Menengok Pasar Kue Khas Banjar di Pasar Martapura, Kelelepon dan Kakicak sering Diburu Wisatawan  

Dagangan kue khas Banjar di Kota Martapura, Kalsel.
Dagangan kue khas Banjar di Kota Martapura, Kalsel.

Kalimantan Selatan tak hanya terkenal dengan wisata religi, banyak hal yang bisa diekplore untuk menjadi daya tarik pelancong. Salah satunya Pasar Kue Khas Banjar di Pasar Martapura, Kabupaten Banjar.

MARTAPURA, koranbanjar.net – Kalimantan Selatan juga memiliki daya tarik dengan kuliner khas Banjar yang beragam. Jika ingin menikmati kuliner khas Banjar, pelancong bisa belanja kue-kue seperti kelelepon, kue bangkit, kue petah atau makanan ringan lainnya di Pasar Wadai (Kue) Martapura, yang berada di tepi jalan dekat terminal pasar atau samping Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat Martapura.

Reportase wartawan koranbanjar.net Rabu (29/12/2021), salah satu pedagang kue khas Banjar, Uwai (38) bercerita, dia berjualan kue selama 15 tahun di Pasar Wadai Martapura.

Ibu yang mempunyai dua anak ini mengaku sudah mengalami pasang surut berjualan kue di pasar tersebut.

“Saya memulai berjualan kue karena keinginan sendiri, bukan karena turun-temurun dari keluarga. Selama 15 tahun berjualan, saya sudah mengalami pemindahan tempat berjualan dari belakang pasar ke samping depan pasar,” ucapnya.

Ditambahkan, dia membayar biaya sewa lapak, pajak setiap bulan dan biaya karcis setiap harinya. Saya berjualan kue setiap hari mulai pukul 07.30 pagi sampai 17.00 sore ditemani satu orang yang bantu, ” ucap Uwai.

Warung Kue Uwai menjual berbagai macam kue khas Banjar, seperti kelelepon, kakicak, kue petah, kue bangkit, lemang dan jengkol khas Martapura. Selain itu, Uwai juga menjual berbagai cemilan dan kue lainnya, seperti kue ruko, dodol, kue sagu, kue bawang, kue brem, dan masih banyak lagi.

Kue kelelepon, kikicak dibuat Uwai di tempat berjualan setiap hari. Kue yang paling sering dicari pelancong adalah kelelepon, kikicak, kue petah dan jaring (jengkol). Sedangkan untuk kue kering dan cemilan lainnya, Uwai biasanya membeli dari produsen cemilan dan dijual kembali.

“Pendapatan berjualan kue tidak menentu, sehari-hari kadang laku dari Rp200.000 sampai Rp 300.000. Itu pun masih penghasilan kotor, bersihnya paling Rp50.000 per hari, ” tambah Uwai.

Dagangan kue khas Banjar di Kota Martapura, Kalsel.
Dagangan kue khas Banjar di Kota Martapura, Kalsel.

Menurut Uwai, saat harga bahan kue naik, dia tidak bisa menaikkan harga penjualan kue begitu saja karena takut mempengaruhi harga pasaran kue pedagang lain.

“Jadi ya kalau harga naik, ya sudah segitu saja pendapatan saya. Sama-sama saja harganya, yang penting setiap hari ada yang laku sudah alhamdulillah, ” ucap Uwai.

Sebelumnya di waktu pandemi masih berlangsung, Uwai memberitahu bahwa kadang jualannya sangat sedikit yang laku, bahkan pernah tidak laku sama sekali. Namun, dia harus tetap berjualan setiap hari meskipun waktu operasional dibatasi.

Menurutnya dengan tetap berjualan dan semangat, hanya inilah cara untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Jika hanya mengandalkan suami yang berprofesi sebagai pekerja bangunan, tidaklah mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia berusaha sekuat tenaganya, agar anak-anaknya bisa menempuh jenjang sekolah yang tinggi.

Harapan Uwai, pemerintah bisa memberikan bantuan baik berupa modal untuk UMKM atau bantuan lainnya tanpa perlu syarat yang membebani pedagang.

Menurutnya, ini adalah salah satu cara untuk membantu mengembangkan bisnis pedagang-pedagang kue di Pasar Wadai Pasar Martapura.(magang01/sir)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *