oleh

Andin Kunjungi Kampung Jengkol, “Ini Sangat Berpotensi Menjadi Wisata Kuliner di Kalsel”

Andin Sofyanoor, seorang pengusaha muda sekaligus politisi yang suka menggali potensi SDM dan SDA untuk berfikir ke arah yang lebih maju dan berkembang. Terlebih di kampung halamannya sendiri, seperti di Kabupaten Banjar, Kalsel.

Belum lama tadi, dia telah mengunjungi desa yang notabene masyarakatnya berprofesi sebagai pengrajin makanan khas Banjar, jengkol di Desa Pingaran, Kecamatan Astambul. Fakta ini membuat Andin Sofyanoor sangat terinspirasi, kelak menjadikan Desa Pingaran sebagai Kampung Jengkol yang bisa menjadi salah satu objek wisata kuliner di Kalimantan Selatan.

Andin Sofyanoor
Andin Sofyanoor

“Menurut saya, Desa Pingaran satu-satunya sebagai kampung pengolah makanan khas Banjar jaring —bahasa Banjar, red—(jengkol) di Kalsel. Desa ini sangat berpotensi menjadi destinasi wisata kuliner di Kalsel. Kalau desa ini dikelola dengan baik, ditata dengan baik, tidak menutup kemungkinan nanti menjadi salah satu sumber PAD Kabupaten Banjar,” ungkap Andin Sofyanoor ketika berdialog dengan pengrajin jengkol di Desa Pingaran Ilir, Kecamatan Astambul, belum lama tadi.

Dalam kesempatan itu, Andin juga menggali informasi dari para pengrajin jengkol tentang metode pemasaran, pendapatan, cara pengolahan, hingga mencicipi hasil pengolahan makanan jengkol.

“Luar biasa. Makanan khas jaring (jengkol) ini sangat enak. Saya suka sekali. Saya membayangkan, kalau makanan jaring ini dikemas lebih modern, kemudian dipasarkan lebih modern, maka akan jauh lebih meningkatkan pendapatan para pengrajin, bahkan para pengrajin bisa lebih sejahtera dari saat ini,” ungkapnya.

Makanan khas Banjar, jengkol.
Makanan khas Banjar, jengkol.

Sementara itu, pengrajin jengkol, Suryani memaparkan, sangat banyak warga setempat yang berprofesi sebagai pengrajin makanan khas jengkol. Dari 5 RT, ada tiga RT yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengrajin jengkol. Dalam tiga RT tersebut sekitar 20 warga yang menjadi pengrajin. Profesi tersebut menjadi profesi yang dikerjakan secara turun temurun.

Menurut Suryani, sejak dahulu hingga sekarang, makanan khas Banjar, jengkol dipasarkan hanya dengan cara konvensional. Dijual di pasar-pasar yang ada di Kabupaten Banjar. Antara lain di Pasar Astambul dan Pasar Martapura. Bahkan adapula yang menjual di tepi-tepi Jl A Yani, mulai desa Pingaran hingga memasuki wilayah pusat Kecamatan Astambul.

Sekadar diketahui, makanan khas Banjar, jengkol diolah menggunakan bahan dasar buah jengkol. Untuk mengolah jengkol hingga bisa dikonsumsi butuh waktu sekitar 8 jam atau satu malam. Jengkol dinikmati dengan penyedap rasa yang disebut tahi lala atau lala-an (nyiur yang digoreng dengan gula). Rasa jengkol yang siap makan terasa gurih disertai rasa lala-an yang lemak dan manis.(sir)

BACA JUGA 

Komentar

Dari Rubrik Pilihan: