Tak Berkategori  

Stok Beras Mencukupi, Bulog Tegaskan Tak Perlu Impor

Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso mengatakan impor beras tak perlu dilakukan karena stok di Bulog yang terdiri dari cadangan beras pemerintah (CBP) dan beras komersial mencapai 923.471 ton.

JAKARTA, koranbanjar.net – Dengan stok beras di angka tersebut, produksi beras dalam negeri diyakini akan mencukupi kebutuhan stok beras di Bulog. 

“Hari ini beras CBP kita ada 923.471 ton, dengan tambahan serapan 800.000 ton kemarin,” kata Budi dalam diskusi virtual, Kamis (25/3/2021).

Bulog pun akan terus melakukan penyerapan beras dari petani lokal. Bahkan, kata dia, Bulog telah menyerap 145.000 ton beras hingga awal Maret.

“Hari ini stok beras kita di seluruh Indonesia dari Bulog aman, dengan sekarang kami harus menyerap panen hari ini,” ucapnya.

Budi mengungkapkan impor beras hanya akan menyisakan masalah seperti yang terjadi pada 2018. Impor beras itu sampai sekarang menyisakan stok sebanyak 300.000 ton. “Hanya pekerjaan rumah sekarang, sisa dari beras impor sekitar 300.000 ton ini ada potensi rusak itu 160.000 ton. Kalau produksi dalam negeri aman,” ungkapnya.

Bulog juga yakin produksi beras nasional tahun ini akan surplus. Apalagi panen raya akan berlangsung hingga Mei 2021. “Saya ingin membuktikan sendiri bahwa produksi dalam negeri memang cukup. Saya memegang apa yang disampaikan oleh pihak Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pusat Statistik (BPS). Kalau saya tidak percaya. Terus saya percaya sama siapa? Karena itu negara,” tuturnya.

Sementara Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menyebut harga gabah kering panen (GKP) mengalami penurunan di bawah harga pokok penjualan (HPP) yang telah ditetapkan, yakni Rp 4.200 per kilogram. Harga GKP yang anjlok bahkan terjadi di 459 kecamatan, dan 85 kabupaten.

“Ini kami pantau dengan petugas di lapangan dilaporkan ke Jakarta, betul bahwa GKP itu sudah turun di bawah HPP terjadi di beberapa kabupaten,” katanya yang juga hadir dalam diskusi virtual tersebut.

Anjloknya harga GKP tersebut, lanjut dia, lantaran masa panen raya telah dimulai. Suwandi menyebut turunnya harga GKP dimulai pada 17 Maret 2021 di 310 kecamatan. Kemudian, pada 22 Maret, ada 501 kecamatan yang mengalami penurunan harga GKP. Akhirnya, pada 24 Maret 2021 turun di 459 kecamatan.

“Nah, ini kami pantau terus. Ini terjadi di daerah yang besar itu Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat,” sebutnya.

Kementan pun menyarankan agar pemerintah daerah dan pihak lain untuk menyerap gabah petani. Berdasarkan data Kementan, beberapa wilayah telah menetapkan rencana serap di antaranya Banten 35.000, Yogyakarta 74.775 ton, Jambi 8.000 ton, Lampung 25.000 ton, Sragen 17.580 ton, Karanganyar 15.000 ton, Boyolali 24.000 ton, Nganjuk 26.592 ton, Maros 2.000 ton, Indramayu 750 ton, Rembang 14.000 ton, Pati 16.000 ton, Barru 500 ton, Brebes dan Tegal masing-masing 11.000 ton.

“Ini bergerak di semua kabupaten dan kecamatan yang tadi (disebutkan) agar ada penyerapan dengan baik,” pungkasnya.

Berdasarkan angka sementara BPS pada 2021, luas panen padi periode Januari-April mencapai 4,68 juta hektar dengan taksiran produksi sekitar 25,3 juta ton gabah kering. Diperkirakan selama periode Januari-April menghasilkan beras sekitar 14,45 juta ton beras atau mengalami kenaikan sebesar 26,8 persen sekitar 3 juta ton beras dibanding tahun sebelumnya.

Merujuk data stok pangan dan potensi produksi beras nasional di 2021, stok beras nasional dinilai masih relatif aman dan tidak memerlukan impor dalam waktu dekat ini. (voa/dny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *