BNN

Webinar Literasi Digital Kabupaten Barito Kuala; Lawan Hoax Dengan Literasi Digital

  • Bagikan
Webinar Literasi Digital Batola.
Webinar Literasi Digital Batola.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengadakan webinar bertema “Lawan Hoax Dengan Literasi Digital” di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kamis (30/9/2021) pukul 10.00 Wita.

BATOLA, Koranbanjar.net – Acara dibuka Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Samuel Abrijani Pangerapan dan Bupati Batola Noormiliyani, ini menampilkan sejumlah pembicara kompeten.

Dipandu oleh moderator Shabrina Anwari, yang menghadirkan narasumber pertama Xenia Angelica Wijayanto dengan materi tentang ‘Etika Digital: Waspada Konten Negatif.’

Xenia mengatakan, digitalisasi itu ternyata bersamaan dengan semakin bebasnya informasi, akses terhadap informasi ini sangat mudah di dapatkan.

“Dan juga sekarang menjadi orang yang sedikit-sedikit handphone ya, menjadi jauh lebih tergantung terhadap gadget, karena saat ini informasi bisa dengan mudah kita dapatkan,” tuturnya.

Sisi negatif Kebebasan informasi yaitu;

1. Banyak informasi beredar banyak konten negatif beredar.

2. Kemajuan teknologi digital dan gawai yang semakin canggih dan mudah digunakan.

3. Kebebasan memperoleh informasi memang menjadi hak dasar manusia. Namun di dalam literasi digital, kebebasan tersebut harus bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan manusia.

Kemudian, perkembangan media sosial yang awalnya untuk mempererat hubungan antar pengguna, lalu mulai bergeser ketika ada pihak-pihak yang memiliki kepentingan ekonomi, politik dan SARA.

Webinar Literasi Digital Batola.
Webinar Literasi Digital Batola.

“Kepentingan tersebut membuat pesan-pesan di media sosial diwarnai oleh konten negatif, yaitu konsen yang dapat merusak hubungan antara pengguna,” ucapnya.

“Contohnya seperti, kita tidak akan merekam diri kita dalam situasi tidak pantas, karena hal ini akan beresiko tinggi bagi harkat martabat kita. Kita tidak mau melakukan itu karena sadar kita bisa berada dalam kesulitan yang dalam jika rekaman tersebut tersebar dan tidak bisa kita kendalikan,” pungkasnya.

Narasumber kedua Nuriman dengan materi tentang ‘Rekam Jejak Anda di Ruang Digital.’

Nuriman mengatakan, identitas digital adalah semua informasi yang anda masukkan, posting dan bagikan di internet. Membantu membentuk identitas digital anda.

“Di media digital kita bisa bersahabat mungkin dengan siapa saja dan dimana saja, tapi kita harus bisa mempertanggungjawabkan semuanya seperti, apakah itu baik atau tidak,” tuturnya.

Karena menyangkut rekam jejak digital tentu akan menyangkut identitas siapa yang memakai media sosial tersebut.

Maka dari itu dalam Bermedia Digital hendaklah menjadi lebih baik dan lebih kreatif serta berprestasi dan yang utama adalah berakhlak mulia.

selanjutnya, narasumber ketiga Bara Zulfa dengan materi yang tak kalah menarik tentang ‘Peran Penting Literasi Digital untuk Memperkenalkan Budaya Indonesia.’

“Tugas kita harus bangga dengan apa yang kita miliki saat ini, semuanya adalah menanamkan jiwa nasionalisme untuk melestarikan budaya yang telah ada sebelumnya, jangan takut atau malu untuk menggunakan bahasa daerah,” tuturnya.

Bara mengatakan, keanekaragaman di negara ini sudah ada sejak lama. Bhinneka tunggal Ika sebagai interpretasi bahwa Indonesia memiliki budaya beragam suku, agama, bahasa dan etnis. Kekayaan ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Literasi digital dapat membuat tatanan masyarakat dengan pola pikir serta pandangan yang kritis juga kreatif. Orang-orang ini tidak mudah termakan berita bohong atau isu yang dapat memecah belah bangsa,” tuturnya.

Ada banyak hal yang bisa di lakukan di sosial media termasuk membawa budaya Indonesia ke mancanegara.

“Memanfaatkan media sosial ini bisa menjadi banyak hal positif, kita balik lagi ke budaya lokal dan budaya luar bagaimana caranya teman-teman ketika kita saat ini menjadi generasi muda harapan bangsa dalam pertahankan dan melestarikan budaya kita,” ucapnya.

Bara menambahkan, perlu strategi khusus untuk mempertahankan budaya agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman, perlu adanya pemanfaatan teknologi untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke tingkat dunia.

Terakhir narasumber Arya Fitriadi dengan materi tentang ‘Tips dan Trik Jualan Online.’

Arya menuturkan, ada beberapa alasan kenapa kita harus melek berjualan online yaitu, pertama menurut survei asosiasi penyediaan jasa internet di Indonesia ini per tahun 2020 saja itu sudah ada sekitar 196.71 juta jiwa atau sekitar 73,7 persen.

Dari total penduduk yang ada di Indonesia sekitar 266.91 juta jiwa sudah menggunakan internet.

Bahkan ada dari anak-anak sampai kakek nenek sudah menggunakan internet, “tentu saja ini merupakan suatu peluang yang bisa kita manfaatkan untuk menjual suatu produk ataupun dagangan apa saja sekarang lebih luas,”

karena penggunanya di Indonesia tentang perubahan perilaku para pembeli di zaman sekarang maksudnya seperti apa Jadi sudah terjadi pergeseran terutama di masa pandemi seperti ini para pembeli itu yang biasanya ingin membeli sesuatu yang mereka inginkan

“Sebelumnya mereka masih nyaman berbelanja ke toko atau warung, namun sekarang ini mereka ternyata lebih nyaman berbelanja secara online,” tuturnya. (Jwt)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + 5 =