Wisata Religi di Astambul ini Dikotori oleh Oknum Tak Berbudi

ASTAMBUL, KORANBANJAR.NET – Makam ayahanda Datu Kelampaian, yaitu Abdullah bin Abu Bakar yang berada di Desa Lok Gabang, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar ini menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kalimantan Selatan khususnya di Kabupaten Banjar.

Banyaknya peziarah yang datang dimanfaatkan oleh sekelompok ibu-ibu untuk berjualan bunga yang biasanya diletakkan di pusara. Namun ternyata pengais rezeki di wisata religi tersebut memiliki banyak sisi negatif.

Dari pantauan koranbanjar.net Sabtu (11/08) lalu di lokasi parkiran makam, ibu-ibu penjual bunga tersebut langsung menghampiri rombongan peziarah dan menawarkan barang dagangannya saat mereka baru saja memasuki area parkir mereka langsung menyerbu para peziarah.

Hal ini menjadi permasalahan dan juga menjadi sedikit gangguan karena para peziarah dipaksa untuk membeli, setelah dibeli satu, penjual itu malah mau minta beli lagi.

Hindun, warga Barabai, Kabupatem Hulu Sungai Tengah yang sedang saat itu hendak ziarah merasa geram.

“Di situ tadi saya beli bunga seharga Rp2000 dan saya memberikan uang Rp10000 kepada penjual, saya kira penjual mau memberikan kembaliannya tapi saya malah di suruh membeli lagi dengan uang sisa kembalian itu. Penjualnya juga bersuara ‘bagi-bagi rezeki lah dengan yang lain jangan satu orang saja yang dibeli’, mendengar ucapan seperti itu saya merasa geram dan saya pun merasa tersinggung akhirnya saya pun membeli kembali,” keluh Hindun.

Tidak sampai di situ, pada saat memasuki area makam, peziarah kembali dihadapkan dengan beberapa orang laki-laki yang mencoba meraup keuntungan dari para peziarah.

Norhayati, warga Barabai, Kabupaten HST ini juga menceritakan kejadian yang dia alami selama berada di dalam area makam.

“Mulanya saya bersama anak saya masuk ke dalam makam dan ada satu orang laki-laki yang mengikuti dan menyuruh untuk duduk persis di depan pagar makam, saya pun di suruh laki-laki itu untuk meletakan tangan di atas maqam ayahanda Datu Kelampaian ini dan laki-laki ini memimpin do’a saya setelah selesai saya dimintai uang Rp29.000. Saya pun terkejut dan merasa marah, saya terpaksa mengeluarkan uang sebesar Rp29000. Nah, pada saat saya mau keluar saya dihadang lagi dengan satu orang dan menyuruh saya untuk membuat uang kembali ke tempat yang sudah tersedia, dia bilang ‘masukan kesini Rp5000 uangnya buat kami melaksanakan haulan nantinya’, erpaksa lagi saya mengeluarkan uang, seandainya tidak dipaksa saya juga mau menyumbangkan, apakah di tempat ini sudah ada tarifnya untuk menyumbang? Padahal menyumbang kan seikhlasnya,” ujarnya kepada koranbanjar.net.

Salah satu penjual yang hendak koranbanjar.net dimintai keterangan pun malah ngacir saat ditanya mengenai paksaan membeli bunga yang dijualnya.

Apakah seperti ini potret wajah makam seorang ulama besar di Kalimantan Selatan? yang dihiasi dengan adanya oknum penjual yang memaksa peziarah membeli jualannya, dan oknum yang memaksa menyumbang untuk kemaslahatan di makam tersebut.

“Orang kecil tidak bisa berbica cuma bisa berharap kepada instansi terkait untuk menyikapai masalah ini,” ujar peziarah lain bernama Muhammad, warga Barabai, Kabupaten HST.(ami/ana)

Read Previous

Bocah Tenggelam di Sungai Barito Ditemukan

Read Next

Gardu Prabowo Bertekad Menangkan Pilpres

Tinggalkan Balasan