MTQ Nasional Kalsel

Petrus Saputra, Penjual Pisang yang Kini Terobsesi Mambangun Kampung Halaman

KOTABARU, koranbanjar.net – Perjalanan hidup yang dilewati seorang Petrus Saputra terbilang getir. Namun semua itu, tidak membuat sosok pemuda ini mudah menyerah. Bahkan dengan segala keterbatasan, pemuda dari Desa Sengayam, Kecamatan Pamukan Barat, Kotabaru ini, tak pernah berhenti memperjuangkan nasibnya hingga menjadi pemuda yang sukses.

Salah satu kisah perjuangannya dalam meraih sukses bermula menjadi seorang penjual pisang. Dia bolak-balik, Kotabaru – Martapura hanya untuk menjual pisang. Tidak jarang dia harus menanggung rugi.

Keuntungan yang di peroleh pun kadang tidak sesuai dengan ongkos transportasi, bahkan hanya cukup mengembalikan modal.

“Saya kerja dari awal SMA, kerja bisnis pisang. Berjual pisang dari kebun sendiri, kemudian dijual ke Martapura atau Banjarbaru,” ucapnya.

Sekitar 6 bulan ia bekerja bisnis pisang tersebut, lalu merantau ke Banjarmasin, bekerja selama 8 bulan sebagai agensi Frudential, itu pun pindah-pindah. “Waktu menjadi agen Frudential saya bergabung di Kampung Melayu Banjarmasin, kemudian pernah mengikuti kegiatan sampai ke Bogor,” ungkapnya.

Tidak berlangsung lama menjadi agen Frudential, lalu dia mulai bekerja di sebuah perusahaan dealer sepeda motor. Mulai itu, dia mendapatkan perubahan hidup.

“Saya juga pernah ikut kerja di PT Surya Prima Dealer Motor, sekitar 1 tahun menjadi karyawan di sana. Berhenti di sana, lalu bikin CV atau perusahaan di bidang transportasi,” ujarnya.

“Hidup itu kadang di atas, terkadang di bawah. Saya juga pernah tinggal di ladang atau hutan yang cuma beratapkan langit,” kenangnya.

Sesudah bekerja di perusahaan sendiri, bisnisnya terus berkembang. Hingga sekarang dia mengelola beberapa unit mobil transprortasi untuk bisnis ekspedisi. Berikutnya, manakala bisnisnya berkembang, oleh rekan bisnis dia diajak bergabung atau ikut berpolitik ke DPD Partai Perindo Kotabaru.

“Jadi sebelumnya saya tidak pernah bermimpi terjun ke dunia politik. Namun, karena bercita-cita membangun kampung halaman, saya memulai terjun ke politik,” terangnya.

Dari situlah dia termotivasi, kemudian masuk dalam dunia politik. “Memang saya memiliki pendidikan,  dan orang-orang di kampung pernah bertanya, siapa yang berani maju menjadi seseorang yang ingin membangun daerah. Nah sejak itulah, saya mengacungkan diri, meski saya dianggap masih berusia muda, namun dianggap sudah cukup dewasa,” ungkapnya (sir)