Baznas

Ini Pesan Mendiang KH Salim Ma’ruf kepada Guru Khalil

  • Bagikan

-Haul ke 39 Pimpinan Ponpes Darussalam VI-

MARTAPURA – Walau hujan, namun tidak mengurangi kekhusyunya acara puncak Haul ke 39 Pimpinan Ponpes Darussalam ke VI, KH Salim Ma’ruf  yang di hadiri ribuan jamaah dari berbagai elemen masyarakat dan santri  di makam KH Salim Ma’ruf, Kampung Keramat, Kecamatan Martapura Timur, Senin Malam (20/11).

Selain masyarakat umum, hadir pula tentunya Bupati Banjar H Khalilurrahman yang tak lain putra mendiang KH Salim Ma’ruf, Wakil Bupati Banjar H Saidi Mansyur, mantan Wakil Bupati Banjar periode 2011-2016 H Fauzan Shaleh, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banjar H M. Iqbal dan Jajaran Kepala SKPD lingkup Kabupaten Banjar serta para Habib dan ulama.

Salim Ma’ruf  lahir di Kampung Keramat Kecamatan Martapura Timur tahun 1913, ayahnya bernama H. Ma’ruf bin H. Nafis asal Kampung Melayu Martapura. H. Nafis berasal dari Kampung Dalam Pagar Martapura, sedangkan ibu H Ma’ruf bernama Hj Asiah seorang perempuan dari Kampung Keramat Martapura.

KH M. Salim Ma’ruf memperdalam ilmu-ilmu agama dengan beberapa guru, antara lain, KH. Kasyful Anwar, KH. Abdurrahman, KH. Yusuf Jabal, KH. Marzuki, KH. Zainal Ilmi, Syech H. Abdul Hamid dari Yaman.

Di antara guru-guru beliau tersebut yang paling banyak dituntut ilmunya adalah pada KH. Kasyful Anwar. Ilmu yang dikuasai adalah Tafsir Alqur’an, Ushuluddin, Mantiq (Logika) dan Wifiq (rajah/wafaq) di samping ilmu lain yang dikuasainya.

Sifat dan pembawaan Almarhum KH Salim Ma’ruf dikenal selama memimpin Darussalam adalah kedisiplinannya yang keras dalam segala hal dan tegas dalam bersikap. Namun di dalamnya mengandung hikmah yang teramat dalam.

Beberapa karya yang pernah ditulis almarhum KH M. Salim Ma’ruf antara lain, kitab yang bernama “Al-I’lan” berisi Perukunan, Kitab Risalah Muamala, berisi pedoman jual beli dalam Islam, Kitab Qoulul Muallaq, berisi ilmu Mantiq atau Logika.

Kemudian, Kitab Hisnul Ummah, berisi amalan sehari-hari, dan Kitab Tashilul Murid fi limit-tajwi, yang berisi tentang ilmu Tajwid.

Pada 1973 keadaan fisik almarhum mulai menurun, tetapi almarhum selalu memaksa turun ke pondok untuk mengajar, walaupun dengan cara dipapah anaknya. Kemudian atas nasehat dokter, almarhum harus banyak beristirahat.

Kemudian kepemimpinan Pondok Pesantren Darussalam diserahkan kepada muridnya, yaitu KH Badruddin dan KH Abdus Syukur.

Acara Haul ke-39 KH Salim Ma’ruf diisi dengan pembacaan syair-syair Maulid Nabi Muhammad Saw dan tausiah, dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin, Tahlil.

Ditemui koranbanjar.net pria yang akrab di sapa Guru Khalil itu menceritakan tentang pesan dan kenangan bersama ayahanda.

“Bapak itu sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya,  terutama mengenai sholat lima waktu.  Sedang apapun anaknya jika sudah tiba waktu sholat,  harus sholat, ” ujar Khalilurahman.

Selain itu ia juga masih mengingat tentang pertanyaan ayahandanya kepada dirinya.

“Dulu beliau selalu bertanya,  mau jadi apa kamu nanti,  saya selalu jawab,  saya pengen jadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak,” ungkapnya.(sai) 

  • Bagikan