BNN

Terungkap Tawuran Banjarmasin Terjadi Tiap Minggu, Gunakan Celurit, Pisau sampai Kayu

  • Bagikan
SENJATA - Kayu salah satu senjata yang digunakan sekelompok remaja Minggu pagi, (26/9/2021) di kawasan wisata Siring Bakantan, Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: leon/koranbanjar.net)
SENJATA - Kayu salah satu senjata yang digunakan sekelompok remaja Minggu pagi, (26/9/2021) di kawasan wisata Siring Bakantan, Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: leon/koranbanjar.net)

Mulai terungkap, peristiwa tawuran di Jl Piere Tendean, persisnya di kawasan wisata Siring Bekantan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bukan tawuran biasa. Tawuran yang sering melibatkan para remaja itu terjadi setiap Minggu. Lebih mengerikan, tawuran sering menggunakan berbagai senjata tajam, mulai pisau, celurit sampai senjata kayu.  

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Saksi mata di lokasi kejadian mengungkap, kawasan wisata  Siring Bakantan, Kota Banjarmasin memang sering dijadikan ajang kenakalan remaja, salah satunya tawuran antar kelompok. Parahnya, mereka menggunakan senjata tajam.

Dari beberapa sumber informasi yang diperoleh koranbanjar.net di lokasi kejadian, Minggu (26/9/2021), tawuran melibatkan antar dua kelompok remaja yang rata-rata berusia antara 14 hingga 18 tahun.

“Kelompok yang satu diperkirakan 20 orang lebih, dan kelompok lawan juga demikian sama – sama banyak, makanya jalan depan siring penuh dengan anak-anak tadi. Kasihan pengendara motor dan mobil terganggu, bahkan ada yang terhenti,” tutur warga yang enggan menyebutkan nama, dan mengaku puluhan tahun tinggal sekitar Siring Jalan Piere Tendean Banjarmasin.

Warga Kota Banjarmasin ini juga menceritakan, yang membuat dirinya dan pengunjung siring takut, masing-masing kelompok menggunakan berbagai senjata tajam.

Kawasan Wisata Siring Jl Piere Tendean yang kerap menjadi lokasi tawuran anrtar kelompok di Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: leon/koranbanjar.net)
Kawasan Wisata Siring Jl Piere Tendean yang kerap menjadi lokasi tawuran anrtar kelompok di Kota Banjarmasin, Kalsel. (foto: leon/koranbanjar.net)

“Ada celurit tadi di putar-putar, keris, pisau dan lainnya menggunakan pentungan dari kayu ulin panjang, ada yang pendek. Pokoknya saya takut, pengunjung juga takut,”  ungkapnya.

Ditanya, apakah ada tindakan dari aparat kepolisian atau Satpol PP saat tawuran terjadi, dia mengatakan, tindakan polisi lamban. Setiap datang ke TKP,  tawuran sudah bubar, padahal peristiwa ini sudah sering terjadi dalam beberapa minggu terakhir.

“Biasa setiap minggu, pukul sembilan pagi sudah mulai beraksi masing-masing kelompok, ada sudah menyiapkan senjata tajam,” katanya.

“Saya sudah bilang kepada anggota Kepolisian Sektor Banjarmasin Tengah yang sempat datang ke lokasi kejadian, kata saya bapak telat, kalau mau ketemu saat berlangsung kejadian, hari Minggu pukul 9  pagi jangan datang agak siang,” sambungnya.

Sementara itu, salah seorang anggota Ajenrem 101/Antasari, Budi mengaku, beberapa anak yang terlibat tawuran sempat bersembunyi di markas Ajenrem yang tidak jauh dari lokasi tawuran.

“Tadi sempat sembunyi di sini mas beberapa orang dan kita amankan,” ucapnya saat ditemui di pintu penjagaan markas Ajenrem 101/Antasari di dekat siring Piere Tendean.

Dia berharap aparat penegak hukum, dalam hal ini Polsek atau Polresta yang memiliki wilayah hukum di tempatnya agar aktif melakukan patroli, terutama tiap Minggu.

“Juga Satpol PP harus intens patroli di kawasan wisata Siring Piere Tendean, bukan hanya pedagang aja yang diburu, tetapi hal yang  mengganggu keamanan dan ketententraman pengunjung harus diperhatikan,” ucapnya sedikit tegas.

Jurnalis koranbanjar.net berupaya menemui Ketua RT setempat, Roni untuk meminta keterangan lebih detail, namun yang bersangkutan tidak berada di rumah. Tawuran di wisata Siring Bakantan, Kota Banjarmasin ini sudah sangat meresahkan pengguna jalan dan warga setempat.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 8 =