Webinar Literasi Digital Tanah Bumbu; Cybercrime Menjadi Tantangan Bagi Masyarakat

Webinar Literasi Digital.
Webinar Literasi Digital.

Di era digital seperti saat ini, cybercrime menjadi tantangan bagi masyarakat. Untuk itu diperlukan sebuah kemampuan literasi digital agar masyarakat tidak mudah tertipu dan termakan jebakan oknum-oknum yang melakukan cybercrime.

TANAH BUMBU, koranbanjar.net – Literasi digital merupakan sebuah kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dan didapat dari sumber yang beragam yang berasal dari komputer (Paul Glister, 1997).

Masyarakat membutuhkan literasi digital untuk menghadapi perkembangan teknologi yang akan semakin maju dan tidak terbatas.

Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar webinar dengan tema “Cermat dalam bersosialisasi media dengan literasi digital” di Kabupaten Tanah Bumbu Selasa (24/8/2021) pukul 10.00 WITA. Acara dibuka Bupati Tanah Bumbu, dr. HM. Zairullah Azhar, M.Sc.

Yang menampilkan sejumlah pembicara yang berkompeten yang di pandu oleh Amal Bastian.

Amalia Permata Rizky sebagai narasumber pertama menyampaikan materi terkait budaya digital, yaitu Memahami Batasan dalam Kebebasan Ekspresi di Dunia Digital.

Dalam proporsi generasi digital masa depan ada 31.1 persen generasi Y per 2020 ditambah 29.6 persen generasi Z per 2035 yang diperjelas 143,26 juta orang atau 54.68 persen populasi Indonesia adalah pengguna internet 2017.

Pengguna internet berusia 19 sampai 34 tahun sebanyak 49,52 persen lalu 26,48 persen orang menggunakan internet lebih dari 7 jam perhari.

Sebanyak 07,39 persen orang menggunakan internet untuk mengakses perbankan serta 17,04 persen pengguna internet melakukan transaksi perbankan secara elektronik.

Adapun pengguna internet mengetahui adanya penipuan diinternet sebesar 83,98 persen dan 65,98 persen pengguna internet sadar datanya dapat diambil.

Dari Multikuralisme dan pluralisme menjelaskan, “pentingnya pemahaman keberagaman budaya dan upaya untuk menghargainya sebagai digital native, lalu mindfulness communication yakni Memiliki kemampuan berkomunikasi secara baik-simpati dan empati. Dan filter untuk berita bohong, ujaran kebencian, perundungan siber, black campaign, dan doxing,” bebernya.

Namun, The Death Of Expertise Era dapat memahami betul isi pesan yang diproduksi dengan sumber yang benar, kemudian partisipasi dan kolaborasi dalam menggunakan media digital serta selektif dalam memilih akun yang dikuti karena akan memengaruhi pola pikir atau asupan informasi yang diterima.

Webinar Literasi Digital Tanah Bumbu.
Webinar Literasi Digital Tanah Bumbu.

Dampak Minimnya Pemahaman

Bersosial Media yakni;

  1. Tidak mampu memahami batasan kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah pada segregasi sosial (perpecahan/polarisasi) di ruang digital.
  2. Tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital
  3. Tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi.

Berikut Aspek penting dalam membangun budaya digital dalam upaya cermat bersocial media adalah, “harus participation, remediation, bricolage dan growth mindset,” ujarnya.

Kemudian Fannisa Liviandra meyampaikan membahasan digital sexual harrassment, ia menyebutkan pelecehan juga didapati di dunia digital yakni pelecehan online.

“Jenis pelecehan online yang diterima tersendiri ada seperti julukan menyakitkan sebanyak 27 persen, olokan yang memalukan 22 persen, ada juga berupa ancaman fisik 10 persen, pelecehan terus-menerus 7 persen sama dengan stalking dan pelecahan seksual 6 persen,” tandas Fannisa dalam menjelaskan materi webinar.

Tindakan seksual yang dapat berupa sentuhan fisik maupun non fisik yang menargetkan organ seksual atau seksualitas korban.

Jenis-jenis sexual harrassment sendiri ada flirting, catcalling, disentuh atau diraba, sexual flavors dan private atau dirty jokes.

Kemudian pelecehan seksual apa disebabkan karena korban berpakaian terbuka dan ketat jawabannya, “ada kok yang pake rok dan celana panjang, yang memakai baju, lengan panjang, memakai hijab, baju longgar bahkan seragam sekolah juga ada,” terangnya.

“Ada 56 persen korban berani melawan pelaku pelecehan seksual, dan saat dilawan pelakun hanya bisa pura-pura bodoh atau mengolok dan mengumpat,” pungkasnya.

Adapun dampak yang dirasakan oleh korban yaitu trauma, rasa malu, takut, stress dan nyeri fisik. “Apabila sudah menjadi korban kita harus manfaatkan report atau lapor di sosial media, jangan dibalas, simpan tangkapan layar sebagai bukti dan laporkan dan cari bantuan KOMNAS PEREMPUAN (021) 3903963.(mj-40/sir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *