Bikin Bangga! Tas Rajut asal Banjarbaru Masuk 3 Penjualan Terbaik di Singapura

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banjarbaru, Vivi Mar'i Zubedi. (Sumber foto: Juwita/koranbanjar.net)

Sejak mengemban amanah sebagai Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banjarbaru, Vivi Mar’i Zubedi sangat fokus menggali dan mencari potensi besar yang bisa dikembangkan untuk Kota Banjarbaru, Jumat (3/9/2021).

BANJARBARU, koranbanjar.net – Berkatnya, Bhanjaru Bags yang merupakan sebuah produk baru tas rajut asli buatan pengrajin rajut Kota Banjarbaru dinyatakan lolos ekspor ke Negeri Merlion, Singapura beberapa bulan lalu.

“Sejak dilantik akhir Februari lalu, saya memang fokus sekali terhadap UMKM. Kebetulan saya expertise juga. Saya melihat memang potensial sekali,” tuturnya.

Kedatangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno di Kampung Purun Banjarbaru juga mendorong pelaku ekraf untuk melakukan vaksinasi agar bisa kembali produktif dan kreatif menjalankan bisnisnya seperti sediakala.

“Saya sangat senang sekali pada kesempatan tadi juga saya melaporkan kepada Menparekraf, bahwa kita menjadi top 3 best selling product Bhanjaruu Bags di Singapura,” ungkap Vivi.

Ia bersyukur, Menparekraf sangat mengapresiasi. Berharap, ke depannya Dekranasda Banjarbaru bisa maju dilirik pusat dan menaikkan taraf UMKM.

“Karena kalau dari kita sendiri baik di sektor food, fashion, art bahkan kerajinan mentahnya kita itu banyak sekali. Seharusnya jauh lebih maju dari sekarang, tidak hanya di Kalimantan Selatan (Kalsel) harusnya sudah nasional,” katanya.

Kata dia, dirinya sangat suka dengan kalimat kolaborasi. Purun ini menjadi salah satu kekuatan yang bisa dikolaborasikan dengan para pengrajin lainnya, diantaranya para pengrajin rajut dan sulam.

“Kita sedang menggalakan melalui workshop dan seminar rutin di setiap bulannya, untuk melatih para pengrajin ini menaikan standar produk sehingga bisa diterima tidak hanya nasional tetapi juga global,” terangnya.

Vivi menyampaikan, untuk food sendiri ia sedang fokus dengan pengenalan hak atas kekayaan Intelektual (HKI). Sebab, rata-rata 80 persen di Kota Banjarbaru produk foodnya belum terdaftar HKI. Sehingga, menjadi kendala jika ingin menjual ke luar karena tidak ada klaim mereknya.

“Kita harapkan dari semua sektor baik dari sektor legalnya, sampai kualitasnya kita perhatikan. Insyaallah, mudahan bisa diterima di pusat dan Menteri juga telah mengapresiasi dan mendukung kita untuk bisa memajukan UMKM Kota Banjarbaru,” pungkasnya. (MJ-37/YKW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *