Simak Cerita Masriah Korban Dugaan Malpraktek Persalinan Bayi di RSUD Ulin Banjarmasin

Korban dugaan malpraktek persalinan bayi di RSUD Ulin Banjarmasin, Masriah dan Husaini (suami). (Foto: Leon/Koranbanjar.net)

Kasus dugaan malpraktek persalinan bayi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin, masih menjadi polemik di tengah masyarakat Kalimantan Selatan.

BANJARMASIN, koranbanjar.net Korban bernama Masriah (37) warga Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat, kepada media ini menceritakan kisah sebenarnya mengenai apa yang ia alami sebelum, dan sesudah persalinan bayi yang dikandungnya hingga lahir dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi cukup tragis.

Menurut penuturan Masriah ketika ditemui di tempat tinggalnya Rabu (8/5/2024), sebelum proses melahirkan di RSUD Ulin Banjarmasin, dirinya mengaku, sebelumnya rutin memeriksa kondisi perkembangan kesehatan bayi di Rumah Sakit Sultan Suriansyah Banjarmasin.

“Sebelumnya saya rutin setiap bulan memeriksa kesehatan bayi di Rumah Sakit Sultan Suriansyah, pada waktu itu dokter kandungannya namanya Dokter Risna,” ujar Masriah mengawali ceritanya.

Masriah menyadari posisi bayi dalam perutnya pada waktu itu dalam keadaan sungsang. Hal itu diketahui setelah dirinya menanyakan kepada Dokter Risna.

“Dok, kalau sampai melahirkan nanti tetap dalam posisi sungsang, apakah nanti bisa dilahirkan normal, terus kata Dokter Risna tidak bisa harus operasi,” tuturnya.

“Mengapa di RSUD Ulin berani-berani mengambil tindakan mengeluarkan bayi ulun dengan cara normal,” sambungnya.

Masih dikisahkan Masriah, saat tiba masanya mau melahirkan dan sudah keluar air ketuban, Masriah dengan rasa sakit di rahim yang sangat luar biasa, bergegas pergi dengan dipapah sang suami bernama Husaini (41) menuju Rumah Sakit Sultan Suriansyah yang beralamat di Jalan RK Ilir Kecamatan Banjarmasin Selatan.

Sesampai di RS Sultan Suriansyah, masuklah Masriah bersama suami menuju ruangan bersalin. Namun tiba-tiba salah satu petugas perempuan yang kebetulan jaga di ruangan tersebut berkata dengan nada ketus dengan mengatakan ruangan penuh.

“Maaf ruangan penuh kata petugas itu. Lalu ujar saya, itu ada tempat ranjang kosong karena saat itu sakit sekali rahim. Tetapi ia (petugas) bilang itu bukan untuk pasien. Pian ke ulin (RSUD) aja atau ke Sari Mulia. Lalu ia menyarankan ke Ulin katanya di sana lengkap sudah ada dokter anaknya,” ungkap Masriah

Semestinya Masriah berharap diperiksa terlebih dahulu untuk penanganan pertama, karena saat itu dirinya merasakan sakit di rahim (kontraksi) disamping air ketuban sudah keluar.

“Baru setelah itu dirujuk ke RSUD Ulin, tetapi ini ulun dibiarkan begitu aja disuruh ke ulin tanpa diberi obat atau diperiksa. Dalam keadaan sakit yang sangat ulun berjalan keluar tertatih-tatih bersama suami untuk menuju ke ulin,” kisah Masriah.

Kemudian lanjutnya lagi, beranjaklah Masriah bersama suami pergi ke RSUD Ulin di Jalan Ahmad Yani KM 2,5 Banjarmasin. Setelah tiba di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalsel ini, Masriah langsung diperiksa tensi darah.

“Memang tensi ulun naik kala itu karena sempat jadi pikiran nasib kami nih dilempar kesana kemari. Yang disini menolak bagaimana tidak naik darah 200 langsung, tetapi per 100 bukan per 130 seperti yang diberitakan,” bantahnya.

Setelah dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), barulah Masriah merasa tenang dan tekanan darahnya mulai turun, 175.

Sebelumnya, Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan RSUD Ulin Banjarmasin Dr Samuel Tobing menegaskan, bayi dalam kandungan Masriah telah meninggal lebih dulu sebelum dikeluarkan.

Namun kenyataannya Masriah membantahnya. Dirinya menyakinkan bayi dalam kandungannya tidaklah meninggal melainkan masih ada detak jantung sang buah hati.

“Awalnya diperiksa di perut bagian kiri memang tidak ada detak jantungnya. Lalu diperiksa di bagian kanan tiba-tiba ada detak jantung anak ulun bahkan terdengar nyaring sampai-sampai petugas yang memeriksa itu terdiam sejenak sambil mendengarkan detak jantung anak ulun itu,” bebernya sambil menunjukan alat detak jantung bayi yang ia beli.

