Cerita Sedih Peserta CPNS, Korban Kebakaran di Gambut, Ketika Pulang Hanya Lihat Rumah Jadi Arang

  • Bagikan
Ikhsan memandang puing rumahnya yang menjadi arang.(foto: leon)
Ikhsan memandang puing rumahnya yang menjadi arang.(foto: leon)

Salah satu korban kebakaran di Komplek Perumahan Guru (Rumah Dinas) di Gambut Kalimantan Selatan, Ikhsan menceritakan kesedihannya saat mengalami musibah kebakaran. Kala itu, dia sedang mengikuti tes CPNS di Kota Banjarbaru. Begitu pulang, dia hanya melihat rumahnya sudah menjadi arang.

BANJAR, koranbanjar.net – Penelusuran koranbanjar.net, Sabtu (2/10/2021) kemari, sejumlah korban kebakaran rumah dinas di Keluarahan Gambut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar sedang menatap puing-puing bangunan rumah yang sudah menjadi arang.

“Saat itu saya sedang mengikuti tes CPNS di Kota Banjarbaru, sebelum tes dimulai peserta di rapid tes antigen dulu. Saat saya sedang menjalani rapid, tiba-tiba saya melihat di group WA, bahwa komplek perumahan guru kebakaran,” ceritanya.

Setelah memastikan kabar itu benar, Ikhsan seketika langsung pulang menuju Gambut dengan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan cukup tinggi.

Sesampainya di Komplek Perumahan Guru, lanjut Ikhsan, dia langsung terduduk lemah, melihat bangunan rumahnya menjadi arang.

“Saya langsung terduduk mas, lemah tak berdaya, bingung sudah tidak ada satupun harta yang kelihatan, semua menjadi arang,” tuturnya.

Lebih membuatnya bersedih, puluhan handpone dan beberapa biji laptop milik pelanggan yang dititipkan kepadanya untuk minta diperbaiki juga turut terbakar. Ikhsan membuka usaha jasa, servis elektronik rumahan atau panggilan.

Lantas bagaimana dirinya mengganti handpone dan laptop – laptop itu? Kata Ikhsan dirinya hanya bisa pasrah, sebab jangankan untuk mengganti, untuk tinggal dan tidur pun dirinya masih bingung, karena katanya hanya rumah yang terbakar itu satu-satunya tempat berteduh.

“Namun sebagian pelanggan sudah saya kasih tahu, dan mereka merelakan handponenya juga ada yang tidak ingin diganti,” sebutnya.

Ikhsan berharap pemerintah daerah membangunkan tempat tinggal yang baru walau katanya hanya terbuat dari kayu.

“Sebab kami bingung mau tinggal di mana, walau dari kayu biasa asal layak ditempati,” harapnya.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *