Kombes Pol. Dr. Faizal Ramdhani, S.Sos,. S.I.K,. MH

Kisah Pilu Penderita Kanker Tulang Asal Banjarmasin, Awalnya Cuma Terjatuh saat Main Bola

  • Bagikan
Hadiansyah dengan kondisi kaki makin bengkak akibat kanker tulang.(foto: medsos)
Hadiansyah dengan kondisi kaki makin bengkak akibat kanker tulang.(foto: medsos)

Kisah memilukan datang dari seorang anak penderita kanker tulang asal Kota Banjarmasin, Kalsel. Awalnya, cuma terjatuh saat bermain bola, namun sekarang dia hanya bisa tergolek lemah di atas kasur dengan keadaan kaki yang membesar dan cukup mengerikan.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Anak penderita kanker tulang ini bernama Hadi, usia 15 tahun. Dia merupakan salah seorang santri Pondok Pesantren Shafwanul Mustafa, di Desa Alimamar, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalsel.

Sebelumnya, keadaan penderita kanker tulang, Hadi viral di media sosial. Dalam postingan medsos, orang tuanya butuh bantuan dermawan untuk mengobati anaknya, karena tidak memilik biaya.

Berawal dari situ, reporter koranbanjar.net telah menelusuri tempat tinggal Hadi. Kemudian alamat Hadi atau Hadiansyah berhasil ditemukan, di Jalan Simpang Babagi Kelurahan Pengambangan RT 6, RW 2 Nomor 64 Kecamatan Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin.

Salah seorang warga setempat mengantarkan rerporter media ini ke rumahnya.

“Assalamualikum,” ucap reporter.

‘Waalaikum salam,” sahut seorang perempuan yang diperkirakan berusia 49 tahun dari balik pintu.

Reporter koranbanjar.net bertemu dengan kedua orang tuanya, pasangan Sahruji dan Rusliani.

Kedua orang tuanya mengawali cerita dengan menyebutkan, mereka memiliki 6 anak. Hadi adalah anak ke 5.

“Kejadiannya waktu mulai selesai banjir kemarin, kalau tidak salah bulan Februari. Saat itu anak saya (Hadi) jatuh dari main bola,” ujar Rusliani.

Lanjutnya, tulang tempurung lutut (Patela) pada kaki Hadi cedera cukup serius, tanpa membuang waktu seketika itu mereka membawa Hadi ke tukang urut (pijat).

“Kami bawa langsung ke tukang urut, sebanyak 3 kali kami bawa, namun tetap masih sakit,” katanya.

Akhirnya lanjut lagi Rusliani, atas saran tetangga, Hadi harus di bawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Lalu bulan Maret, Hadi yang merupakan santri di salah satu pondok pesantren Kota Intan Martapura ini dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin.

“Hasil pemeriksaan di laboratorium, kata dokter yang memeriksa itu, anak saya mengalami kanker tulang, seketika takajut ai (kaget) kami mendengarnya,” tutur Rusliani dengan mata berkaca-kaca.

Ketika ditanya apakah ada keluarga atau nenek, kakek yang menderita kanker, Rusliani menjawab tidak pernah terjadi dalam keluarganya.

“Soalnya, kami alhamdulillah selama ini tidak pernah terkena penyakit berat, jadi tidak pernah berobat ke rumah sakit, paling ke puskesmas,” ungkapnya.

Pasangan suami istri ini merenung, di benak mereka terpikir bagaimana membiayai pengobatan?

“Kami pun pasrah kepada Allah, kami obati anak kami dengan tamba kampung (pengobatan tradisional dan herbal),” katanya.

Namun hari kian hari, lutut kaki anaknya semakin membengkak hingga terus membesar. Syahruji yang hanya bekerja sebagai sopir bis dan Rusliani hanya sebagai perajut kembang telon ini merasa kebingungan, tidak tahu lagi cara mengobati penyakit kanker tulang anaknya.

“Atas usul warga, dan kawan abahnya (suami) keadaan anak kami lebih baik diviralkan di media sosial, siapa tahu kata kawan abahnya banyak yang membantu dan maras (kasihan),” tuturnya.

Awalnya sambung Rusliani, ayah Hadi, Syahruji menolak karena malu. Namun karena banyak kawan-kawannya yang memberikan pengertian dan semangat, akhirnya Syahruji bersedia.

Syahruji adalah seorang sopir bis lokal yang sudah puluhan tahun bekerja. Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, ekonomi keluarganya tercukupi.

Namun saat ini, akibat wabah Corona melanda Kalimantan Selatan, pekerjaan mulai tidak stabil, secara perlahan penumpang bis pun makin sepi, hingga perusahaan bis itu mengistirahatkan para sopir.

Pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sudah kembang kampis, morat marit cari usaha lain pun dilakukan, namun penghasilannya tidak sebesar bekerja sebagai sopir bis.

“Syukurnya ada kawan abahnya meminjami tanah pahumaan (sawah), jadi daripada tidak ada pekerjaan, terpaksa kami bahuma (menjadi petani). Aalhamdulillah lumayan aja dari sebelumnya, tanyaman (enak) sedikit bahinak (bernafas),” ungkap Rusliani kembali dengan mata berkaca-kaca.

Informasi terakhir yang didapat media ini, Hadiansyah sudah dibawa ke RSUD Ulin untuk menjalani pengobatan atas bantuan anggota DPRD Kalimantan Selatan dari Komisi III Fraksi Partai PDIP.

“Alhamdulillah kemarin Pak Rosehan (Rosehan Noor Bahri) yang membawa sekaligus membantu pengurusannya ke rumah sakit ulin,” katanya.

“Kami berharap mudah-mudahan anak kami cepas sembuh, supaya bisa ke pondok lagi, dan terima kasih Pak Rosehan atas bantuannya,” tutup Rusliani.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *