Baznas

Sosok Sereeem di Rumah Cokelat, Cocok buat Bacaan Malam Jumat Lho… 

  • Bagikan

BANJARMASIN – Siapa yang tak tahu dengan Rumah Banjar berwarna coklat di Siring Sungai Jl Piere Tendean, Banjarmasin ini? Keberadaannya –bersama dengan Rumah Anno- kini dijaga dengan baik oleh Pemerintah Kota Banjarmasin untuk melestarikan Rumah Adat Banjar. Sayangnya, rumah yang dibiarkan kosong -tanpa dihuni- tersebut, mengundang “penghuni lain” ke dalamnya.

Tengah malam, ketika wartawan Koran Banjar berjalan bersama dengan komunitas Pecinta Rumah Adat Banjar di Siring Sungai Jl Piere Tendean, kami merasakan ada yang ganjil dengan Rumah Adat Banjar Gajah Manyusu ini. Tiba-tiba saja, bulu kuduk dibuat merinding. Bau amis semerbak langsung menusuk hidung ketika kami membuka jendela rumah yang dibangun sekitar tahun 1930 itu.

“Bau amis ini memang dari awal ditemukan sudah tercium. Entah, mungkin di rumah ini pernah terjadi pembunuhan dulunya,” ujar Faisal Emron.

Wakil Ketua Pecinta Rumah Adat Banjar Tingkat Provinsi, Faisal ini juga mengabarkan kalau sebelumnya, di zaman Belanda, rumah yang berada di Saka Cina ini pernah dijadikan sebagai gereja. Hal itu dikuatkan dengan adanya mimbar di dalamnya. Namun dia tidak berani memastikan.

“Perlu penelitian lagi untuk memastikan itu,” ucap Bang Faisal –akrab dia disapa.

Wakil Ketua Sanggar Sesaji ini juga mengungkapkan ada hal lain dengan rumah tua ini. Dia menceritakan seorang temannya melihat sosok misterius di dalamnya. Sosok itu persis dengan sosok yang dia temui di mimpinya. Dalam mimpi itu, Faisal diminta untuk tidak mengungkapkan identitasnya.

“Dalam mimpi itu, dia tidak mau dibuka identitasnya,” kata lelaki berambut gondrong ini.

Setelah tercium bau amis, kami pun beranjak ke lain tempat, yakni ke bagian depan rumah. Di situ tidak ada lagi bau amis, yang ada hanya bau dupa.

Faisal pun melanjutkan ceritanya, ketika baru saja rumah itu dibeli dari pemiliknya, dia diminta pihak pemerintah untuk menaiki atapnya. Dari situ dia berkeyakinan bahwa orang yang membuat rumah itu adalah orang Banjar.

“Milik orang Cina, tapi yang bikin orang Banjar.”

Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Karena menurut adat Banjar, ketika seseorang membuat rumah, ada yang diikat atau di taruh di bagian rumah. Baik itu di atas bubungan atau melekat di tiang. Di antaranya ada mayang dan ketupat.

“Bayangkan, dari tahun 1930 daun ketupat itu tidak lapuk. Dan mayangnya pun ketika saya cium masih harum.”

Orang Banjar dulu tidak sembarangan dalam membangun rumah, lanjut Faisal. Ada motif-motif yang ditaruh di bagian rumah. Misalnya motif “lam jalalah” yang bermaksud penjagaan bagi orang yang berniat jahat dengan penghuni rumah. Motif buah nanas yang berarti pembersihan, agar orang yang berniat jahat yang ingin masuk ke rumah itu tidak kesampaian.

“Nanas itu kan biasanya dibuat sebagai alat pembersih Wasi (pusaka dari besi, red).”

Menurut Faisal, sebenarnya masih banyak rumah adat yang masih terjaga hingga kini. Sayangnya, oknum-oknum tertentu yang kurang teliti menganggap Rumah Adat Banjar telah punah.

“Kami punya data, dan telah mencari ke pelosok-pelosok Kalimantan Selatan,” ucapnya sembari menunjukkan foto-foto Rumah Adat Banjar tersebut.

Data-data itu sengaja disimpan para Pecinta Rumah Adat Banjar agar tidak “dicuri” oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Di antaranya mereka yang hanya peduli ketika menjabat (pemerintah), dan abai ketika tak lagi menjabat.

“Sudah susah-susah kami mencari dan mendata. Eh datang orang yang mengklaim bahwa dirinya lah yang telah berjasa,” tegasnya.

Pihaknya sebenarnya mau duduk bersama demi lestarinya Rumah Adat Banjar. Asalkan tidak ada “embel-embel” lain dibalik itu semua.(abn)

 

 

  • Bagikan