“Sebelum melahirkan sudah beberapa kali alat ini ulun digunakan dan detak jantung anak ulun masih ada, dibilang meninggal itu bohong,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan dikatakan petugas persalinan, kala itu sudah memberikan penjelasan tentang risiko melahirkan dalam keadaan demikian meskipun hanya secara lisan.

Lagi-lagi hal ini dibantah Masriah. Dirinya mengaku sama sekali tidak ada meminta persetujuan kepada pihak keluarga maupun kepada suaminya. Diungkapkannya, petugas itu hanya mengatakan bayi ini sudah sungsang dan kakinya mau keluar, tetapi belum keluar masih di muka kemaluan. Dan dokter muda itu tanpa mengetahui nama itu mengatakan ini tidak bisa operasi dan lahir tidak menangis.

“Ulun kira tidak menangis itu hidup aja karena anak ulun yang pertama lahirnya tidak menangis juga,” kata Masriah diiyakan sang suami yang duduk disampingnya.

Dalam proses persalinan itu, Masriah mengaku hampir pingsan karena dirinya disuruh ikut membantu menekan perut, agar sang bayi dapat segera keluar.

Membuat miris dan menyayat hati, dirinya tidak sadar jika buah hatinya sudah keluar dengan kondisi tanpa kepala.

“Ketika ulun bangun dan duduk melihat anak ulun lahir tengkurap tanpa kepala, kepalanya hilang ya Allah, terdiam tanpa kata-kata. Serasa lidah kelu tak bisa berkata-kata lagi, hati dan pikiran sudah tidak karuan rasa,” tuturnya lagi.

Hampir-hampir dirinya pingsan, namun sang suami Husaini menguatkan dirinya untuk tetap sabar dan tabah menerima cobaan ini.

Kepala dan tembuni bayi itu masih tertinggal di rahim Masriah. Petugas persalinan berjibaku berusaha mengeluarkan kepala dan tembuni bayi itu. Namun sungguh menyedihkan, tangan para perawat secara bergantian keluar masuk di rahim perempuan ini.

“Sakit sekali pak ai ketika tangan mereka itu mengobok-obok rahim ulun, padahal kan ada vakum kenapa tidak menggunakannya, kalau tau ini tidak bisa walau dipaksa,” sesalnya.

Menurutnya kalau sudah tidak bisa harusnya gunakan secepatnya vakum, jangan dipaksakan menggunakan tangan dan anehnya Husaini disuruh keluar.

“Padahal ulun suaminya yang harus mendampingi istri dalam keadaan seperti ini,” ucapnya .

Bahkan suami istri ini menganggap pelayanan yang diberikan sangatlah tidak ramah dan kasar. Disaat kondisi Masriah masih dalam keadaan sakit rahim akibat jahitan.

“Tanpa perasaan petugas persalinan hanya memberikan waktu satu hari nginap di kamar. Malam minggu ulun masuk, hari senin ulun disuruh pulang,” ungkap Masriah lagi menyambung kata-kata suaminya.

Lebih tak berperasaan tambah Masriah, ucapan petugas persalinan yang menanganinya sangatlah kasar dan tak ramah.

“Ulun disuruh harus kuat, dilarang duduk jangan berbaring. Ulun bilang Ulun masih sakit karena jahitan. Lalu kata petugasnya menyahut itu biasa aja, pokoknya sangat kasar. Harusnya mengerti bagaimana perasaan seorang ibu kehilangan anaknya dalam keadaan tragis,” sesalnya lagi.

Bukan hanya cara proses persalinannya yang kasar. Pasca melahirkan, dan rahim Masriah harus dijahit. Namun sangat disayangkan jahitannya pun al hasil asal-asalan.

“Kami tidak terima atas nama keluarga. Kami menunggu itikad baiknya dari pihak rumah sakit. Kalau ingin lanjut kami pasti akan lanjutkan ke tingkat hukum, jika tidak kami menunggu itikad baiknya,” tegas ayah Masriah.

Masriah dan pihak keluarga menyakinkan apa yang disampaikan bukanlah mengada-ngada atau rekayasa.

“Apa yang ulun dan suami sampaikan adalah kisan sebenarnya tidak ada untungnya kami mengada-ngada toh anak kami sudah tiada,” demikian kisah Masriah.

Kasus dugaan malpraktek persalinan bayi di RSUD Ulin Banjarmasin saat ini sedang dalam proses penyelidikan Polresta Banjarmasin. Pihak RSUD Ulin Banjarmasin pun menunggu proses hukum tersebut.

(yon/rth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *