Angkot Banjarmasin Tinggal Menunggu Waktu, Setoran Macet Berbulan-bulan

  • Bagikan
Angkutan Umum Kota Banjarmasin yang kian terpuruk di Terminal Induk Km 6 Kota Banjarmasin. (foto:kompasiana)

Sungguh sangat miris nasib yang dialami para sopir angkutan kota yang biasa disebut taksi kuning di Kota Banjarmasin, bahkan mungkin hanya tinggal menunggu waktu, angkutan umum ini bakal tergerus.

BANJARMASIN, koranbanjar.net – Sejak terjadinya wabah Covid-19 hingga saat ini, keadaan para sopir semakin memprihatinkan, penumpang kian hari kian sepi. Terlebih bulan suci Ramadan, apa yang mereka lakukan, jawabannya hanya pasrah dan berharap belas kasihan.

Seorang sopir angkutan umum Kota Banjarmasin, Rahmadi, warga Jalan Purnasakti sudah hampir 30 tahun lebih berprofesi sebagai sopir taksi.

Kepada media ini, Minggu (4/4/2021) dia menuturkan, kondisi taksi kuning sekarang semakin parah dari awal terjadinya pandemi Covid-19 hingga saat ini semakin terpuruk.

“Saat ini kehidupan sopir taksi kuning, keadaanya sangat miris, penumpangnya sangat jarang ada, bahkan hampir tidak ada sama sekali, paling banyak 3 sampai 4 orang, itu pun tidak setiap hari,” ungkapnya.

Parahnya, lanjut mantan Koordinator Sopir Taksi Kuning Pasar Hanyar ini, yakni munculnya angkutan gratis milik Pemerintah Kota Banjarmasin dalam hal ini Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin.

“Akibat adanya bis mini gratis ini, akhirnya penumpang taksi kuning hampir tidak ada lagi, tentu penumpang memilih gratis,” ucapnya.

Bis mini ini, terang Rahmadi, di Kota Banjarmasin tersedia kurang lebih 6 buah. Jurusannya ada dua, kilometer 6 dan jalur menuju Rumah Sakit Anshari Saleh.

Ingin memberontak melakukan aksi, niat ini sempat terbersit, namun katanya apalah daya, mereka tidak ada kekuatan melawan. Dirinya hanya berharap, supaya lekas dilaksankan PSU, agar bisa mengadukan keadaan nasib para sopir taksi kuning ini kepada Walikota.

Lebih kasian lagi, tuturnya, kadang-kadang kalau mau berangkat mecari penumpang, harus berutang dulu buat beli Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Kalau tidak pinjam atau ngutang, tidak akan bekerja, lantas makan apa anak istri, itupun sebagian kawan-kawan mobilnya ada yang menyewa, untungnya pemilik mobil taksi mengerti dalam situasi seperti ini, pembayaran sewa pasti macet bahkan ada yang tidak dapat membayar berbulan-bulan,” bebernya.

Pernah dijanjikan mendapatkan bantuan, berupa dana setiap bulan 100 ribu, diberikan selama 3 bulan. Bulan pertama dibayar 100 ribu. Ditunggu bulan berikutnya, kedua dan ketiga sampai sekarang sisa bantuan itu tak kunjung datang.

“Kami juga sudah pernah mengajukan proposal permohonan bantuan ke partai-partai, ternyata ditolak. Berharap paling tidak menjelang Ramadan ini ada dermawan memberikan bantuan kepada kami,” harap Rahmadi dengan lirih.(yon/sir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *