oleh

Pemprov Dinilai Payah, Tak Mampu Kendalikan Broker Ayam Ras

BANJARBARU, koranbanjar.net – Terkait dengan turunnya harga ayam broiler atau ras hingga mencapai Rp10.000 / per kilogram, Pengamat Hukum, Supiansyah Darham, SE, SH menilai, kondisi tersebut diduga karena adanya permainan dari broker. Ironisnya, permainan broker tersebut tak mampu dikendalikan dinas terkait dari Pemerintah Provinsi Kalsel.

“Sekdaprov Kalsel Abdul Haris Makkie mengatakan penjualan ayam broiler atau ayam ras dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan harga hingga Rp 10 ribu per kilogram. Ini disebabkan broker yang ada di Kalimantan Selatan hanya ada beberapa orang? Jadi mereka seenaknya memainkan harga ayam di pasaran,” demikian tegas Supiansyah.

Supiansyah Darham, SE, SH
Supiansyah Darham, SE, SH

 

Sementara saat hari-hari besar keagamaan, lanjut dia, broker-broker tersebut akan menaikkan harga ayam tersebut sesukanya. Sedangkan peternak kecil kalah modal dengan para broker ini. Payahnya lagi, Pempro Kalsel tidak berdaya menghadapi permainan broker-broker ayam ini,” ungkapnya.

Ketidakberdayaan Pemprov Kalsel, imbuhnya, dilatarbelakangi tak adanya payung hukum untuk melakukan tindakan terhadap broker-broker yang “nakal” tersebut. “Akibatnya, ya..usaha peternak-peternak kita tidak bisa berkembang. Saya mengamati, harga ayam ini sama dengan harga tiket. Bedanya kalau harga tiket, Menteri Perhubungan punya payung hukum untuk melakukan tindakan terhadap perusahaan penerbangan, terutama bila memainkan harga terlalu tinggi. Sedangkan dalam masalah harga ayam ini, pemerintah pusat tidak memiliki payung hokum,” pungkasnya.(sir)

Komentar

Berita Terkini