Menelusuri Kehidupan Warga Kelayan, Terbiasa Gunakan Air Sungai Meski Banyak Jamban

  • Bagikan
SUNGAI KELAYAN - Beginilah Sungai Kelayan di Kota Banjarmasin. (sumber foto: sijaka.wordpress.com)

Kehidupan warga Kelayan A dan B, Kelurahan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin, tidak jauh dari kehidupan air sungai. Secara turun temurun, sebagian besar warga Kelayan sudah terbiasa hidup menggunakan air sungai, baik untuk mandi, mencuci, bahkan buang hajat. Walaupun di bantaran sungai banyak ditemukan jamban (tempat buang hajat), namun kebutuhan air sungai untuk semua kebutuah sehari-hari tak dapat hindari.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Air adalah kebutuhan yang sangat vital. Di Kota Banjarmasin, air sangat mudah ditemukan, di mana-mana selalu ada sungai, tak mengherankan bila Kota Banjarmasin dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai. Bahkan secara turun temurun, sebagian warga Kota Banjarmasin selalu dekat dengan kehidupan di tepi sungai. Salah satunya adalah penduduk yang tinggal di Kelayan A dan B, Banjarmasin Selatan.

Sungai Kelayan tak hanya menjadi lalu lintas transportasi air, perahu bermesin (kelotok) bagi penduduk setempat. Tetapi air sungai Kelayan juga menjadi kebutuhan utama bagi warga setempat, baik untuk mandi, mencuci hingga buang hajat.

Lantas bagaimana yang dirasakan warga Kelayan sendiri selama ini? Ketua RT 13/RW 02, Kelayan B Gang Cempaka, Kelurahan Kelayan Barat, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Nur Aida (54), ketika diwawancarai koranbanjar.net, Rabu, (3/3/2021) menuturkan, dia menjadi Ketua RT menggantikan suaminya yang sejak dua tahun lalu, yakni Irwansyah (54).

Dia mengaku, kehidupan sehari-hari tinggal di Kelayan B cukup nyaman. Warga setempat, menurutnya, menggunakan air sungai untuk aktifitas mandi, mencuci, dan keperluan lain. Padahal warga di sana sudah memiliki saluran air bersih dan kamar mandi (wc) masing-masing di dalam rumah. Tetapi penduduk lebih memilih ke sungai untuk keperluan sehari-hari.

Ketua RT 13 Kelayan B, Nur Aida.(foto:koranbanjar.net)

“Alasannya, hemat dan sudah terbiasa ke sungai, karena lebih puas menggunakan air,” ungkapnya.

Nur Aida menambahkan, dulu memang tidak ada leding, semua penduduk bergantung pada air sungai. Sungai Kelayan yang dulu kotor, sekarang lumayan bersih. “Tidak ada takut dengan diare atau lainnya, semua aman-aman saja,” ucapnya,

Dia mengakui pula, banyak jamban (WC Umum) bertengger di bantaran sungai, tetapi semuai sudah biasa. “Itu hal yang biasa, karena air adalah sumber kebutuhan utama,” katanya.

Sementara itu, Nur Aida berharap kepada Pemko Banjarmasin, sekarang warga Kelayan B banyak yang mengalami banjir dan membutuhkan bantuan. “Setiap sore air sering naik dan tengah malam baru turun itu, berulang-ulang kali. Selain itu, warga di Kelayan B, khususnya di lingkungan RT 13, banyak berprofesi sebagai buruh kasar. Saat pandemi ini mereka sangat kesulitan ekonomi, semoga ada bantuan dari pemerintah untuk warga yang kurang mampu karena dampak Covid19 ini,” tutupnya.(mj-33/sir)

NEWS STORY
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *