Baznas

Tak Ada yang Punya Harta, Meski Sebutir Gula

  • Bagikan
ILUSTRASI - Gula dibawa semut. (foto: istimewa)
ILUSTRASI - Gula dibawa semut. (foto: istimewa)

Oleh; Denny Setiawan

Kita tidak memiliki kebaikan sedikit pun, bahkan seumpama mengeluarkan sedekah seribu perak. Kita tidak pernah memiliki harta, meski hanya sebutir gula. Apalagi rumah mewah, perhiasan ataupun tanah yang luas.

Bahkan kita tidak pernah mempunyai ibadah yang disebut pahala, walaupun seberat timbangan debu. Apalagi “berkhayal” menebus syurga dengan pahala sholat.

Mengapa Demikian?

Sederhana sekali. Banyak orang yang “latah” mengucapkan La Haula Wala Quwwata Illa Billah” yang artinya: Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.

Lidah mereka menyatakan, tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan izin Allah, namun dalam kenyataan, mereka sholat seakan memperoleh banyak pahala dan bisa masuk syurga, mereka bersedekah memberi fakir miskin kemudian seakan berhak mendapat pahala supaya mendapat ganjaran masuk syurga. Padahal, di awal kalimat tadi, mereka menyatakan, “Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.”

BACA:  Enam Bulan Tutup, Kini Amanah Borneo Park Dibuka

Bukankah sangat jelas sekali, kita tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali dengan izin Allah. Lalu, sejak kapan bisa beribadah, bisa sholat atau bisa bersedah?

Lebih detil lagi. Makhluk hidup, termasuk diri kita, dapat melihat, berbicara, bergerak, berkeinginan hingga melakukan sesuatu karena adanya ruh yang dihidupkan.

Coba, kita kilas balik ke belakang. Makhluk diciptakan dari setetes air mani, INGAT hanya air! Belum ada darah, daging, tulang, urat, sumsum, rambut, otak, mata, hidung telinga, mata, kaki dan lain-lain. Semua belum ada, INGAT!

BACA:  Ketika Dzun Nun Al-Mishri Ditanya, Mengapa Menangis? “Obat Telah Menyentuh Penyakitku”

Lalu, air mani tadi berproses, berubah jadi darah, berbentuk daging, kemudian dikasih mata, hidung, telinga, lengan, kaki dan lain-lain.

Ketika sempurna, disebutlah dengan nama manusia. Itu pun masih seonggok tumpukan daging yang tidak bisa berbuat apa-apa. Satu ketika ditiupkan ruh ke dalam tubuh makhluk manusia tadi. Sampai akhirnya terlahir ke dunia. Ruh manusia itupun tidak pernah putus dari kendali Sang Maha Pencipta, sampai kapan dia “bersarang” di dalam jasad, dan kapan dia harus dikeluarkan dari jasad.

Selama ruh itu “bersarang” di dalan jasad, maka selama itupula si jasad bisa bicara, bisa menangis, bisa tersenyum, bisa bahagia, bisa sholat, bisa bekerja, bisa mendapatkan harta benda, bisa bersedekah dan lain sebagainya.

BACA:  Sejarah Singkat Tentang Habib Nuh Singapura, Mengubah Air Kelapa Menjadi Susu Untuk Bayi Miskin  

Begitu si jasad menjadi kaya dan punya harta, bahkan bisa ibadah, lantas berkata, ” Alhamdulillah saya bisa menunaikan ibadah sholat, semoga Allah memberikan pahala dan Allah membalas dengan surga.”  Adapula, membagi-bagikan harta, sedekah, seakan menjadi orang yang paling dermawan dengan minta balasan syurga.

Sejak kapan kalian mampu ibadah dan bersedekah? Sungguh hebatnya “mengklaim” perbuatan Allah seakan perbuatan kalian. Lebih parah, meminta imbalan. Wallahu ‘alam.(*)

 

(Visited 56 times, 1 visits today)
  • Bagikan
(Visited 56 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *