Kasus Asusila di Pondok Pesantren Banjarbaru Mendapat Citra Buruk dari Orang Tua

(Foto: Ilustrasi/kompas.com)

Kasus asusila atau dugaan pelecehan seksual sesama jenis yang terjadi pada salah satu Pondok Pesantren di Banjarbaru, mendapat citra buruk dari orang tua.

BANJARMASIN, Koranbanjar.net – Dari beberapa tanggapan orang tua di Banjarmasin yang berhasil dihimpun media ini, Senin, (26/2/2024).

Diantaranya salah satu ibu rumah tangga bernama Helda, mengaku sangat takut ketika mendengar berita tersebut.

“Takut jadinya ingin memasukan anak ke pesantren,” ujarnya.

Menurutnya, atas kejadian yang mencoreng identitas Pondok Pesantren dimana notabene membimbing akhlak dan belajar hukum islam secara benar ini, dirinya wajib selektif jika ingin memasukan anak ke Pondok Pesantren (Ponpes).

“Pokoknya saat ini rasa was-was, khawatir dan timbul kurang percaya terhadap kapasitas pesantren,” ucapnya.

Ibu rumah tanggal lainnya, Sri Wahyuni yang mengaku ke 3 anaknya bersekolah di Pondok Pesantren mengungkapkan, sangat miris dan kaget mendengar berita dugaan asusila di salah satu Ponpes tersebut.

Lanjut Sri Wahyuni mengatakan, seketika itu dirinya menghubungi ke 3 anaknya menanyakan di Ponpes mana kejadian itu.

“Namun alhamdulillah tidak terjadi di pondok pesantren anak saya,” ungkapnya.

Dirinya menyarakan untuk selalu berusaha berkomunikasi dengan anak ketika mereka menimba ilmu di Ponpes.

“Jika tidak bisa lewat telepon, bisa lewat surat titip sama ustad atau ustajahnya,” kata Sri Wahyuni.

Kemudian lanjutnya, siapkan anak untuk hidup mandiri, jangan mau ditindas dan komunikasi terbuka kepada orang tua dan guru.

“Ajarkan anak cara membela diri, dan cara melindungi bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh dan dilihat orang lain,” bebernya.

Tidak kalah dan sangat penting minta perlindungan dan penjagaan dari Allah, karena sebagai orang tua yang jauh dari anaknya.

“Minta allah jagakan dan peliharakan anak – anak saat jauh dari pandangan kita,” tuturnya.

Sementara Mahdaliana juga sebagai Ibu rumah tangga sangat menyayangkan kejadian dugaan pelecehan seksual itu harus terjadi di Ponpes.

“Semoga anak-anak kita selalu dilindungi Allah saat mereka jauh dari kita,” ucapnya seraya berucap amin.

Seorang santri laki-laki yang masih berusia 14 tahun, diduga mengalami tindak pelecehan seksual oleh kakak kelasnya sendiri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Banjarbaru.

Korban E (14) mengalami pelelehan seksual sebanyak dua kali selama mondok di ponpes tersebut, kurang lebih satu setengah tahun.

Hal itu terungkap setelah orang tuanya melaporkan kejadian itu ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Banjarbaru Jumat (2/2/2024).

CR (34) orang tua korban mengatakan, anaknya sudah dua kali mendapat dugaan pelecehan oleh kakak kelasnya sendiri.

“Dua kali kejadian pelecehan itu menurut anak saya, dilakukan oleh dua orang kakak kelas,” terangnya.

Tindakan pelecehan yang dilakukan oleh kakak kelasnya itu, disampaikan CR, berupa mencium dan disuruh memegang kemaluannya.

“Pelecehan dilakukan di waktu dan tempat yang berbeda. Tapi masih didalam lingkungan asrama ponpes,” ujarnya.

Saat mengetahui peristiwa tersebut, orang tua korban yang berada di Puruk Cahu Kalimantan Tengah, langsung menjemput anaknya di Banjarbaru dan melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib.

“Sebagai orang tua tidak mungkin diam saja mengetahui hal itu, saya langsung saja ke Banjarbaru dari Kalimantan Tengah agar anak saya aman,” ungkapnya.

Tidak hanya CR dan anaknya yang melapor, pihaknya juga membawa saksi dari kejadian pelecehan itu beserta orang tua dari saksi.

“Saksi ini melihat langsung kejadian pelecehan itu, jadi sengaja kami bawa saat melapor ke polisi.

Pelaku berinisial MRF akhirnya ditangkap oleh pihak Polres Banjarbaru, setelah melalui beberapa rangkaian pemeriksaan.

Pelaku MRF disangkakan pasal tindak pidana pencabulan anak di bawah umur, yang dimaksud dalam pasal 82 ayat 1 UU RI Nomor 17 Tahun 2016.

Pelaku diancam hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Saat ini Polres Banjarbaru sudah melakukan penahanan terhadap pelaku di rutan Polres Banjarbaru, sambil menunggu pihak penyidik melengkapi berkas untuk pelimpahan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

(yon/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *