Syafi’i Menderita Gizi Buruk, Perut Membuncit, Begini Sakit yang sering Dialami

MARABAHAN, KORANBANJAR.NET – Sungguh menyedihkan sekali kondisi yang dialami Muhammad Syafi’i (8), warga Kecamatan Tabuganen, yang tinggal di Desa Simpang Nungki, Kecamatan Cerbon. Bocah yang masih bersekolah di TK ini didiagnosa menderita gizi buruk, yang dalam dunia medis disebut kwarsiorkor, atau bahasanya sederhananya kekurangan energi dan protein. Pergelangan kaki dan tangannya kurus kering, sedang bagian perutnya justru membuncit.

Ditemui wartawan banuapost.net (grup koranbanjar.net), Selasa (23/10) sekitar pukul 08:30 wita di ruang ICU RSUD H Abdul Azis Marabahan, anak keempat dari pasangan Herman dan Hasanah, yang sudah dirawat selama 8 hari ini hanya bisa terbaring lemah. Sementara di tubuhnya banyak menempel sejumlah alat medis yang terhubung dengan layar monitor.

“Alat itu gunanya untuk memonitor fungsi jantung, oksigen, nafas, dan nadi,” terang seorang petugas medis yang piket pagi itu, sembari menambahkan di dalam perut Syafi’i, disebutkan masih terdapat banyak cairan.

Ia mengklaim, kondisi Syafi’i sudah lebih baik ketimbang awal dirujuk ke rumah sakit. Mengerang kesakitan di perut, sudah tidak ada. Selain itu, mimik wajahnya sudah terlihat mulai ceria.

Sakit yang dideritai Syafi’i, diduga selain faktor ekonomi keluarga, bisa jadi lantaran ketidaktahuan tentang cara hidup yang sehat. Pasalnya, kejadian ini berulang setelah 2016 lalu, Syafi’i juga sempat dirawat selama satu minggu di rumah sakit yang sama.

“Saya sudah tujuh tahun bekerja sebagai karyawan di perusahaan perkebunan sawit PT PBB di Desa Nungki, Kecamatan Cerbon, yang tugasnya memanen sawit dengan penghasilan antara Rp1,5 juta sampai Rp2 juta,” ungkap ayah Syafi’i, Herman.

Menurut Herman, sebelum dirujuk ke rumah sakit, 15 Oktober lalu, putranya selama tiga hari di rumah terus mengeluhkan rasa nyeri diperutnya yang terlihat semakin membuncit.

“Setelah kami bawa ke klinik kesehatan di PT PBB, oleh bidan anak saya langsung dirujuk ke rumah sakit. Alhamdulilah sekarang Syafi’i sudah tidak mengeluhkan nyeri perutnya lagi,” terangnya.

Dengan keterbatasan biaya yang dimilki, Herman bersyukur karena biaya berobat anaknya sepenuhnya ditanggung oleh BPJS. Disinggung siapa saja yang datang menjenguk, isteri Herman, Hasanah, mengatakan hanya dari kepolisian.

“Ada dari bapak polisi (Kasatlantas Polres Batola, AKP Didik S, Red.) bersama wartawan tv yang datang kemarin siang. Beliau memberikan bantuan uang. Sedang yang lainnya sampai sekarang belum ada,” ucap Hasanah.

Cukup memperihatinkan, selama Syafi’i sakit dan dirawat di rumah sakit, kakak perempuannya, Shalihah, yang kelas IV SD, terpaksa harus libur sekolah.

“Semuanya kami berlima bermalam di sini, karena keluarga yang dekat juga tidak ada. Jadi kami lah yang harus menunggu. Di sisi lain, saya pun sementara tidak bisa bekerja, mudah-mudahan saja tidak jadi masalah di perusahaan,” kata Herman.

Menurut Direktur RSUD H Abdul Azis Marabahan, H Faturrahman, saat ini kondisi pasien sudah lebih baik dibanding dari awal dirujuk ke rumah sakit.

“Sekarang kondisinya jauh lebih baik. Yang membuat saya sedikit heran, kenapa dinas (Dinas Kesehatan) belum tahu infonya. Padahal ada petugas di lapangan yang melakukan survey, apalagi ini adalah kasus yang kedua,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, kalau pasien misal hendak dirujuk ke Banjarmasin, ya harus melalui dinas kesehatan. (rd/foto: rudy/banuapost.net/grup koranbanjar.net/sir)