Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Webinar Literasi Digital Banjarmasin: Revolusi Industri 4.0 Hadir Bersama Peluang Bisnisnya

  • Bagikan
Webinar Literasi Digital Banjarmasin: Revolusi Industri 4.0 Hadir Bersama Peluang Bisnisnya

BANJARMASIN, Koranbanjar.net – Revolusi industri 4.0 menandakan bahwa perkembangan dunia digital sudah semakin maju.Kemajuan teknologi yang membuka peluang usaha dan bisnis ini menjadi semakin digemari masyarakat.

Upaya-upaya di bidang pendidikan terkait dengan tujuan pemerintah dalam mendidik generasi bangsa yang berdikari terus digelar.

Salah satu program yang terus dilaksanakan adalah literasi digital dengan 4 pilar dalam peta jalan literasi yaitu digital safety, digital culture, digital ethics, dan digital skills.

Webinar literasi digital Kota Banjarmasin, Sabtu (24/7/2021) dimulai pukul 14.00 Wita, diikuti 61 peserta. Webinar dipandu host Ronald Andretti dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina.

Pemateri pertama, Alexander Dimas, Regional Bussines Leader APAC of Honeywell CEO PT Ragam Indonesia memaparkan materi terkait Revolusi Industri 4.0 dengan perubahan yang ada di dunia internet.

“Komunikasi dan kerjasama global antar karyawan, konsumen, penjual, dan rekan bisnis bisa dilakukan secara virtual. Selain itu, strategi bisnis, marketing, sales dan service to customer bisa dialihkan melalui aplikasi atau online media,” ujar Alex.

Alex menjabarkan peluang bisnis dan pekerjaan yang sekarang bisa dilirik oleh generasi muda untuk memanfaatkan dunia digital. “Finance Technology, Software as a Service, dan Cloud Hosting.

Ia menyimpulkan ada 3 keahlian dasar yang dibutuhkan di era sekarang untuk bisa bertahan dalam kemajuan teknologi. “Human capabilities, specialized skills, and technology skills,” jelas Alex.

Pemateri kedua, Galuh Nashrulloh, dosen Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB Banjarmasin membagikan materi tentang peran komunitas akademik dalam pendidikan di era digital. “Tujuan pendidikan nasional itu ada sikap spiritual, sikap sosial, dan pengetahuan serta keterampilan,” jelasnya.

Galuh memaparkan bahwa saat pandemi seluruh komponen pendidikan sedang marak melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring.

“Mas Menteri Nadiem bilang kalau pendidikan jarak jauh bisa permanen, ini berdasarkan keadaan kita sekarang dan didukung oleh pemanfaatan teknologi. Tim Balitbang Kemendikbud sudah merumuskan kurikulum permanen ini, fokusnya lebih ke penyederhanaan belajar, aspek literasi, numerasi dan pendidikan karakter.

Kendalanya masih terkait kecakapan guru serta jangkauan listrik dan internet,” jelasnya.

“Peta kompetensi dalam keterampilan itu ada empat, communication, collaboration, critical thingking and problem solving, creativity and innovation,” kata Galuh.

Pemateri ketiga, Chika Audhika, Co-Founder dan CMO of Bicara Project memberikan tips membuat rekam jejak digital yang baik. “Sekarang, sosial media contohnya Instagram itu seolah jadi CV otomatis kita loh! Sewaktu kita melamar kerja, mayoritas pihak HRD malah liatin sosial media kita,” ujarnya.

“Nah rekam jejak digital yang baik itu mengunggah konten dan komentar positif, memutus tali hoax, dan menjaga penyebaran data diri,” jelas Chika.

Perempuan berambut panjang ini juga memberikan informasi manfaat rekam jejak digital yang baik. “Menciptakan branding, memperluas koneksi, dan membuka peluang bisnis.”

Pemateri terakhir, Muhammad Nurjani, Onlinepreuner dan Founder UKM FKIP Mengajar ULM melakukan sharing session online business. “Usaha yang meningkat itu sekarang tergantung kemampuan teknologi informasi dan komunikasi,” kata Nurjani.

“Alasan kenapa harus bisnis online karena modalnya kecil, gak perlu macet, hemat waktu, resikonya kecil, bisa di mana saja, dan pelanggan bisa di seluruh dunia,” jelasnya.

Nurjani juga memaparkan alasan kenapa seringkali orang ragu dan gagal dalam memulai bisnis. “Itu karena tergantung produk, promosi, toko online, closing skill, mentoring, dan data base konsumen,” tambah Nurjani.

Ia mengutip salah satu perkataan Bob Sadino, “Bisnis yang bagus bukanlah bisnis yang dipertanyakan, melainkan bisnis yang dimulai.”.(koranbanjar/and)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *