Sungai Anjir, Primadona Jalur Sungai yang Terlupakan

BATOLA, KORANBANJAR.NET – Sungai Anjir yang membentang dari sungai Barito Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel, hingga Kota Palangkaraya, Kalteng, dulunya adalah sebuah jalur sungai yang selalu digunakan masyarakat untuk menuju Kota Kapuas, Palangkaraya atau Banjarmasin.

Namun seiring berjalannya waktu, sungai kebanggaan masyarakat yang pernah menjadi urat nadi transportasi air di zamannya ini secara perlahan kini mulai berangsur terlupakan.

Setelah diresmikannya Jembatan Barito dan Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Provinsi Kalsel dengan Kalteng pada tahun 1997 silam, kapal-kapal yang dulunya sangat ramai lalu-lalang setiap hari melintasi Sungai Anjir, sekarang sudah sangat jarang ditemui.

Kebanyakan orang tentu jelas lebih memilih menggunakan jalur darat dengan pertimbangan waktu yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan melewati jalur sungai menggunakan kapal.

Salah seorang warga Kecamatan Anjir Pasar, Ilmi, menceritakan kepada koranbanjar.net, Sabtu (2/6), sekitar 20 tahun lebih sebelumnya, transportasi yang digunakan masyarakat untuk menuju Kota Kapuas atau Banjarmasin melalui Sungai Anjir adalah kapal atau transportasi umum berupa bus air.

“Karna dulu jalan raya besar masih belum ada serta sepeda motor dan mobil pun masih belum banyak,” katanya.

Kisah serupa juga diceritakan Gapuri, salah satu warga setempat yang rumahnya berada tak jauh dari Sungai Anjir.

“Sekarang lebih banyak kapal-kapal pengangkut saja yang melintas di sungai ini, seperti kapal  pengangkut kayu serta kapal pengangkut alat berat dan sejenisnya,” ujarnya kepada koranbanjar.net.

Hingga saat ini, Sungai Anjir sudah nyaris tak digunakan lagi. Perubahan zaman serta tingginya angka pengguna kendaraan bermotor di jalur darat yang didukung dengan keberadaan jalan raya, membuat Sungai Anjir tak lagi menjadi primadona jalur sungai pilihan masyarakat. (mj-014/dny)