oleh

Sejarah Berdirinya Kabupaten HSS Masa Penjajahan

Pada 2 Desember 2019, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) genap berusia 69 tahun. Hari itu diperingati dengan berbagai pesta dan pertunjukan budaya.

Bagaimana asal-usul berdirinya Kabupaten tersebut di 1950 lalu? simak ulasannya.

Muhammad Hidayat, Kandangan

Pada puncak peringatan Hari Jadi (Harjad) Ke-69 Kabupaten HSS, Ketua DPRD HSS Akhmad Fahmi memaparkan riwayat singkat berdirinya Bumi Antaludin -julukan Kabupaten HSS- sejak kolonial Belanda hingga menjadi sebuah kabupaten seperti saat ini.

Riwayat berdirinya Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) terbagi dalam 3 masa; penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan.

Pada masa kolonial Negeri Kincir Angin kala itu, wilayah Kabupaten HSS merupakan bagian dari Afdelling Van Hoeloe Soengai, yang pusatnya berkedudukan di Kandangan.

Sejarah Berdirinya Kabupaten HSS Masa Penjajahan
Ketua DPRD Kabupaten HSS, Akhmad Fahmi saat berpuidato di Harjad Ke-69 Kabupaten HSS, Senin (2/12/2019) (foto: kominfohss)

Afdelling Van Hoeloe Soengai merupakan wilayah kesatuan, sekarang disebut Hulu Sungai atau Banua Anam.

Afdelling Van Hoeloe Soengai terdiri dari 5 onder afdelling, yaitu Onder Afdelling Tanjung, Onder Afdelling Amuntai, Onder Afdelling Barabai, Onder Afdelling Kandangan, dan Onder Afdelling Rantau.

Pada masa kolonial Jepang, pemerintahan tentara Jepang tetap mempertahankan pembagian wilayah di Hulu Sungai, seperti masa penjajahan Belanda.

“Hanya sebuatannya yang diubah dalam bahasa Jepang,” ungkap Fahmi.

Di masa penjajahan negara Matahari Terbit itu, Afdelling Van Hoeloe Sungai namanya menjadi Hoeloe Sungai Ken, dan pejabatnya disebut Hoeloe Soengai Ken Reken.

Pun demikian nama bagian wilayah Onder Afdelling menjadi Bonken, dan pejabatnya disebut Bonken Ken Reken.

HSS Masa Kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia (RI) 17 Agustus 1945, wilayahnya dibagi menjadi 8 Provinsi, sesuai sidang kabinet pertama 2 September.

Salah satu dari 8 provinsi tersebut adalah Provinsi Borneo, yang beribukota di Banjarmasin. Gubernur pertama ditetapkan adalah Insinyur Pangeran Muhammad Noor (Ir. PM Noor) yang namanya diabadikan menjadi nama bendungan di Riam Kanan, Kabupaten Banjar.

Undang-undang 22 tahun 1948 tentang pemerintahan daerah, belum dapat sepenuhnya dilaksanakan. Maka saat itu untuk sementara melalui keputusan Mendagri tanggal 29 Juni 1950 nomor c/17/15/3, wilayah Kalimantan dibagi menjadi 6 kabupaten administratif dan 3 swapraja.

“Salah satunya Kabupaten Hulu Sungai dengan ibukotanya Kandangan,” lanjut Achmad Fahmi menceritakan.

Berdasarkan keputusan Gubernur Kalimantan 14 Agustus 1950 no 1186/OPB/92/14, ditetapkan peraturan sementara tentang pembagian daerah otonom kabupaten dan setingkat kabupaten.

Kabupaten yang semula bersifat administratif pun terang Fahmi, telah menjadi kabupaten otonom.

Pada April 1950, Dr Moerdjani diangkat menjadi Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) yang pertama.

Selanjutnya, pada 2 Desember 1950 Gubernur Kalsel melantik Syarkawi sebagai pejabat pertama Bupati Hulu Sungai. Serta dibentuk pula Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS), yang berjumlah 36 orang, diketuai Jantra dan wakilnya Basuni Taufik.

“Tanggal (2 Desember 1950) inilah yang menjadi pancangan tonggak sejarah ditetapkannya hari jadi kabupaten daerah tingkat 2, Kabupaten HSS,” tuturnya.

Pada kesempatan pemaparannya tersebut, Akhmad Fahmi mewakili seluruh anggota DPRD HSS mengucapkan selamat hari jadi ke-69 Kabupaten HSS untuk seluruh masyarakat.

“Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan dan kebaikan kepada Kabupaten HSS,” pungkasnya. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan