harta peninggalan ibu saya habis terbakar tidak ada yang tersisa, saya hanya.memandang puing – puing rumah sembari mencari sesuatu kali aja barang yang belum dimakan api,” tuturnya dengan senyum namun terlihat sedih.

Saat ini Tri dan Heri beserta korban terdampak lainnya masing-masing mengungsi di tempat keluarga.

Adapun bantuan berupa sembako dan bahan makanan dari BPBD Banjar sangat cukup, ditambah bantuan dari berbagai pihak lainnya.

“Saat ini besar harapan kami agar Pemda membangunkan kembali tempat tinggal, untuk kami berteduh, tidur dan beristirahat. Mudah – mudahan secepatnya dibangun,” harapnya sembari wajah kedua laki – laki ini memandang ke arah puing bangunan yang tinggal arang.(yon/sir)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *